Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026
Sukses Kolaborasi Budaya Eropa-Batak,

Henry Manik Ditantang Bawa ‘Kekayaan’ Lain ke Indonesia

- Selasa, 26 Agustus 2014 12:16 WIB
589 view
 Henry Manik Ditantang Bawa ‘Kekayaan’ Lain ke Indonesia
Tuktuk Siadong (SIB)- Hermann Delago Austrian Tobatak Orchestra sukses konser di The Tiara Convention Hall, Rabu (20/8). Di atas kesuksesan yang terjadi di ibu kota Sumut itu terpapar di Open Stage Tuktuk Siadong, Samosir, Sabtu (23/8). Bukan semata kesuksesan yang diinginkan tapi makna hakiki di balik konser yang mampu mengkolaborasi budaya Eropa-Batak. “Sukses pergelaran budaya, pemerintah berharap sukses mempromokan Indonesia, khususnya Danau Toba ke dunia,” ujar Wagubsu Ir HT Erry Nuradi MSi.

Lebih dari itu, Henry Manik sebagai Project Manager Hermann Delago Austrian Tobatak Orchestra diminta membawa ‘kekayaan’ lain dari Eropa ke Batak atau (kembali) mempromokan tanah leluhurnya ke Eropa, seperti saat menturkan Marsada ke Eropa hingga Amerika.

Harapan tersebut mengemuka dari para penggiat seni — seperti Andree Widiyanto, Rumondang Sitohang, Ayumi Rumbow, Alexander Simaremare, Harri Sunaryo Siallagan,  Dhae Simatupang, Anton Lois Fikal — yang memenuhi dunia maya pasca konser. 

Bahkan pimpinan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Unity Kiki Andrea mengaku kesuksesan konser tersebut menyupor anak-anak di sekolahnya. “Anak-anak kami termotivasi. Mereka latihan tortor menyambut tetamu asing dari Austria. Kemudian kolaborasi  ini karena mereka tak hanya diajarkan memahami ilmu formal tapi juga diajari prasarana lain seperti komputer dan keyboard serta kebudayaan leluhur,” tulisnya di Facebook sambil menunjukkan foto-foto anak asuhnya berbusana adat.

***
Pertunjukan di Tuktuk Siadong luar biasa meriah. Sehari sebelumnya, para musisi parade di jalanan hingga menarik simpatik  publik setempat. Tetapi, menjelang konser, Samosir dilanda hujan deras dan angin kencang. Tak hanya membasahi tapi open stage sempat tegenang hingga soundsystem pun ikut basah. Tetapi, setelah reda, warga datang berbondong. “Seperti hujan juga datangnya. Hahaha mauliate,” ujar Henry Manik.

Pertunjukan diawali Tortor Sigalegale dan disambut perkusi etnik yang dimainkan Viky Paulus Sianipar dengan mengedepankan gondang tagadingnya.

Hermann Delago yang dinanti pun naik podium yang langsung disambut antusias. Massa sekonyong-konyong hening ketika melodi Boasama Sai Marsak Ho membelai  telinga. Apalagi yang membawakannya adalah Tasha Koch. “Ini lagu saya belajar di kedai tuak dulu tahun 1997,” kata perempuan ramah yang berulos di pundaknya.

Hermann Delago mengomentari sukses penampilan artis top Austria itu sambil mengusap air mata. “Hah saya sampai menangis,” desisnya sambil mengaba agar musisinya melanjutkan.

Mengalunlah Butet. Meski lebih dinamis, bahkan sedikit ngerock, penonton mengaplus antusias. “Lagu itu saya kenal di Bali tapi saya selami di Samosir,” ujarnya dan mempersilakan Retta Sitorus, Eva Schatz, Tongam Sirait, Marsada menemaninya ke atas panggung.

Yang perlu dicatat dari Retta Sitorus, perempuan kelahiran Pematangsiantar itu menjadi bintang. Semua lagu yang diaransir ulang oleh Hermann Delago dilalapnya dengan maksimal. Mulai lagu Batak, tapi bukan lagu Ho Do Ito ciptaannya yang populer dibawakan dengan finalis Indonesian Idol Gido Hutagalung. “Nanti, jika Bang Viky Sianipar atau andai Henry Manik menggelar acara serupa, aku bawakan lagu Batak ciptaanku,” ujar Retta Sitorus yang juga punya album duet dengan Henry Manik.

Retta Sitorus bahkan sempat membikin jantung berdebar tatkala mengawali I Will Always Love You dengan nada tinggi. Tetapi perempuan yang kini studi master di USU itu mampu menyelesaikan dendangan yang dipopulerkan Whitney Houston dengan sempurna. Bahkan ketika bertrio — dengan Eva Schatz dan Natascha Koch — membawakan Nothing Compers to You milik Sinead O’Connors, November Rain yang dibawakan Axl Rose dari Gun N Roses dan lagu legendaris dari band asal Inggris The Beatles berjudul Hey Jude. Retta Sitorus pun menyuguhkan dua lagu Spanyol termasuk Folaro sambil bergoyang pinggul dengan personel termuda Hermann Delago Austrian Tobatak Orchestra.

Klimaks dari kegiatan adalah tampilnya musik etnik total dari Marsada dan Jajabi.

***
Mengenai harapan seperti judul di atas, Henry Manik, Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Sumatera Utara Marulitua Damanik, Lovely Organizer Michael Lumbangaol dan Dewi Juwita Purba dari DJ Organizer berusaha merealisir. “Kami minta dukungan dari semua pihak, tidak hanya doa,” tandas Marulitua Damanik. (r9/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru