Medan (SIB) -Objek wisata atau destinasi Danau Toba hingga saat ini ternyata belum memiliki motto tetap atau 'branding' dalam agenda pariwisata nasional, sehingga perlu segera dibuat untuk lebih mengenalkan potensi dan spesifikasinya ke pangsa pasar wisata mancanegara maupun domestik, sebagaimana halnya objek-objek wisata unggulan lain di Indonesia.
Direktur Pemasaran Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT), Basar Simanjuntak, menyatakan, penetapan 'branding' wisata Danau Toba itu juga sekaligus sebagai instrumen marketing dalam agenda pemasaran dan promosi wisata Sumatera Utara, khususnya untuk meraih kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) sebanyak 1 juta orang pada 2019 mendatang.
"Penetapan atau penyusunan motto untuk objek wisata Danau Toba ini memang agak rumit dan spesifik karena harus mencakup makna dan misi kolektif sebagai representasi dari tujuh daerah kabupaten di kawasan Danau Toba, baik yang terkait pesona alamnya, nilai budayanya, teks yang mewakili semua bahkan tata warna dan grafis pada logo itu nantinya. Besar kecilnya pengaruh branding ini, tetap akan menjadi bagian dari marketing dalam pencapaian target 1 juta Wisman ke Sumut pada 2019 nanti," ujar Basar Simanjuntak di Medan, Kamis (26/10) lalu.
Dia mencetuskan hal itu dalam acara forum focus group discussion (FGD) yang digelar BOPDT bekerja sama dengan biro marketing nasional Mark Plus Jakarta, di Hotel Four Point Sheraton Medan. FGD tersebut secara khusus membahas dan menjajaki teks motto-baku (branding) untuk pariwisata Danau Toba, dengan menghadirkan sejumlah tokoh adat budaya Batak, tokoh gereja, akademisi dan praktisi bisnis pariwisata di daerah ini.
Dari kalangan dunia usaha hadir antara lain Wakil Ketua Kadin Sumut Dr Ir Jonner Napitupulu, Direktur Lovely Tour Maruli Damanik, pengusaha Hotel Rudang Berastagi Putra Suranta Ginting dan pengurus ASITA Surya Salim. Dari akademisi, Prof Ir Syamsul Arifin (guru besar USU) dan tim rektorat Unika Santo Thomas Medan. Pakar budaya yang hadir Dr Irwansyah Harahap dari USU dan Hanna Bangun dari Tanah Karo dan Pdt Nelson Siregar bersama St P Simarmata dari unsur gereja. Sedangkan dari kalangan pemerhati hadir mantan Bupati Samosir Ir Mangindar Simbolon dan Sekretaris Umum Forum Peduli Danau Toba (FPDT) Adrian Lumbantoruan.
Diskusi tentang 'branding' wisata Danau Toba itu hanya bersifat jajak pendapat atau branch storming untuk menentukan teks sebagai motto yang meliputi representasi unsur dan makna pesona alam, budaya, lingkungan, dan kearifan lokal masyarakat kawasan Danau Toba. Sebagaimana branding wisata Jakarta yang berbunyi: Enjoy Jakarta, NTT: Wonderfull Lombok, dan lainnya.
Dalam FGD itu terungkap, Sumatera Utara dengan destinasi Danau Toba dulunya sudah punya branding pada zaman-zaman kejayaannya. Misalnya: Lempeng Surga di Tanah Batak pada 1960-an yang kemudian oleh TD Pardede dengan grup HDTI-nya menggencarkan motto "Your Paradise in Sumatera". Lalu, pada 1980-an budayawan Ninuk Kleden mencetuskan branding: Danau Toba, Surga di Tanah Batak. Pada 1990-an dipromosikan branding Toba, Tao Na Tio. Plus, pada tahun 2000-an di masa SBY digencarkan branding temporer 'Danau Toba, A Wiew of Wonderfull Word', yang merupakan awal wacana pengajuan Danau Toba sebagai kandidat Seven Wonderfull pada 2006, tapi gagal sehingga kemudian pada 2008 mulai diusulkan sebagai kandidat objek geopark kelas dunia, hingga saat ini.
Beberapa tawaran teks branding yang mengemuka dalam FGD itu antara lain: Toba Nature, Wonderfull Lake Toba, Lake Toba The Pearl Paradise, Lake Toba Trully Eden, Lake Toba Trully Word dan lainnya.
(A04/f)