Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 02 Mei 2026

Senandung 3 Wanita di Gunung Pusuk Buhit

- Selasa, 05 Agustus 2014 12:08 WIB
986 view
Senandung 3 Wanita di Gunung Pusuk Buhit
SIB/ist
Adolfina Elizabeth Koamesakh, Sotirya Tiozoisu dan Angela manalu
Samosir (SIB)- Tiga wanita — Adolfina Elizabeth Koamesakh, Sotirya Tiozoisu dan Angela Manalu — meniti jalan setapak pendakian di Gunung Pusuk Buhit, Samosir, 30 Juli - 2 Agustus 2014.

Tak hanya mendaki, menikmati dan menyelam dalam kearifan lokal di wilayah yang kental adat-istiadat tersebut, ketiganya pun membandingkan dengan daerah-daerah tempat pemuliaan Yesus Kristus dan lokasi suci Orthodox.

 â€œPada 6 Agustus, Gereja Orthodox memeringati Hari Pemuliaan Yesus yang dulu dilakukan di Gunung Tabor.

 Pada 1 - 15 Agustus, Gereja Orthodox memeringati Hari Bunda Maria. Menurut kebiasaan kami, Gereja Orthodox setiap kegiatan tersebut punya senandung pujian yang sudah ada pakemnya,” cerita Adolfina Koamesakh sambil mengatakan jika berada di Yunani atau di Turki tempat Tahta Suci Orthodox pada saat peringatan tersebut, diiring senandung pujian Gereja Orthodox maka warga membawa buah-buahan untuk diberkati.

“Sekarang di Yunani puncak panen anggur. Anggur tersebut diberkati untuk sesama!”
Adolfina Koamesakh mengingat perjalanan di Pulau Athos yang berada di antara Theksalonika, Yunani - Turki. “Perjalanannya mirip seperti pendakian di Gunung Pusuk Buhit itu.”

Adolfina Koamesakh tercatat satu dari sedikit perempuan cendikiawan Kristen Indonesia.

Sotirya Tiozoisu kini sedang kerja spesialis untuk mengambil profesional dokter dan Angela Manalu kini kelas 3 SMP PrimeOne School Medan.

Melantunkan sejumlah lagu yang jadi kidung madah bakti dalam tradisi Gereja Orthodox, perempuan dari Nusa Tenggara itu pun mengentalkan komitmen seluruh manusia untuk akrab dengan alam. “Beberapa tahun lalu, Samosir itu gersang. Pekanlalu kami mendaki di sana, hawanya tidak sejuk.

 Kami berharap semua orang memerhatikan wilayah yang disucikan warga setempat tersebut,” harap Adolfina Koamesakh.

Dalam Mitologi Yunani, menurutnya, khususnya  dewa-dewi Olimpus, ada 12 yang menekankan cinta lingkungan bersumber dari 17 dewa di antaranya Zeus, Hera, Poseidon, Ares, Hermes, Hefaistos, Afrodit, Athena, Apollo dan Arthemis. Dua daftar terakhir adalah Helios, Hestia, Hebe, Demeter, Dionisos, Persefone dan Hades. Hercules? “Heracles (atau populer di sebut Hercules) bukan dewa seutuhnya, melainkan manusia setengah dewa,” ujar Adolfina Koamesakh sambil menegaskan dalam filsuf modern, Plato pun mengajarkan keseimbangan kehidupan di bumi, antara manusia dan lingkungan.

Menyuguhkan sejumlah lagu yang bernuansa dan pakem Gereja Orthodox, perempuan familiar dan penggiat pelestari tenun etnik itu pun berharap semua pihak meneladani lingkungan sebagai terpenting dalam mengisi hidup. (r9/i)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru