Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 26 April 2026

Komunitas Seniman Bonsai Kelapa Pertama di Gorontalo

Redaksi - Sabtu, 05 September 2020 21:24 WIB
581 view
Komunitas Seniman Bonsai Kelapa Pertama di Gorontalo
Foto: Dok banthayoid Wawan Akuba
Bonsai kelapa yang dipajang di teras rumah warga.
Gorontalo (SIB)
Sudah bertahun-tahun, di sebuah desa di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terdapat komunitas masyarakat yang menggeluti hobi yang sama; mengkerdilkan pohon kelapa. Atau istilah umumnya bonsai kelapa.

Seni ini menciptakan kelapa besar yang hidup serupa di alam bebas, namun dalam bentuk kecil, dan menghadirkannya di teras rumah, bahkan dapat dipajang disudut ruang tamu sekali pun. Tak usah khawatir tiba-tiba buahnya jatuh menimpa kepala penghuni rumah. Sebab, tingginya memang tak sampai melebihi anak remaja.

“Jadi awal kami ini masih sendiri-sendiri membuat (bonsai kelapa). Beberapa ada yang sudah sejak tahun 2000, juga ada yang masih baru. Tapi ketika kami melihat banyak yang lantas mulai menekuni bonsai kelapa, makanya kami buat komunitas tahun 2018,” kata Achril Babyonggo, Ketua Komunitas Bonsai Kelapa Gorontalo (BKG). Kamis, (25/6).

Berjalan-jalan di teras rumah Achril, meski tidak luas, namun di setiap sudutnya dihiasi bonsai kelapa. Tak menoton modelnya, beberapa dibuat unik dan membikin kagum masyarakat yang awam dalam seni bonsai semacam ini. Beberapa ada bahkan yang dibuat akarnya memanjang dalam sebuah toples tinggi. Akar hitam berlumut yang menempel di sekeliling toples kaca menghadirkan nuansa seram serupa di laboratorium sains.

Komunitas BKG sendiri tak melulu tujuan bonsainya adalah membentuk sebuah miniatur kelapa besar, sebab beberapa anggotanya rupanya memiliki ide liar. Maka kelapa-kelapa ini pun dibuat menjadi bermacam-macam bentuk satwa. Semisal ada yang dibuat berbentuk burung hantu, burung bangau, bahkan ada yang sampai di cat hingga menyerupai lovebird.

Sebelum membentuk komunitas, Achy mengungkapkan bahwa memang sudah ada kira-kira lima orang yang memang sudah mahir dalam membuat bonsai kelapa. Nah dengan kemampuan itu, dan melihat belum adanya komunitas bonsai kelapa di Gorontalo, maka ia menginisiasi untuk segera membentuk komunitas. Agar menjadi rujukan untuk masyarakat lain yang juga ingin menggeluti hobi yang sama, atau justru sekadar melihat, mempelajari tekniknya.

“Allhamdulilah sekarang anggota komunitas ini sudah hampir 70 orang,” katanya.

Seni kerajinan kelapa semacam ini di Gorontalo semestinya memang tidak sulit, sebab hampir semua wilayah di Gorontalo, terkecuali di wilayah perkotaan, memang ditumbuhi kelapa. Makanya mudah jika butuh bahan bakunya. Namun berlainan dengan fakta itu, Achy sendiri mengaku cukup sulit mendapatkan bahan baku yang cocok dan sesuai selera.

“Memang kelapa di Gorontalo itu banyak, tapi yang cocok dan sesuai selera itu yang susah (didapatkan). Dan yang kedua yang menjadi kesulitan kami itu, karena sebagian bahan baku yang kami ambil itu kan sebagian besar kelapa buangan, jadi kelapa-kelapa yang kerdil, kelapa yang dibuang itu yang kami ambil untuk dibuat bonsai (dan itu yang sulit didapatkan). Jadi kami ini (menyebut diri) pemburu kelapa buangan,” curhat Achy.

Meski begitu, semua kerajinan yang dibuat oleh para anggota BKG ini memang tak melulu berhasil. Sebab, beberapa ada yang gagal tumbuh. Biasanya persoalannya pada cara merawat bonsai kelapa tersebut. Namun kelapa yang mati tersebut tak lantas dibuang. Dengan semboyan “Hidup Berguna dan Mati pun Bermanfaat” yang diusung oleh komunitasnya, maka kelapa-kelapa tak jadi ini pun tetap dijadikan kreasi untuk hiasan rumah.

“Jadi itu filosofi kami di komunitas ini (BKG). Kalau yang gagal ini dia mati. Kalau mati kita bisa bikin kerajinan dinding, kerajinan tangan. Asbak kalau batoknya. Jadi macam-macam,” katanya.

Lanjut Achy, meski hobi, namun banyak anggotanya yang lantas secara finansial terbantu dengan adanya masyarakat yang terpikat dengan hasil karya mereka. Sebab, karya-karya para anggotanya ini bahkan ada yang sudah mulai ditawari hingga 7 juta rupiah. Sedangkan paling murah itu ada yang bonsai kelapa yang masih dikisaran harga 50 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah.

“Itu yang harga 50 hingga 100 ribu rupah biasanya yang masih awal-awal dibuat. Jadi yang belum berkarakter. Namun kalau sudah berkarakter bisanya sudah mulai dipatok dari harga 2 juta rupiah (tergantung senimannya karena tak semua dilabeli harga),” ujarnya.

Untuk masyarakat yang berminat, Achy memberi tahu bahwa harga sebuah bonsai kelapa adalah tergantung dari keunikannya itu sendiri. Semakin tua namun semakin kecil, maka sudah tentu harganya mahal. Lebih daripada itu, bonsai kelapa sendiri memang bervariasi modelnya. Ada yang kecil namun berdaun panjang dan lebar, itu menurutnya tak begitu unik. Meski itu kembali pada persoalan selera. Saat ini, beberapa ada bonsai yang dipajang di rumah Achy yang menurutnya sudah pada bentuk yang sempurna. Sudah bentuknya kecil, daunnya pun kecil. Tak lagi menyerupai daun kelapa pada umumnya.

“Ini yang paling unik. Bonsai kelapa terkecil di Gorontalo setahu saya adalah ini,” tutup Achy, seorang seniman bonsai kelapa yang belakangan ternyata diketahui berprofesi sebagai seorang Camat di Kecamatan Tapa. (kumparan/a)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru