Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 17 September 2026

Kapal Induk Bertenaga Nuklir AS Patroli di Semenanjung Korea

- Jumat, 20 Oktober 2017 21:19 WIB
255 view
Kapal Induk Bertenaga Nuklir AS Patroli di Semenanjung Korea
Seoul (SIB) -Kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat, USS Ronald Reagan melakukan patroli di perairan timur Semenanjung Korea. Misi ini sebagai pamer kekuatan laut dan udara yang dimaksudkan untuk mengingatkan Korea Utara agar tidak melakukan aksi militer apapun.

Kapal berbobot 100 ribu ton dengan kru sebanyak 5 ribu orang tersebut, berlayar sekitar 100 mil (160,93 kilometer), meluncurkan jet-jet tempur F-18 Super Hornet dari deknya, di depan pulau-pulau Korea Selatan (Korsel). Kapal perang terbesar Angkatan Laut AS di Asia itu melakukan latihan bersama Angkatan Laut Korsel, yang melibatkan 40 kapal perang.

"Perilaku berbahaya dan agresif oleh Korut membuat prihatin semua orang di dunia," kata Laksamana Muda Marc Dalton, komandan kelompok tempur USS Ronald Reagan seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (19/10). "Kami telah memperjelas bahwa dengan latihan ini, dan banyak lainnya, kami siap membela Republik Korea," imbuhnya.

Sebelumnya, pesawat-pesawat pengebom AS, B1-B juga telah diterbangkan ke wilayah Semenanjung Korea sebagai unjuk kekuatan terhadap Korut. Rezim komunis Korut pun mengancam akan menembak jatuh pesawat militer AS, setelah pesawat pengebom itu terbang di dekat wilayah Korut.

Sebelumnya Korut kembali melontarkan ancaman terhadap Amerika Serikat. Korut memperingatkan AS akan menghadapi serangan militer yang tak terbayangkan. Dalam pernyataan melalui kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA), Korut menyebut AS telah membawa target-target utama ke dekat mereka. Target yang dimaksud adalah aset militer AS yang kini ada di dekat Semenanjung Korea.

Salah satunya adalah kapal induk bertenaga nuklir USS Ronald Reagan yang ikut dalam latihan Angkatan Laut gabungan AS-Korea Selatan (Korsel) yang dimulai awal pekan ini. Sedangkan pesawat tempur AS, termasuk pesawat pengebom strategis B-1B Lancer ikut dalam Pameran Pertahanan dan Dirgantara Internasional Seoul.

Bulan lalu, rezim komunis Korut mengancam akan menembak jatuh pesawat militer AS, setelah pesawat pengebom B-1B terbang di dekat wilayah Korut. "AS mengamuk dengan membawa target-target yang kami anggap utama, di depan mata kami," sebut KCNA merujuk pada latihan militer gabungan yang digelar AS-Korsel. "AS boleh berharap bahwa mereka akan menghadapi serangan yang tak terbayangkan di waktu yang tak terbayangkan," imbuh KCNA dalam pernyataan berbahasa Inggris itu.

Ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Terutama setelah AS dan Korsel bersikeras menggelar latihan militer gabungan di dekat Semenanjung Korea. Korut menentang latihan gabungan itu dan menganggapnya sebagai latihan perang untuk menginvasi wilayahnya.

Pekan lalu, surat kabar Korsel, Donga Ilbo yang mengutip sumber pemerintah Korsel, melaporkan aktivitas pemindahan rudal oleh Korut. Menurut sumber itu, sejumlah citra satelit menunjukkan beberapa rudal balistik dimasukkan ke dalam kendaraan peluncur dan dibawa keluar dari hanggar yang ada di dekat ibu kota Pyongyang dan di Provinsi Phyongan Utara. Aktivitas ini membuat para pejabat militer AS dan Korsel mencurigai Korut bersiap meluncurkan rudal dalam waktu dekat.

Sementara itu para pemimpin Uni Eropa akan menuntut Korut mengakhiri program senjata nuklir dan rudal balistiknya. Tuntutan mereka telah dirumuskan dalam draf pernyataan akhir KTT Uni Eropa (UE). Draf itu disepakati oleh para menteri luar negeri UE yang berisi serangkaian sanksi terbaru yang melampui tindakan keras Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Pyongyang.

"Pemimpin (UE) akan memberitahu Pyongyang untuk meninggalkan program nuklir dan rudal balistiknya dengan cara yang lengkap, dapat diverifikasi dan tidak dapat dipulihkan," bunyi draf tersebut. Para pemimpin Eropa siap untuk mempertimbangkan tindakan lebih lanjut terhadap rezim Kim Jong-un yang berkuasa di Korut, tanpa merinci secara detail.

Sanksi terbaru itu akan dijatuhkan pula kepada negara-negara non-UE yang masih melakukan bisnis dengan Pyongyang. UE kini telah melarang penjualan minyak dan produk minyak ke Korea Utara. China dan Rusia telah menolak larangan ekspor mentah secara langsung. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru