Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026

Yamantab Ajak Masyarakat Kelola Sampah Jadi Produk Bernilai Jual

Redaksi - Senin, 09 Oktober 2023 19:36 WIB
337 view
Yamantab Ajak Masyarakat Kelola Sampah Jadi Produk Bernilai Jual
(Foto: SIB/Dok Yamantab)
TUNJUKKAN: Ketua Yamantab Damai Mendrofa menunjukkan sejumlah produk hasil dari pengelolaan sampah di BSY, Kabupaten Tapteng, Minggu (8/10). 
Tapteng (SIB)
Yayasan Masyarakat Penjaga Pantai Barat (Yamantab) mengajak seluruh masyarakat mengelola sampah menjadi produk-produk yang memiliki nilai jual, sehingga sampah tidak hanya berdampak buruk, tapi memberikan dampak ekonomi.
Kepada wartawan melalui telepon seluler, Minggu (8/10) Ketua Yamantab, Damai Mendrofa mengatakan, pihaknya tetap fokus terhadap penanganan sampah, khususnya dengan menggalakkan pengelolaan melalui program Bank Sampah Yamantab (BSY).
Pihaknya juga menggalakkan soal perubahan perilaku tentang pengelolaan sampah, seperti memanfaatkan BSY untuk mengelola sampah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual.
Salah satu contoh katanya, sampah berbentuk sachet dilelola menjadi sejumlah produk bernilai ekonomi seperti keranjang belanja, tempat tisu, wadah botol air minum dan tas tangan. Dalam sehari, BSY mampu memproduksi 5-6 kerajinan tangan dalam sehari.
Untuk membuat tempat tisu, katanya, dibutuhkan 128 sampah sachet, untuk wadah botol air minum kecil butuh 150 sachet, sedangkan untuk keranjang belanja besar butuh 500 sachet. Dalam mendesain logo, pengepakan dan penjualan secara online melalui marketplace, pihaknya juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak.
"Pengelolaan sampah butuh komitmen kuat dan visi besar, mengedepankan prinsip pengelolaan yang baik. Bukan hanya memindahkan sampah ke tempat lain dan diabaikan begitu saja, karena dianggap tak bernilai. Sampah yang dibersihkan dari pekarangan rumah dan hanya dibakar, atau dibuang sembarangan ke parit, sungai dan laut, itu tidak bertanggung-jawab," ujarnya.
Masyarakat juga diminta bijak untuk mengurangi penggunaan kemasan wadah sekali pakai dan menggantinya dengan yang bisa digunakan ulang. Selain itu, masyarakat perlu membiasakan diri membeli sesuai kebutuhan, agar mengurangi potensi sampah yang dihasilkan.
"Pengelolaan sampah dimulai dari mengenali jenisnya, organik, nonorganik atau B3, lalu dipilah untuk dikelola. Sampah organik dikelola menjadi bahan kompos, untuk tanaman atau bunga di rumah. Sampah nonorganik silahkan dibawa ke bank sampah terdekat. Khusus B3, cari informasi dimana ada lembaga yang mengelola,” katanya.
Menurutnya, pemerintah belum serius melakukan penanganan atau pengelolaan sampah. Berbagai regulasi terkait sampah juga dinilai ibarat macan ompong di atas kertas, karena penegakan aturan masih belum terealisasi.
"Pemerintah harus memberi contoh mengelola sampah yang baik. Selama ini, mayoritas sampah dari kantor pemerintahan masih berakhir di TPA. Regulator sendiri belum memberi contoh, maka wajar jika penanganan sampah hanya seperti bicara konsep di atas kertas saja,” lanjutnya.
Dilansir dari databooks.com, Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, volume timbulan sampah di Indonesia pada 2022 mencapai 19,45 juta ton. Sisa makanan berkontribusi paling besar dengan 41,55 persen, disusul plastik 18,55 persen, dan sisanya sampah kayu, kertas, logam, kain dan lainnya. (**)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru