Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 23 Oktober 2026

AS-Iran Kembali Saling Serang, Ketegangan di Selat Hormuz Memanas

Redaksi - Selasa, 30 Juni 2026 09:48 WIB
1.257 view
AS-Iran Kembali Saling Serang, Ketegangan di Selat Hormuz Memanas
Foto: via REUTERS/US Navy
Kapal induk AS luncurkan jet tempur untuk serang Iran.

Selat Hormuz(harianSIB.com)

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama pengiriman minyak dunia.

Konflik terbaru dipicu tuduhan Washington bahwa Iran menyerang kapal komersial berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, dengan menggunakan drone saat melintas di sekitar Selat Hormuz. Meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap memorandum kesepakatan yang disepakati pada 17 Juni 2026.

Sebagai respons, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Iran. Target yang diserang meliputi lokasi penyimpanan rudal dan drone, radar pantai, sistem komunikasi, infrastruktur pengawasan militer, pertahanan udara hingga fasilitas penebar ranjau.

Menurut CENTCOM, operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di jalur pelayaran internasional.

Baca Juga:
Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan pada 27 Juni 2026. Washington menyebut langkah itu diambil menyusul serangan drone terhadap kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, yang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah.

Pemerintah Amerika menyatakan Iran telah diberi kesempatan untuk mematuhi gencatan senjata, namun dinilai tidak mengindahkannya.

Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan operasi drone dan rudal ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain. Garda Revolusi Iran menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas aksi militer Washington.

Pemerintah Bahrain melaporkan terdapat kerusakan pada bangunan permukiman di sekitar Bandara Internasional Bahrain, namun tidak ada korban jiwa. Sementara Kuwait mengklaim berhasil mencegat dua rudal balistik sehingga tidak menimbulkan korban maupun kerusakan berarti.

Situasi di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia karena kawasan itu merupakan salah satu jalur distribusi minyak dan gas terpenting di dunia. Meningkatnya ketegangan membuat aktivitas pelayaran terganggu dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global serta kenaikan harga minyak.

Bagi Indonesia, termasuk Sumatera Utara, gejolak di Selat Hormuz berpotensi berdampak pada kenaikan harga energi dan biaya distribusi barang apabila konflik berkepanjangan memengaruhi pasar minyak dunia.

Di tengah meningkatnya eskalasi, upaya diplomasi masih terus dilakukan. Qatar dan Pakistan disebut berperan sebagai mediator. Amerika Serikat menyatakan delegasinya, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan menuju Doha untuk membahas penyelesaian konflik dengan Iran.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah adanya agenda pertemuan langsung dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat. Ia menegaskan delegasi Iran yang berada di Qatar tidak terkait dengan kunjungan delegasi Amerika.

Hingga kini kedua negara masih saling mempertahankan versinya masing-masing. Washington menyatakan operasinya bertujuan menjaga kebebasan pelayaran internasional, sedangkan Teheran menilai tindakan militer Amerika justru memperburuk situasi dan menghambat proses diplomasi.

Masyarakat internasional kini menanti perkembangan pembicaraan di Doha yang diharapkan mampu meredakan ketegangan dan mencegah konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Hakim AS Larang Donald Trump Batasi Suaka
Aksi Penembakan Brutal di Dua Kota Amerika Serikat, 4 Tewas
AS Peringatkan Semua Pelabuhan dan Asuransi agar Tidak Layani Kapal Iran
Cadev RI Naik Lagi, Darmin: Karena Partai Donald Trump Kalah
Perusahaan Amerika Serikat Suntik Modal PT INKA Rp 440 Miliar
AS Siap Jatuhkan Sanksi Terberat kepada Iran
komentar
beritaTerbaru