Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 24 September 2026

Melawan Kanker Nasofaring, Benny Lim Bertahan Demi 3 Buah Hati dengan Dorongan Semangat Hidup

Efran Simanjuntak - Kamis, 24 September 2026 17:35 WIB
242 view
Melawan Kanker Nasofaring, Benny Lim Bertahan Demi 3 Buah Hati dengan Dorongan Semangat Hidup
Foto: Dok/Benny Lim
Benny Lim.

Rantauprapat(harianSIB.com)

Satu benjolan kecil di belakang leher mengubah kehidupan Benny Lim (52). Benjolan yang awalnya tak lebih besar dari telur puyuh itu muncul pada Februari 2025. Tak pernah terlintas di benaknya, tanda kecil tersebut justru menjadi awal perjalanan panjang baginya melawan kanker nasofaring.

Warga Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, itu sebelumnya menjalani kehidupan sederhana bersama keluarga. Namun, sejak benjolan itu muncul, hari-harinya mulai dipenuhi kesibukan pemeriksaan, pengobatan, kecemasan hingga perjalanan lintas negara untuk mendapatkan penanganan medis.

Bagi Benny, menghadapi penyakit bukan hanya soal melawan rasa sakit. Tetapi di rumah, ada tiga buah hati yang masih ingin dilihatnya tumbuh dewasa. Ada pendidikan mereka yang ingin dikawal dan ada harapan sederhana seorang ayah untuk tetap berada di sisi anak-anaknya selama mungkin. Tiga anak itulah yang kemudian menjadi salah satu penyemangat dan sumber kekuatannya.

Awalnya, Benny mengaku tidak merasakan gejala yang terlalu mencolok. Ia juga tidak memiliki riwayat sinusitis yang kerap mengalami infeksi saluran pernapasan. Namun, pada Februari 2025, benjolan muncul di bagian belakang leher sebelah kanan.

Baca Juga:
"Benjolannya sebesar telur puyuh," kata Benny saat berbincang-bincang tentang pengalamannya dengan jurnalis harianSIB.com di Rantauprapat, Kamis (24/9/2026).

Kerabat kemudian membawa Benny berkonsultasi dengan dokter. Salah seorang dokter menganjurkan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pengambilan sampel dari benjolan tersebut. Namun, rasa khawatir membuat Benny ketika itu belum bersedia menjalani tindakan tersebut. Ia kemudian mencari pemeriksaan lebih lanjut di salah satu rumah sakit di Kota Medan yang menangani pasien kanker.

Hasil pemeriksaan CT scan akhirnya membawa Benny pada kenyataan yang tak pernah dibayangkannya. Ia didiagnosis menderita kanker nasofaring dan berdasarkan diagnosis yang diterimanya saat itu, penyakit tersebut telah memasuki stadium 3. Kanker nasofaring merupakan kanker yang tumbuh pada jaringan nasofaring, yakni bagian atas tenggorokan yang berada di belakang rongga hidung. Bagi Benny, istilah medis itu menjadi awal perjuangan panjangnya.

Dokter kemudian menyarankan Benny menjalani kemoterapi. Namun, pada fase awal perjalanan penyakitnya, ia sempat memilih mencoba sejumlah pengobatan alternatif di Medan. Berbagai tempat didatanginya dengan harapan menemukan jalan kesembuhan. Akan tetapi, kondisi fisiknya justru semakin menurun.

Gangguan pada mata mulai dirasakan. Penglihatannya berubah, bola matanya sempat terlihat juling dan pandangannya berbayang. Pembengkakan di leher kemudian mulai mengganggu. Kondisi tersebut akhirnya membuat Benny kembali mencari penanganan medis. Pada Juli 2025, ia berangkat ke Penang, Malaysia, untuk pemeriksaan dan pengobatan di Adventist Hospital.

Berdasarkan diagnosis yang diterimanya di sana, kanker telah memasuki stadium 4 dan disebut telah menyebar ke beberapa bagian tubuh lainnya, termasuk tulang. Dokter kembali menyarankan kemoterapi dan radioterapi.

Rencana pengobatan yang diterimanya mencakup 6 kali kemoterapi dan 33 kali radiasi, disertai terapi radiasi target pada jadwal tertentu. Bagi keluarga Benny, tantangan kemudian bukan hanya menghadapi penyakit, tetapi juga memikirkan biaya pengobatan.

Benny kembali menjalani kemoterapi dan radioterapi di Medan. Beratnya proses pengobatan tak membuatnya berhenti berharap. Kemoterapi pertama, kata Benny, menimbulkan rasa pedih selama sekitar dua hingga tiga hari. Namun setelah itu, ia mulai melihat perubahan pada kondisi tubuhnya. Pembengkakan pada mata berangsur berkurang, dan benjolan di leher juga mulai mengempis.

"Setelah kemoterapi pertama, rasa pedih memang terasa sekitar 2 sampai 3 hari. Tapi sesudah itu ada perubahan signifikan. Mata yang bengkak berkurang dan bengkak di kelenjar leher juga mengempis," tuturnya.

Pengobatan kemudian dilanjutkan sesuai rangkaian yang diberikan tim medis. Benny menyebut menjalani 6 kali kemoterapi dan 33 kali radiasi. Di tengah beratnya menjalani pengobatan, ia menemukan hal sederhana yang menurutnya turut menjaga semangat.

Selama berada pengobatan, ia juga berkesempatan mengikuti kegiatan rekreasi pada hari Minggu ke sejumlah destinasi wisata. Bagi Benny, suasana tersebut membuat rutinitas pengobatan terasa sedikit lebih ringan.

Namun, perjalanan dari Rantauprapat, Medan, Penang bukanlah perjalanan yang selalu dipenuhi keberanian. Benny mengaku tetap memiliki rasa takut dan kekhawatiran. Ada hari-hari ketika kondisi tubuh membuat semangatnya turun. Meski demikian, ia memilih tidak membiarkan rasa takut mengambil seluruh ruang dalam hidupnya. Ia berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dan semangat dengan hati gembira menjalani hidup.

"Hal utama dalam menghadapi kanker adalah tetap semangat dan bergembira serta fokus untuk sembuh karena masih ada orang-orang tercinta yang masih sangat membutuhkan kita. Memang ada rasa khawatir dan takut, tetapi saya memilih mendekatkan diri kepada Tuhan dan memilih semangat dan hati gembira," ungkapnya.

Bagi Benny, semangat bukan sekedar kata-kata motivasi, melainkan cara untuk melewati satu hari demi satu hari kehidupan.

Ada 3 anak yang menjadi alasan terbesar Benny untuk bertahan di balik setiap perjuangannya. Ia ingin melihat mereka tumbuh dewasa, menyaksikan pendidikan mereka dan tetap menjadi ayah yang hadir ketika mereka membutuhkan. Dua di antara puteranya bahkan memiliki prestasi akademik yang membuat Benny bangga dan semakin kuat menjalani pengobatan. Ketika tubuh terasa lemah, biaya pengobatan terasa berat atau rasa takut kembali datang, ia memilih mengingat keluarganya.

Benny memahami bahwa perjalanan setiap pasien kanker berbeda. Penanganan dan pilihan terapi harus ditentukan bersama dokter serta tim medis berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Pengalaman pribadinya tidak dapat dijadikan ukuran bahwa metode pengobatan tertentu akan memberikan hasil yang sama pada setiap pasien. Namun, dari perjalanan panjangnya, Benny ingin terus memegang satu hal, yaitu harapan. Sebab bagi seorang ayah, alasan untuk terus bertahan begitu sederhana, melihat wajah anak-anaknya tersenyum, dan berkata dalam hati: "Saya masih ingin melihat kalian tumbuh besar". (**)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Disdik Sumut Revitalisasi 4 SMAN, Rehabilitasi 5 Sekolah Rampung 100 Persen
Dari Modal Sosial ke Perlindungan Hukum: Memperkuat Posisi Tawar Masyarakat Adat Melalui Literasi Hukum
Tuntut Penyelesaian Konflik Agraria , Puluhan Petani Demo di Kantor Gubernur Sumut
Peningkatan Ekonomi Lokal, Kelompok Pertukangan Kayu Desa Polling Anakanak Terima Peralatan Mesin
Polres Batubara Terima Presisi Award dari LEMKAPI atas Kinerja Pelayanan kepada Masyarakat
Ombudsman Temukan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Yusril Persilakan Media Cek Langsung
komentar
beritaTerbaru