Harga CPO Tembus 5.000 Ringgit per ton, Minyak Goreng Berpotensi Tetap Mahal
Medan(harianSIB.com)Harga crude palm oil (CPO) pada akhir pekan kemarin ditransaksikan di atas 5.000 ringgit per ton, atau sekitar 5.018 rin
Medan(harianSIB.com)
Mantan Ketua Umum DPP Forum Kebhinekaan Indonesia Bersatu Ustadz Martono SPd SH meminta masyarakat Sumut jangan memilih lagi 30 orang anggota DPR RI asal Sumut pada Pemilu tahun 2029 mendatang. Pasalnya, tak satupun dari 30 orang tersebut perduli terhadap penderitaan masyarakat petani korban kesewenang-wenangan pihak PT TPL (Toba Pulp Lestari).
Persoalan masyarakat petani dengan PT TPL sudah lama terjadi dan sudah viral, mulai pelanggaran HAM sampai penganiayaan dan puncaknya aksi ribuan masyarakat menyerukan tutup TPL, Senin (10/11) lalu di depan Kantor Gubernur Sumut, Medan.
"Dari beberapa kali kejadian menimpa masyarakat petani yang lahannya bersinggungan dengan konsesi TPL sampai tak satupun anggota DPR RI yang bersuara menandakan mereka perwakilan masyarakat Sumut di Senayan," kata Ustadz Martono kepada wartawan, Rabu (12/11).
Bahkan kata Martono, pada rapat dengar pendapat Komisi 13 DPR RI, Ephorus HKBP, tokoh agama lainnya, pihak manajemen TPL dan kelompok pecinta lingkungan hidup, justru anggota dewan perwakilan Provinsi Aceh Muslim Ayub yang lantang menyatakan TPL merusak lingkungan di Tanah Batak.
Baca Juga:"Padahal ada tiga orang Sumut duduk di Komisi 13, salah seorangnya adalah pimpinan Komisi bahkan ada yang berasal dari Dapil Sumut 2 dimana gejolak paling parah antara petani dan TPL, tapi mereka diam saja," ungkap Ustadz Martono kesal.
Padahal kata Martono, yang memilih anggota DPR RI adalah rakyat. Sebelum duduk mereka berjanji akan membela hak-hak rakyat, kenyataannya ketika masyarakat bersinggungan dengan TPL para dewan tidak ada yang berempati dan memilih diam seribu bahasa. "Hanya anggota DPD RI Pdt Penrad Siagian yang bersuara membela masyarakat, selainnya tidak ada," terangnya.
Martono mengungkapkan, permasalahan lingkungan dan HAM menimpa masyarakat petani khususnya di kawasan Danau Toba, Tapsel dan Simalungun akibat TPL, Ephorus HKBP Pdt Dr Victor Tinambunan dan pimpinan gereja berbagai denominasi serta pastor berempati dan mengadvokasi masyarakat.
Hal itu sudah sangat wajar dilakukan Ephorus HKBP beserta pimpinan gereja lainnya. Karena yang jadi korban adalah mayoritas warga jemaat gereja. Sehingga para ulama harus hadir memberikan motivasi agar tidak larut dalam kesedihan.
Ustadz Martono sebagai ulama Muslim dan bukan orang Batak (Jawa), berempati kepada masyarakat korban kesewenang-wenangan TPL. Hal itu dibuktikannya hadir pada aksi tanggal 10 November di depan kantor Gubernur Sumut.
Dikatakannya, di dalam Al-Quran dilarang merusak lingkungan. Seperti tertulis dalam QS A-A'raf 7 ayat 56: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah KepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Alah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."
Menurut Ustadz Martono, PT TPL harus ditutup, pasalnya, sejak berdiri tahun 1983 ketika bernama PT Inti Indorayon Utama sudah merusak lingkungan. Justru setelah ganti nama menjadi TPL, kerusakan alam semakin parah.
"PT TPL telah mendatangkan bencana, waktu pohon ekaliptus ditanam, pihak TPL menebang hutan alam. Saat ekaliptus dipanen, terjadilah banjir bandang, sawah dan pemukiman rusak dan ada korban jiwa," tuturnya.
Diungkapkannya, TPL telah menghambat produktivitas pangan masyarakat, karena ekaliptus menyerap banyak air dan nutrisi dari tanah. Dengan menguasai 290.623 hektar di 12 kabupaten, TPL juga sudah merampas hutan adat, juga menyerobot 23.322 hektar tanah adat. Padahal di dalam UUD 1945 mengakui hak masyarakat adat.
Dia mendorong semua pihak terus berjuang sampai presiden menginstruksikan TPL ditutup. Tapi alurnya harus dari kepala daerah merekomendasikan kepada gubernur, lalu gubernur meneruskannya kepada presiden. Namun untuk bisa mencapai itu, tentu harus ada dukungan politik, para pemuka agama dan masyarakat harus mendapat pendampingan sampai bertemu dengan presiden.
"Kalau mereka berjuang sendiri tanpa pendampingan tokoh Sumut yang ada di pemerintahan pusat dan legislatif maka sulit terwujud. Seharusnya kementerian lingkungan hidup melihat langsung kerusakan lingkungan dan Kementerian Kehutanan harus mencabut ijin konsesi. Karena dengan konsesi, kerusakan alam di kawasan Tapanuli akan semakin parah dan rakyat bakal makin sengsara," tegasnya. (**)
Medan(harianSIB.com)Harga crude palm oil (CPO) pada akhir pekan kemarin ditransaksikan di atas 5.000 ringgit per ton, atau sekitar 5.018 rin
Nias(harianSIB.com)Seorang warga Desa Hilizoi, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, Torozatulo Ndraha, berharap mendapat perhatian dari Pemerinta
Belawan(harianSIB.com)Satresnarkoba Polres Pelabuhan Belawan, meringkus seorang pria, S (44) warga Desa Bulu Cina, Hamparan Perak, dengan sa
Medan(harianSIB.com)Seorang pria yang belum diketahui identitasnya meninggal dunia setelah terjatuh dari sepeda motor ojek online (ojol) yan
Pematangsiantar(harianSIB.com)Malam minggu berubah menjadi mencekam di pusat Kota Pematangsiantar. Kebakaran besar melanda deretan ruko di J
Medan(harianSIB.com)Pasangan Bambang Sri Kurniawan dan Dicki Sihotang berhasil meraih juara umum Turnamen Domino yang diselenggarakan Forum
Medan(harianSIB.com)Pasar kendaraan elektrifikasi di Sumatera Utara mulai mendapat perhatian dari LEPAS. Brand kendaraan New Energy Vehicle
Medan(harianSIB.com)Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan mendorong peningkatan pemahaman m
Medan(harianSIB.com)Penyaluran pupuk bersubsidi di Sumatera Utara hingga Juli 2026 terus berjalan, dengan pupuk NPK mencatat realisasi terti
Medan(harianSIB.com)Mayor Laut Faisal Mulia harus mengakhiri kariernya sebagai prajurit TNI setelah majelis hakim menjatuhkan vonis 10 tahun
Jakarta(harianSIB.com)Bareskrim Polri menyita sejumlah aset yang diduga milik Basri Lewaimang, bandar narkoba sekaligus pengelola tempat hib
Taput(harianSIB.com)Konflik agraria di Desa Hutatoruan VIII, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), masih menyisakan persoala