Manila (SIB)- Rumah-rumah warga di Filipina hancur akibat terjangan topan Hagupit yang disertai hujan deras dan angin kencang. Nahas, sedikitnya 21 orang tewas akibat topan super tersebut. Topan Hagupit mulai mendekati Pulau Samar, Filipina pada Sabtu (6/12) malam dengan kecepatan angin mencapai 210 km per jam. Badan prakiraan cuaca setempat, Pagasa menyebut topan ini bergerak sangat cepat dari wilayah Samudera Pasifik sehingga membawa banyak air.
Sebagian besar korban tewas tenggelam ketika banjir melanda wilayah setempat akibat badai. "Kami memastikan laporan bahwa 21 orang tewas di wilayah Eastern Samar, sekitar 16 orang di antaranya tewas di Borongan," terang Sekjen Palang Merah Nasional Filipina, Gwendolyn Pang seperti dilansir Reuters, Senin (8/12).
Borongan merupakan kota utama di wilayah Eastern Samar yang pertama diterjang topan Hagupit. Lebih dari sejuta warga telah dievakuasi sebelum topan super ini menerjang pada Sabtu (6/12) lalu. Ratusan ribu di antaranya mulai berani kembali ke rumah masing-masing. Meskipun dilaporkan ratusan rumah warga rusak akibat topan, banyak pohon serta tiang listrik tumbang dan banjir masih melanda.
"Masalah kami sekarang ialah listrik, makan juga menjadi masalah karena kapal tidak bisa bergerak. Banjir sejak kemarin sehingga kami tidak bisa mencari makanan," tutur Walikota Jipapad yang masih dilanda banjir, Delia Monleon seperti dilansir dari Associated Press, Senin (8/12).
Kecepatan topan ini tercatat sebagai topan paling kuat yang menerjang Filipina sepanjang tahun ini. "Banyak rumah, terutama yang ada di area tepi pantai, yang terhempas angin kencang," jelas Wali Kota Catbalogan, Stephanie Uy-Tan. "Pepohonan dan kabel listrik bertumbangan, atap dari seng terbang terbawa angin dan banjir juga melanda," imbuhnya.
Filipina masih belum pulih benar pasca terjangan topan Haiyan pada tahun 2013 lalu yang menewaskan lebih dari 7.350 nyawa. Namun belajar dari pengalaman, otoritas Filipina menerapkan evakuasi massal jauh-jauh hari sebelum topan Hagupit menerjang.
"Kami melihat bahwa dengan persiapan dan waspada, kami mencegah terjadinya tragedi dan musibah, kami menjauhkan warga kami dari bahaya," ucap Menteri Dalam Negeri Manuel Roxas. "Memang menyedihkan mendengar laporan korban tewas, tapi jumlah ini sangat rendah, jauh di bawah jumlah perkiraan kami," tandasnya.
Dilaporkan ada sekitar 1 juta warga yang berhasil dievakuasi sebelum topan super menerjang bagian barat Filipina. Topan ini dilaporkan menghancurkan ratusan rumah warga setempat. Korban tewas termasuk seorang bayi perempuan dan seorang kakek-kakek yang meninggal akibat hipotermia. Diperkirakan, kecepatan topan Hagupit semakin lama semakin menurun saat mendekati wilayah Filipina bagian tengah. Tercatat pada Minggu (7/12) pagi, kecepatan topan Hagupit berkurang menjadi 170 km per jam, meskipun masih mengancam warga.
Dengan kondisi seperti itu, topan Hagupit tergolong lebih lemah dari topan Haiyan, atau yang disebut warga setempat sebagai topan Yolanda, yang pada tahun 2013 lalu menerjang Filipina dengan kecepatan hingga 315 km per jam.
"Kami belajar dari pengalaman Yolanda. Banyak warga yang kini sangat mendukung evakuasi. Badai ini memang lebih lemah, tapi pemerintah setempat dan pemerintah pusat tetap bersiap dan kini orang-orang mendengarkan perintah evakuasi. Ini berperan besar dari perbedaan jumlah korban," ucap juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Mina Marsigan kepada AFP.
(AFP/dtc/AP/R16/i)