Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Natal Haru dalam Di Doa Ibuku Didengar Gubahan Eliver Jhon Hutahaean

- Rabu, 24 Desember 2014 14:37 WIB
620 view
Natal Haru dalam Di Doa Ibuku Didengar Gubahan Eliver Jhon Hutahaean
Medan (SIB)- Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indoensia (GAMKI) Medan Area bikin acara blusukan kasih Natal yang dipusatkan di Gereja Pentakosta Sion Indonesia Bromo di Jalan Bromo Gg Sosial Medan, Selasa, (23/12). Audiensnya adalah ibu-ibu sepuh yang seluruhnya single parent. “Menjanda itu terhormat lho. Injil berulang kali menunjuk langsung bahwa ibu-ibu yang tidak punya suami adalah mulia,” ujar Ephorus Gereja Kristen Pentakosta  Pdt Eliver Jhon Hutahaean SH MMin didampingi Pendeta Gereja Pentakosta Sion Indonesia Bromo Medan Pdt W Togatorop.

Pendeta yang dikenal gaul itu pun mengaku tak ingin berkhotbah utuh — walau ditugasi oleh Ketua PAC GAMKI Medan Area Ev Antonius Sianipar — tapi kehadirannya ingin menghibur. “Bolehlah ya ketua,” ujarnya mengarahkan pada Ev Antonius Sianipar yang duduk berdampingan dengan Wakil Ketua GAMKI Medan Krisman Saragih, Sekjen GAMKI Medan, Boy Tampubolon SE, Ketua PAC Medan Kota Ronggur Daniel Manurung Amd dan MC Roy F Tanjung.

Mengalunlah lagu Di Doa Ibuku Didengar yang pertama kali dipopulerkan Nikita. Masih sebait dilantunkan Pdt Eliver Jhon Hutahaean, suaranya tercekat.

Ia terus mencoba mendendangkan syair tapi air matanya semakin menetes. “Maafkan saya. Lagu itu didengar oleh ibu saya yang juga janda,” ujarnya. Entah bermaksud bercanda atau tidak, yang pasti sebagian besar ibu di gereja itu ikut menitikkan air mata. “Itulah mulianya kaum ibu. Dan siapapun yang mendoakan ibunya, pasti ibunya senang, meski sudah di alamNya!”

Pdt EJ Hutahaean masih menyanyikan lagu lain seperti FirmanMu Berkata Bersertaku. “Itu lagu favorit saya. Dulu, ketika masih kecil dan remaja, belum ada lagu Di Doa Ibuku Didengar. Jika sudah ada, pastilah lagu tersebut menjadi favorit dan terus saya nyanyikan,” ujarnya sambil mengatakan di suia 5 tahun ayahnya sudah menghadapNya.

Sebab karena sekarang suasana Natal, ujarnya, lagu yang paling menghibur adalah Malam Kudus. Dengan suara pelan dan teratur, dilantunkan lagu tersebut. “Saya bersujud dan berterima kasih menjadi pendeta karena dapat mewartakan kabar suka. Padahal dulu saya diarahkan menjadi pegawai dan masuk menjadi birokrat,” kenangnya.

Pdt EJ Hutahaean lahir di Laguboti pada 4 April 1952 dari pasangan A Hutahaean - Ny Metha Pangaribuan. Menimba ilmu di SD 59 Medan namun kini sekolah tersebut sudah menjadi lokasi pusat bisnis Macan Yohan, melanjut ke SMPN3 dan SMAN1 Siantar serta masuk USU tapi selesai di FH UDA.

Masa kecil yang indah terampas karena ayahnya menghadapNya. Waktu itu ayahnya seorang terpandang dan militer. A Hutahaean seorang teknisi pesawat. Bahkan tahun 1940-an menjadi pejabat yang menyaksikan serah terima Bandara Polonia dari kolonial ke Republik Indonesia. Tahun 1956, tanpa ada sebab, orang yang dicintainya wafat. “Dunia saya seperti kiamat. Dibesarkan oleh seorang ibu yang janda,” kenangnya.

Saat ini, kerabat kandungnya, pun janda yakni Ny Simanjuntak Diana br Hutahaean yang bermukim di Perumnas Mandala. “Jadi, kehidupan saya diwarnai janda yang terhormat sesuai Injil,” tandas pria yang menikahi Ny Risma br Siahaan dan memiliki buah hati yang telah memberinya 6 cucu yakni Jimmy Hutahaean dengan br Sihite, Esther Hutahaean - Michael Rajawane dan Novelin Hutahaean - Victor Sitepu.

Dalam perjalan hidupnya, Nats Mazmur 91 : 14 - 15 menjadi sangat membekas karena menjadi pedomannya. Dengan nats tersebut dan pengalaman hidup dibesarkan single parent, Pdt EJ Hutahaean tetap mengenang perjalanan dan tetap ingin menghibur.

Dalam kapasitas sebagai ephorus, Pdt EJ Hutahaean telah menjalani hampir seluruh belahan dunia dan tetap mengingat jasa ibunya dan para ibu yang lain yang melahirkan dan membesarkan anak.

Saking larut dalam romanza cinta ibu, lagu Di Doa Ibuku Didengar tak diselesaikannya sebab, ya itu tadi... air mata! (r9/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru