Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Menanda Tahun Budaya Adat Leluhur Pakpak Bharat

Redaksi - Sabtu, 27 Februari 2021 10:09 WIB
883 view
Menanda Tahun Budaya Adat Leluhur Pakpak Bharat
Foto: SIB/Mahadin Boangmanalu
YANG DITUAKAN: Yang dituakan duduk bersila, meminta kepada leluhur guna mendapat berkah dari sang penguasa, Sabtu (20/2) dalam acara Menanda Tahun bagi masyarakat Pakpak adalah upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat Pakpak menjelang musim t
Pakpak Bharat (SIB)
Menanda Tahun bagi masyarakat Pakpak adalah upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat Pakpak menjelang musim tanam di perladangan atau sawah dengan tujuan mendapat berkah dari sang penguasa alam. Acara ini rutin dilaksanakan oleh setiap persatuan marga dan pemilik Hak ulayat di tanah Pakpak. Salah satu yang rutin melaksanakan adalah “Sisada Rube Siennem Kuta Sitellu Desa” di Kecamatan Pergetteng-Getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat.

Puluhan warga khususnya tokoh-tokoh masyarakat dan Pemerintah berduyun-duyun mendaki ke arah puncak bukit. Mereka berdiri mengelilingi satu ukiran batu berwujud cicak yang dalam bahasa Daerah sering disebut “kelang” yang dipercaya sebagai perlambang para leluhur. Wujud kelang ini juga dipercaya sebagai penjaga tanah, memiliki sifat terpuji, yakni tidak mengganggu manusia bila tidak diganggu. Seorang yang dipercaya sebagai “sukut” yang dituakan duduk persis menghadap Kelang di bawah rimbunnya rumpun bambu. Sayangnya tahun ini berbeda jauh tahun sebelumnya, yang menurut panitia selalu dihadiri ribuan warga terkhusus Marga Manik yang biasa datang dari seluruh pelosok negeri. Tahun ini sengaja dibatasi undangan mengingat masa pandemi Covid-19.

Pantauan SIB, seluruh warga yang hadir patuh protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker serta berdiri menjaga jarak.

Seorang petugas memotong seekor ayam “gerrek-gerrekken” yang menjadi sarana penghubung dan mendapat petunjuk dari para leluhur. Gerak-gerik ayam diteliti secara seksama ole seorang yang ahli dan biasa melaksanakan ritual ini. Selanjutnya ayam “dilapah”, isi dan bagian dalamnya diteliti lagi. Semua petunjuk ini kemudian dijelaskan kepada khayalak, tentang jenis tanaman yang baik ditanam tahun ini, tentang alamat peruntungan bagi penghuni lebbuh dan para perantau dari lebbuh ini, tentang pantangan dan alamat baik dan sebagainya.

Sungguh sebuah ritual adat yang sangat langka, sakral dan sarat makna. Suatu ritual yang sangat perlu dilestarikan di bumi Pakpak. Pesan dalam dari upacara ini sesungguhnya adalah perlunya mejaga serta melestarikan adat leluhur yang telah dirintis oleh nenek moyang.

Acara ini dilanjutkan dengan makan pelleng bersama. Makanan khas Pakpak yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda ini disajikan kepada seluruh tamu undangan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pakpak Bharat Bambang Sunarjo Banurea MSi yang hadir mewakili Bupati Pakpak Bharat menyampaikan, bahwa pada prinsipnya pemerintah akan terus mendukung pelaksanaan ritual adat serupa. Ke depan mudah-mudahan setiap marga di Pakpak Bharat menyelenggarakan acara serupa demi lestarinya adat budaya leluhur. “Kami dari Pemerintah Daerah siap mendukung pelaksanaan kerja-kerja adat serupa ini,” ungkapnya di lokasi acara.

Wakil Ketua DPRD Pakpak Bharat Mansehat Manik yang juga merupakan tokoh marga Manik menjelaskan dukungannya sebagai seorang legislatif terhadap pelestarian budaya Pakpak. Dia juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah dan warga di sekitar lokasi Delleng Simenoto agar kawasan itu bisa ditata lebih baik lagi dan pada masa datang menjadi kawasan wisata di Pakpak Bharat. (K08/d)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru