Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

104 Komunitas Ikuti "Labuhanbatu Hammock Festival" untuk Selamatkan Mangrove di Seitawar

- Minggu, 22 Desember 2019 19:31 WIB
9.516 view
104 Komunitas Ikuti "Labuhanbatu Hammock Festival" untuk Selamatkan Mangrove di Seitawar
SIB/Dok
Seiberombang (SIB)
Seratus empat organisasi dan komunitas dari Kabupaten Labuhanbatu dan beberapa daerah lain di Sumatera Utara mengikuti Labuhanbatu Hammock Festival-2 (LHF-2) dengan misi untuk penyelamatan sisa hutan mangrove (bakau) di Dusun III Desa Seitawar Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhanbatu.

"Kegiatan LHF-2 yang berlangsung selama dua hari ini (14-15/12), itu selain menyelamatkan sisa hutan mangrove, juga untuk menunjukkan secara langsung kondisi sisa hutan mangrove Labuhanbatu yang sudah hancur serta tingkat abrasi di garis pantai Labuhanbatu yang sudah sangat kritis," sebut perwakilan komunitas lingkungan Perkumpulan Hijau, Muhammad Q Rudhy kepada wartawan, Rabu (18/12).

"Setidaknya berdasarkan dari data yang kami kumpulkan dari tahun 2014 hingga Desember 2019, darat Kabupaten Labuhanbatu di garis pantai ini (Dusun III Desa Seitawar) sudah hilang sekitar 35 meter akibat abrasi. Kondisi ini diperparah masih tingginya tingkat perambahan liar di kawasan itu, serta masih adanya alih fungsi kawasan hutan mangrove secara ilegal," katanya.

Masalah-masalah itu menjadi alasan digelarnya Labuhanbatu Hammock Festival kedua, langsung di kawasan sisa hutan mangrove tersebut, dengan tema besar: "Pesan Untuk Menteri Siti Nurbaya".

Rudhy yang juga salah satu inisiator LHF-1 tahun 2017 dan LHF-2 2019, menyebut LHF yang pertama kalinya digelar pada September 2017 di lokasi yang sama, mendapat sambutan cukup baik dari banyak pihak. Hal itu juga terlihat dari meningkatnya jumlah peserta LHF-2 yang bergabung secara sukarela.

"Tahun 2017, diikuti 43 organisasi dari Labuhanbatu serta beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Pada LHF-2 ini meningkat drastis menjadi 104 organisasi dan komunitas dari Labuhanbatu Raya beserta sejumlah organisasi pecinta alam dari Medan dan sekitarnya. Ada juga peserta dari perorangan yang jumlahnya puluhan," ujarnya.

Selain menanam mangrove, ungkapnya, peserta LHF-2 juga melakukan pembibitan mangrove dan kegiatan-kegiatan sosial untuk warga yang bermukim di sekitar kawasan hutan mangrove, dengan membagikan buku-buku, alat tulis, makanan ringan, susu untuk anak-anak dan beberapa kegiatan sosial lainnya, termasuk pembuatan videogram berdurasi satu menit oleh masing-masing peserta yang ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, sebagai bentuk protes tidak adanya upaya pemerintah menyelamatkan sisa hutan mangrove di Kabupaten Labuhanbatu.

Beratnya medan yang harus dilalui peserta LHF-2 akibat hancurnya akses jalan menuju lokasi kegiatan, justru dianggap sebagai tantangan.

Dia menambahkan, akses jalan yang hancur dan sulit dilewati akibat intensitas hujan yang cukup tinggi, ditambah adanya pengerjaan proyek pemerintah yang tidak mempertimbangkan kepentingan masyarakat umum, juga menyebabkan banyak peserta tertahan di jalan sehingga tidak sampai ke lokasi mengikuti kegiatan LHF-2.

"Jalannya sangat hancur sama sekali tidak bisa dilewati sepedamotor. Untuk ke lokasi kegiatan akhirnya sepedamotor kami tinggal di rumah-rumah warga Desa Sukajadi, dan perjalanan kami lanjut dengan berjalan kaki sekitar enam sampai delapan jam hingga ke lokasi kegiatan," ungkap Neny Agustina, peserta LHF-2.

Meski terkendala hancurnya infrastruktur jalan menuju lokasi, namun kegiatan Labuhanbatu Hammock Festival-2 itu bisa terlaksana dengan baik dan menyelesaikan agenda kegiatan yang disusun panitia bersama.

"Kita hanya bisa bersyukur, kegiatan yang tidak didanai oleh siapapun ini, baik pemerintah maupun swasta, bisa berjalan dengan baik meski pastinya ada kekurangan di sana-sini," ujarnya.

Seperti halnya LHF-1 dan LHF-2, tambah Rudhy, komunitas lingkungan ini akan melaksanakan LHF-3 tahun 2020 dengan konsep yang sama, kolektif, mandiri dan swadaya tanpa bantuan dari pihak manapun di luar peserta.

"Ini wujud dari sikap kita bahwa menunggu pemerintah menyelamatkan hutan kita di Labuhanbatu, sama saja dengan bermimpi," kata Rudhy. (BR6/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Jepang

Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Jepang

Tokyo(harianSIB.com)Gempa bumi kuat mengguncang pulau Hokkaido di Jepang utara, Senin (27/4/2026) pagi. Ini menjadi gempa terbaru dalam sera