Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Ribuan Jemaat Protestan dan Katolik Padati Gereja-gereja Mengikuti Ibadah Jumat Agung di Medan

* Bishop GKPI: Gereja Dibom dan Banyak Orang Dibunuh karena Mengikut Yesus
- Minggu, 16 April 2017 13:09 WIB
882 view
Ribuan Jemaat Protestan dan Katolik Padati Gereja-gereja Mengikuti Ibadah Jumat Agung di Medan
SIB/Wildfrid B Sinaga
Penyaliban:Kisah penyaliban Yesus diperagakan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Tanjung Selamat Medan melalui Tablo bertajuk "Jalan Salib Hidup", Jumat (14/4) di Halaman Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosari Medan Jalan Flamboyan Raya Medan.
Medan (SIB)- Ribuan jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Maranatha Jalan Letjen S Parman dan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Teladan Ressort Medan-I Jalan Sederhana Medan, memperingati kematian Yesus Kristus (Jumat Agung) dengan penuh khidmat, Jumat (14/4).
Peringatan penyaliban dan kematian Yesus Kristus di GPdI Maranatha dilakukan kebaktian sebanyak empat kali mulai dari ibadah raya I dan perjamuan kudus mulai pukul 07.30 -09.45 WIB, hingga ibadah raya IV dan perjamuan kudus pukul 19.00 - 21.00 WIB.

Pada ibadah raya pertama, kebaktian dipimpin Pdt MD Wakkary. Dalam kotbahnya yang diambil dari Jesaya 53:2-7 tentang Kesengsaraan Yesus. Pdt MD Wakkary, mengatakan kesengsaraan Yesus Kristus akibat dosa-dosa kita. Ia rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia.
"Oleh bilur-bilurnya, kita disembuhkan dari penyakit dan dosa," tegas Wakkary.

Disebutkan ada 10 sengsara yang dialami Yesus sebelum mati di kayu salib, seperti dihina, ditulah, dipukuli, ditikam, ditampar, dicambuk dan disalibkan.
Usai kotbah, perayaan ibadah Jumat Agung dilanjutkan dengan perjamuan kudus yang juga dipimpin Pdt MD Wakkary.

Sementara itu acara peringatan Jumat Agung juga dilaksanakan di HKBP Teladan Ressort Medan I Teladan. Acara sudah berlangsung sejak pukul 07.00 pagi dan pukul 11.00 WIB untuk kebaktian umum. Gereja tersebut dijejali ribuan jemaat mulai dari remaja hingga orangtua mengikuti kebaktian umum, yang dipimpin Pdt H Simanungkalit MTh.

Dalam kotbah dari Markus 15:22-41, ditegaskan tentang penyaliban Yesus Kristus di kayu Salib.

Usai kebaktian, dilanjutkan parpunguan na hohom/Jumat teduh  pukul 14.00 WIB untuk mengingat apa yang dialami  dan dilakukan Tuhan Yesus, menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, kemudian diakhiri perjamuan kudus.

Kebaktian Jumat Agung di GPdI Maranatha dan HKBP Teladan mendapat pengawalan petugas kepolisian dari awal hingga akhir acara kebaktian.
Umat Katolik

Sementara itu, ribuan umat Katolik juga mengikuti ibadah Jumat Agung memeringati sengsara Yesus, di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosari Jalan Flamboyan Raya Tanjung Selamat Medan, Jumat (14/4).

Antusias umat yang mengikuti ibadah Jumat Agung itu terlihat dengan ditambahnya teratak di halaman gereja untuk menampung umat yang membludak.
Pastor Paroki Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosari Pastor Yohanses Surono OSC dalam renungan singkatnya mengajak umat untuk melakukan refleksi atas sengsara Yesus dan aksi nyata dalam membalas  pengorbanan Yesus yang telah merelakan nyawanya dalam menebus dosa umat manusia.
Dijelaskan, dalam tradisi Gereja Katolik peringatan Jumat Agung merupakan rangkaian Pekan Suci yang diawali ibadah Minggu Palma yang mengisahkan perjalanan Yesus ke Kota Yerusalem, Minggu (9/4) dilanjutkan dengan Kamis Putih yang mengisahkan perjamuan terakhir Yesus bersama 12 muridNya dan Jumat Agung untuk memeringati Sengsara Yesus pada Jumat (14/4) dan akan berlanjut dengan Sabtu Suci yang menandai tahun baru liturgi Gereja Katolik, Sabtu (15/4). Puncaknya Perayaan Paskah, merayakan kemenangan Yesus yang bangkit dari kematian, Minggu (16/4).

Sebelum peringatan Jumat Agung pada pagi harinya telah diselenggarakan "Jalan Salib Hidup" yang dipagelarkan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Ratu Rosari melalui pelaksanaan Tablo tentang Kisah Sengsara Yesus.

Sementara itu, Bishop GKPI Pdt Oloan Pasaribu MTh dalam khotbah Jumat Agung mengatakan, sejak jatuh ke dalam dosa, manusia dihukum mati, artinya hidup menderita selamanya. Sudah banyak usaha dilaksanakan manusia supaya selamat tapi semua sia-sia. Manusia tidak sanggup melaksanakan hukum-hukum yang ditetapkan Tuhan, sehingga hari lepas hari makin jauh dari Tuhan.

"Tapi Kasih Tuhan Allah tetap menyertai manusia, cara terakhir dibuat Tuhan adalah mengutus AnakNya yang Tunggal  Yesus Kristus Juru Selamat yang sudah dijanjikan keselamatan dengan Viadolorosa yaitu jalan penderitaan," ucapnya, Jumat (14/4) di Gereja GKPI Sriwijaya Medan Kota Resort Medan Barat.
Dikatakannya, penderitaan Tuhan Yesus seharusnya ditanggung manusia, penyaliban waktu itu untuk menghukum orang paling jahat saat itu. Dalam Matius 27:22 disebutkan: semua mereka berseru, Dia harus disalibkan. Pengadilan masalah  yang terjadi saat itu, tapi Pilatus "cuci tangan" meski dia mengatakan tidak ada kesalahan yang ditemukan pada Yesus. Namun massa berseru: "Biarlah kami dan anak cucu kami yang menanggung". Akhirnya Yesus diputuskan bersalah dan disalibkan.

Saat disalib, Yesus diejek, dihina, pakaiannya dibagi-bagikan, artinya tidak ada lagi yang lebih hina dari Dia di dunia ini. Tapi yang paling keji adalah, orang yang paling mengolok-olok Dia justru para Imam, pelayan di Bait Allah, orang yang paling rajin datang ke Bait Allah, ahli-ahli taurat dan pakar-pakar hukum. Alasannya, pengajaran Yesus yang revolusioner tidak sesuai dengan kebiasaan mereka.

Pengajaran Yesus adalah hidup yang berkenan di hadapan Allah, yaitu hidup penuh kasih dan pengampunan. Sementara ajaran lama adalah mata diganti mata, nyawa ganti nyawa dan hukum balas dendam. Ketika Yesus mengajar di bukit (Matius 5:44-45) dikatakan: "kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu karena kamu menjadi anak-anak Tuhan di Sorga. Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela, dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat".

"Salib pada diri manusia berbeda-beda, ada yang besar dan kecil, itu sama seperti penderitaan maupun tantangan. Sebesar apapun tantangan itu kita harus menang oleh karena Yesus menolong kita". Pengadilan massa  zaman sekarang juga masih berjalan. Dia mencontohkan kalau beberapa hari lalu ada gereja di Mesir dibom, 27 orang meninggal dunia dan banyak luka-luka. Di negara tertentu ratusan misionaris dipenggal kepalanya. Ribuan orang harus mengungsi karena mengikut Kristus.

"Seperti tertulis di dalam Kisah para Rasul 4:12 disebutkan, keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Yesus. Sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan. Berbahagialah karena namamu terdaftar di Sorga. Sampai jumpa di Sorga karena dunia akan berakhir dengan segala kemegahannya," paparnya.

Pada siang sampai sore harinya dilaksanakan ibadah "marulaon na hohom", detik-detik kematian Yesus di kayu salib dipimpin Pdt Gunawan Panjaitan, MTh. Kemudian dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus dipimpin Bishop Pdt Oloan Pasaribu MTh bersama Pendeta Resort GKPI Sriwijaya Medan Kota Resort Medan Barat dibantu para penetua. (A10/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru