Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 03 Mei 2026

Arifin Putra Mencoba Bijak Filmnya Dicekal di Negeri Sendiri

- Jumat, 04 April 2014 15:57 WIB
1.004 view
Arifin Putra Mencoba Bijak Filmnya Dicekal di Negeri Sendiri
Jakarta (SIB)-  Sejak dirilis 28 Maret 2014, film The Raid 2: Berandal menghadapi kontroversi: menuai pujian dan pencekalan. Mulai dari Malaysia hingga negeri sendiri. Di Indonesia kritikan juga dilayangkan terhadap film besutan Gareth Evans tersebut.

Di Indonesia, produser film Firman Bintang menyebut Iko Uwais cs terlalu vulgar menunjukkan aksi kekerasan. Lantas, apa kata pemain The Raid 2: Berandal? "Kebanyakan orang selalu menanyakan pesan moral atau mendidiknya di mana. Padahal kan ada film yang khusus untuk menghibur saja, jadi film The Raid 2: Berandal ini orang akan dihibur selama 2,5 jam di bioskop," kata salah seorang bintang film The Raid 2: Berandal, Arifin Putra di Jakarta Pusat, Kamis (3/4).

Sementara mengenai pencekalan di Malaysia, Arifin mencoba lebih bijak. Aktor negeri tetangga itu menuturkan bahwa kritikan itu sebagai pujian terselubung. "Buat saya pribadi santai saja, kami anggap itu sebagai pujian terselubung. Kalau warga Malaysia santai saja, tetap bisa menonton di negara lain, karena hampir semua negara di dunia menayangkan film The Raid 2: Berandal ini," sambung Arifin yang memerankan tokoh Ucok di The Raid 2: Berandal.

Namun, aktor kelahiran Meinz, Jerman, 1 Mei 1987 itu mengaku sedikit kecewa dengan dilarangnya penayangan film nominator Sundance Festival 2014 itu. Apalagi, The Raid sudah memiliki penggemar masing-masing di tiap negara. "Ada sedikit kecewa, karena di Malaysia sudah ada fanbase. Hampir di setiap negara ada penggemarnya, makanya cukup disayangkan," kata Arifin sambil mengatakan kalau keputusan pencekalan tergantung setiap negara, LSF atau organisasi masyarakat, lembaga agama di situ, banyak alasan kenapa mereka cekal.

Menurut mantan finalis MTV VJ Hunt 2003 tersebut, jika memang penonton di Malaysia sangat ingin menyaksikan aksi Iko Uwais dan kawan-kawan dalam laga The Raid 2, Arifin menyarankan agar mereka datang saja ke Indonesia. "Kalau orang Malaysia segitu mau nontonnya, ya, udah tingggal ke sini, ke Singapura, Thailand, enggak usah repot. Sekarang tiket murah banyak, tuh," katanya sambil tertawa.

Arifin pun menyatakan bahwa sebaiknya sistem yang diterapkan dalam perfilman untuk sensor adalah jenis klasifikasi film. Lewat klasifikasi, penonton bisa menentukan tontonan sesuai dengan tahapan usia masing-masing. "Kalau sensor itu selalu subyektif, dari satu kepala saja pasti akan ada penilaian berbeda terhadap darah, kekerasan, pornografi, pornoaksi, enggak akan pernah sama. Setiap orang bakal kecewa," katanya seperti disiarkan Tempo.Co dan SCTV.

Di Indonesia, film The Raid 2 ini telah mampu mengantongi angka hingga kisaran 400 ribuan penonton dalam rentang waktu lima hari pemutaran. Sekuel pertama film garapan sutradara Gareth Evans, The Raid, sebelumnya juga meraih sukses. (t/r9/w)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru