Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 09 Februari 2026

Tragedi Persalinan di Tapteng: Kepala Bayi Terputus, Keluarga Lapor Polisi, Dinkes Ungkap Kondisi Janin

Rosianna Anugerah Hutabarat - Rabu, 20 Agustus 2025 15:31 WIB
485 view
Tragedi Persalinan di Tapteng: Kepala Bayi Terputus, Keluarga Lapor Polisi, Dinkes Ungkap Kondisi Janin
(Foto: harianSIB.com / Rosianna Anugerah Hutabarat)
Irawan, Ayah dari korban membuat laporan ke Polres Tapteng, Selasa (19/8/2025).
Tapteng(harianSIB.com)

Peristiwa memilukan terjadi di Puskesmas Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, yang berujung pada laporan polisi. Seorang ayah, Irawan (44), melaporkan dugaan malapraktik setelah bayinya meninggal dunia secara tragis dalam proses persalinan pada Selasa (18/8/2025).

Irawan, yang merupakan pegawai di Bandara FL Tobing, secara resmi membuat laporan ke Polres Tapanuli Tengah pada Selasa (19/8/2025). Pihak kepolisian telah menerima laporan tersebut dengan nomor STPL B/421/VIII/2025/SPKT/RES-TAPTENG/POLDASU.

Kronologi Versi Keluarga

Kepada jurnalis, Irawan menceritakan detik-detik persalinan istrinya, VJ (38), yang didampinginya secara langsung. Menurutnya, proses awalnya berjalan seperti biasa dengan bantuan bidan berinisial NS dan beberapa perawat.

Namun, situasi berubah drastis saat proses pengeluaran bayi mengalami kendala. Irawan mengaku menyaksikan momen mengerikan ketika kepala bayinya terputus dari badan yang masih berada di dalam rahim istrinya.

"Waktu mau mengeluarkan badan si bayi, mereka (tenaga medis) memang agak kesusahan. Beberapa menit kemudian aku lihat kepala anakku sudah putus," ungkap Irawan dengan pilu.

Ia menambahkan, setelah kejadian itu, bidan sempat meletakkan kepala bayi di dekat kaki sang ibu sebelum akhirnya terjatuh ke lantai. "Kepala bayiku terpental ke bawah. Tidak lama kemudian dokter datang lalu mengeluarkan badan bayi dari perut ibunya," jelasnya.

Sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan, jenazah bayi tersebut disatukan kembali dengan cara dijahit oleh petugas puskesmas. Irawan menegaskan bahwa hasil Ultrasonografi (USG) terakhir di RSUD Pandan pada 4 Juli 2025 menunjukkan kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat.

Dukungan terhadap keluarga korban juga datang dari Kepala Lingkungan IX Kelurahan Pinangsori, Arik, yang turut mendampingi pelaporan. "Kami mau ada proses hukum terhadap oknum bidan dan korban mendapat keadilan," harapnya.

Klarifikasi Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah

Menanggapi laporan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tapanuli Tengah memberikan klarifikasi mengenai kondisi medis pasien dan kronologi tindakan yang diambil. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Tapteng, Lisna Panjaitan, menjelaskan bahwa pasien VJ masuk dengan kondisi tekanan darah tinggi, yaitu 180/90 mmHg.

"Saat pemeriksaan awal, denyut jantung janin (DJJ) sudah tidak terdengar meski telah diperiksa berulang kali," kata Lisna saat dihubungi via seluler, Rabu (20/8/2025).

Lebih lanjut, Lisna menyatakan bahwa kondisi air ketuban yang berwarna hijau kekuningan dan keruh mengindikasikan janin sudah mengalami gawat darurat atau bahkan telah meninggal di dalam kandungan (Intrauterine Fetal Death/IUFD).

Menurutnya, pihak puskesmas telah berulang kali menyarankan agar pasien dirujuk ke rumah sakit, namun keluarga menolak anjuran tersebut.

"Bidan sudah menyarankan rujukan, tetapi pasien dan keluarga menolak. Mengingat DJJ sudah tidak ada, bidan mengambil keputusan melanjutkan persalinan demi keselamatan ibu," terangnya.

Dalam proses persalinan, terjadi komplikasi serius yang disebut distosia bahu, di mana bahu bayi tersangkut di jalan lahir. Bayi diperkirakan memiliki berat badan besar, sekitar 4 kg.

"Dengan mempertimbangkan kondisi kritis, bidan melakukan manuver penarikan. Keputusan ini diambil dengan prinsip keselamatan ibu sebagai prioritas utama. Pasien juga sudah menandatangani informed consent sebagai bentuk persetujuan tindakan," tegas Lisna.

Pihak Dinkes Tapteng menyatakan akan bersikap kooperatif dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan di Polres Tapanuli Tengah.(**)

Editor
: Bantors Sihombing
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru