Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Adolfina Koamesakh Angkat Sasando Eratkan Kearifan Lokal di Sumut

- Senin, 25 September 2017 21:50 WIB
1.186 view
Adolfina Koamesakh Angkat Sasando Eratkan Kearifan Lokal di Sumut
SIB/Dok
Lintasetnis : Cendikiawan Kristen Indonesia Dr Adolfina Elisabeth Koamesakh MTh MHum didampingi Dr Rosmawati Ndraha MTh dan Konsul Kehormatan Republica Democratica Timor Leste untuk Sumatera Irwansyah MBA yang mengapresiasi alumlus Marcellino De Carvalh
Medan (SIB)- Direktur Pasca Sarjana Saint Paul Theological School of Medan Dr Adolfina Elisabeth Koamesakh MTh MHum terus menggali kearifan lokal. Tujuannya, selain untuk mengeratkan silaturahim lewat komunikasi antarbudaya, juga demi peningkatan ekonomi. Sama ketika Wisuda XI Sekolah Tinggi Theologi (STT) Paulus Medan, Program Doktor, Magister dan Sarjana Sabtu (2/9) di Hotel Danau Toba. Di kegiatan bertema I'm Indonesian, I'm Christian tersebut dikedepankan kekayaan etnik.

Undangan termasuk keluarga alumni, diimbau mengenakan busana etnik. Ketika acara dilangsungkan, rupa-rupa kekayaan warisan leluhur mempercantik lokasi. Adolfina tak hanya membawa sasando, tapi lengkap dengan aksesoris kebudayaan.

Sasando adalah alat musik khas Nusa Tenggara Timur (NTT)  yang dimainkan dengan dipetik terbuat dari kayu lontar. Di wilayah Rote Ndao, sasando adalah akronim pasangan Jonas Cornelis Lun - Adolfina Elisabeth Koamesakh. Marcellino De Carvalho yang berdarah Timor Leste pun melengkapi kekayaan etnik Nusa Tenggara Timur dengan Ti'i Langga. Di kegiatan itu hadir Konsul Kehormatan Republica Democratica Timor Leste untuk Sumatera Irwansyah MBA yang mengapresiasi alumlus Marcellino De Carvalho.

Dr Irwanto Berutu MTh yang ketua panitia mengusung etnik Pakpak, Ria Sophia Manurung yang putri Pahotan  Manurung - Mardelina Br Siagian yang Ketua Patambor Belawan dengan etnik Batak Toba.

Dari Nias, sejumlah tokoh dan cendikiawan seperti Dr Rosmawati Ndraha MTh berbusana warna khas daerahnya. Hal serupa dilakukan Dr Rosiany Hutagalung MTh. Perempuan berdarah Batak - Ambon - Menado dan Tionghoa itu pun mengenakan busana khasnya. "Tetapi, ketika berbicara Indonesia, NKRI harga mati.

Kita melebur menjadi satu," ujar Adolfina Koamesakh sambil menunjuk tema yang ditetapkan Ketua STT Paulus Medan Pater Dr Chrysostomos Manalu MTh MM.
Adolfina Koamesakh mengatakan, apa yang dilakukannya adalah ejawantah dari keteguhan hatinya yang sudah mematri diri sebagai bagian dari Indonesia. "Sebagai orang beragama, ucapan harus sama dengan perbuatan. Saya berharap semua insan dengan pribadi terpuji pun harus demikian," harapnya sambil mengatakan dengan demikian maka Indonesia akan jaya dengan kekuatan dan kekayaan yang ada. (R10/f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru