Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 17 September 2026

Kerahkan 3 Kapal Induk, AS Dituding Ingin Picu Pecahnya Perang Nuklir

* Tentara Korut yang Membelot ke Korsel Ditembak 40 Kali
- Rabu, 15 November 2017 15:53 WIB
364 view
Kerahkan 3 Kapal Induk, AS Dituding Ingin Picu Pecahnya Perang Nuklir
Pyongyang (SIB)- Korea Utara menyebut kehadiran tiga kapal induk Amerika Serikat di Semenanjung Korea semakin mendorong kawasan itu ke perang nuklir. Korut juga menyebut ketiga kapal induk AS itu telah memicu situasi paling buruk di Semenanjung Korea.

Tiga kapal induk AS, USS Ronald Reagan, USS Theodore Roosevelt, dan USS Nimitz bersama kapal-kapal perang lain yang berukuran lebih kecil dan membawa pasukan serbu, telah menyelesaikan latihan militer gabungan selama empat hari di perairan antara Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Latihan itu berakhir pada Selasa (14/11) waktu setempat.

Ini menjadi momen pertama tiga kapal induk AS itu berlayar bersama di perairan Pasifik Barat dalam satu dekade terakhir. Ketiga kapal induk AS itu didampingi oleh sejumlah kapal perang Korsel dan Jepang dalam latihan gabungan ini.

Komentar Korut soal ketiga kapal induk AS itu disampaikan dalam surat kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres. Dalam surat tersebut, Duta Besar Korut untuk PBB, Ja Song Nam menyebut latihan gabungan itu memicu 'situasi terburuk yang pernah ada di Semenanjung Korea dan sekitarnya'.

"AS Kini mengacau melalui latihan perang dengan membawa perlengkapan perang nuklir di Semenanjung Korea dan sekitarnya, ini membuktikan AS sendiri sebagai pelaku utama dalam eskalasi ketegangan dan membahayakan perdamaian," demikian isi surat Korut untuk Sekjen PBB itu.

Dalam surat itu disebutkan, digelarnya latihan gabungan semacam itu membuktikan Korut sudah benar dengan membangun sistem pertahanannya. Dalam suratnya Dubes Ja menuding Dewan Keamanan PBB mengabaikan 'latihan perang nuklir oleh Amerika Serikat yang keras kepala dalam membawa bencana kehancuran untuk kemanusiaan'.

Dubes Ja juga meminta Sekjen Guterres untuk mengangkat masalah ini di depan 15 negara Dewan Keamanan PBB. "Bahaya yang diberikan oleh latihan perang nuklir AS, jelas-jelas mengancam perdamaian dan keamanan internasional," sebut Dubes Ja dalam surat itu.

Komandan Armada Pasifik AS, Laksamana Scott Swift, menyebut latihan militer gabungan ini merupakan penegasan komitmen AS untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Semenanjung Korea. Namun Korut tampaknya memandang setiap latihan militer AS sebagai ancaman besar.

Sementara itu militer Korsel memberikan keterangan mendetil terkait kondisi prajurit Korut yang ditembak karena desersi dengan menyeberang ke Korsel lewat Panmunjom. Panmunjom adalah kawasan di utara Provinsi Hwanghae, dan merupakan zona demiliterisasi antara Korsel dan Korut.

Militer Korsel menyatakan tentara desertir itu awalnya mengendarai mobil menuju Pamunjom. Namun, dia kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan setelah mobilnya mengalami kerusakan. Aksinya diketahui oleh tentara Korut yang menjaga zona demiliterisasi, dan melepaskan tembakan kepadanya.

Seoul mengatakan, prajurit itu ditembak sebanyak 40 kali, dan mencoba berlindung di belakang bangunan yang masuk ke dalam wilayah Korsel. Tentara Korut tersebut kemudian merangkak di antara rerumputan untuk menghindari tembakan, sebelum jatuh pingsan.

Juru bicara militer, Suh Uk menyatakan, saat ini kondisi desertir itu masih belum sadar. Selama operasi, dokter sudah mengeluarkan lima peluru. Namun, memprediksi masih ada dua peluru yang bersarang di tubuhnya. "Meski begitu, kami optimistis nyawanya bisa kami selamatkan," kata Suh Uk dalam keterangan resminya.

Menteri Pertahanan Korsel, Song Young Moo menyatakan ini adalah kali pertama militer Korut melancarkan tembakan di zona demiliterisasi yang masuk wilayah Korsel. Pernyataan ini disambut tanggapan dari parlemen Korsel bahwa rezim Kim Jong Un mencoba merusak traktat pasca-Perang Korea 1953 silam tentang adanya zona demiliterisasi.

Sejak Semenanjung Korea dibagi menjadi utara dan selatan, puluhan tentara Korut menyeberang ke Korsel melewati zona demiliterisasi yang berjarak dua kilometer. Tensi dari dua negara tengah meningkat setelah Korut terus mengembangkan nuklir menjadi senjata.September lalu, rezim Kim Jong Un menguji coba bom hidrogen yang diklaim merupakan senjata terhebat mereka. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru