Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Aransir Ulang Kidung Memuliakan-Nya PWGP

Redaksi - Rabu, 11 Maret 2020 19:21 WIB
302 view
Aransir Ulang Kidung Memuliakan-Nya PWGP
Foto SIB/Dok
Aransir Ulang: Ketum PWGP Pdm E M br Aritonang STh (nomor 7 dari kiri) bersama sebagian pengurus di antaranya Pdm Elis Parlin Situmorang STh (pakai topi) di jeda syukuran GP di alam terbuka. 
Medan (SIB)
Ketua Umum (Ketum) Persatuan Wanita (PW) Gereja Pentakosta (GP) Pdm E M br Aritonang STh menanamkan nilai religi dan etnik dalam kidung di lingkungan GP. “Zaman boleh berubah, semakin maju ditandai manusia semakin tak berjarak dengan teknologi tapi sebagai pribadi tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan terus memuliakan-Nya,” ujarnya di Medan, Senin (9/3), sekembali membawa rombongan besar dari perjalanan menyatu dengan alam.

“Kami berbaur dengan alam, refreshing tapi tak lepas dari memuliakan-Nya,” jelasnya didampingi pengurus PWGP seperti Pdm Elis Parlin Situmorang STh yang Ibu Gembala GP Sidang Mulyorejo Deliserdang, Ny MJ Sinaga dari GP Sicanang Belawan, Ny Ev Abel Sirait, Ny M Sitanggang, Humasy GP Drs Ev Abel Surait, Ir M Sitanggang serta sejumlah gembala jemaat dari Wilayah Sumatera Timur (Sumtim) II.

Pdm E M br Aritonang mengatakan, kidung-kidung memuliakan-Nya memiliki pakem sebagaimana yang sudah populer, baik di Kidung Jemaat atau yang terus mengiringi perkembangan gerejawi. “Tetapi Gereja Pentakosta adalah dinamis. Mengadopsi kidung-kidung dari lingkungan etnik dan syairnya digubah sesuai dengan nats gerejawi,” tambahnya.

Ia menunjuk sejumlah lagu yang berkembang di lingkungan tradisi tapi memiliki spirit memuliakan-Nya dan kemudian diadopsi menjadi nyanyian di intern GP. “Sama seperti lagu untuk anak-anak. Anak Sekolah Minggu pun harus dibentengi dengan syair lagu yang memuliakan-Nya secara penuh tapi harus membawa jati diri etnisitas,” tambah putri Bupati pertama di Sidikalang tersebut.

Ia menyarankan, Guru Sekolah Minggu mengadopsi visi misi gerejawi dan etnik dalam menumbuhkan cinta kasih dalam lingkungan gereja khususnya berdasar kasih Yesus Kristus yang diyakini sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari neraka. “Dalam lagu etnik yang memiliki kekayaan kearifan lokal, sudah dimuat hal-hal yang positif atau berseberangan. Hal tersebutlah yang diangkat oleh GP,” ujarnya.

Ketum PWGP pun menunjuk bahwa kegiatan yang dilakukan pihaknya kali ini sebagai puji syukur dan terima kasih keluarga besar GP atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Pematangsiantar yang menyatakan pemohon eksekusi atas Kantor Pusat GP di Jalan Lingga 24 A tidak dapat dilakukan. “GP yang didirikan Pdt Ev Lukas Siburian adalah satu dan utuh.

Dalam kupasan GP, permohonan eksekusi itu ditolak. Putusan itu membuat GP semakin kuat bersatu dan jemaat kembali beribadah dalam kebersamaan,” ujarnya sambil mengatakan putusan dimaksud sejalan dengan putusan PTUN 127 yakni mengembalikan seluruh hak pada GP yang berindukkan dan tunduk pada Ketua Pucuk Pimpinan (PP) Gereja Pentakosta (GP) Pdt Ev J Sihombing dan Sekjen PP GP Pdt J Simanjuntak STh,” tutupnya. (R10/q)


SHARE:
komentar
beritaTerbaru