Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 26 April 2026

Kota Minyak Pangkalan Brandan, Digelari Kota Suling Atau Seruling

Redaksi - Rabu, 04 Maret 2020 13:39 WIB
545 view
Kota Minyak Pangkalan Brandan, Digelari Kota Suling Atau Seruling
Foto SIB/Lesman Simamora
Tugu ini dibangun Pertamina sebagai sejarah peringatan seratus tahun perminyakan Indonesia. Kini lokasi tugu terletak di Desa Securai Utara, Kecamatan Babalan Kabupaten Langkat. 
Pangkalan Brandan (SIB)
Sebuah daerah tentu memiliki nama khas atau identitas tersendiri. Di Indonesia tentu banyak daerah yang memiliki nama khas. Misalnya, Aceh digelar 'Tanah Rencong', Sumatera Barat dikenal 'Jam Gadang', Surabaya disebut "Kota Pahlawan', dan banyak gelar lainnya sebutan nama kota atau daerah di negeri tercinta ini.

Pangkalan Brandan, selain identitasnya dikenal sebagai 'Kota Minyak', juga digelar sebagai kota 'Suling' atau 'Seruling'. Gelar ini sebelum terjadinya peristiwa heroik Brandan Bumi Hangus (BBH) pada agresi kedua Belanda.

Bunyi seruling dengan suara khasnya telah disosialisasikan kepada seluruh karyawan perusahaan migas, sehingga ketika seruling berbunyi dengan nada tertentu, maka para pekerja perusahaan minyak itu sudah tahu apa gerangan yang terjadi.

Pada nada tertentu suara seruling, itu biasanya sebuah sinyal kalau ada musibah yang terjadi, seperti kebakaran di lokasi sumur minyak, kebakaran di kapal tanker atau kebakaran rumah milik warga dan lainnya di Pangkalan Brandan dan sekitarnya.

Bukan itu saja, seruling dibunyikan dengan nada khusus pula, sebagai pertanda kedatangan kapal musuh tentara Belanda atau bala tentara Jepang yang akan merapat ke dermaga menuju kilang minyak Pangkalan Brandan. Dengan nada bunyi seruling itu pula, maka karyawan dan petugas keamanan siaga dan siap bertindak menyerang musuh.

Suara nyaring pluit itu bisa kedengaran hingga mencapai radius 10 kilo meter jauhnya.
Biasanya, pluit berbunyi pada pagi hari mulai pukul 05:30 WIB sebagai tanda agar seluruh karyawan termasuk tenaga pengamanan perusahaan migas mempersiapkan diri untuk bersiap-siap berangkat ke lokasi kerja.

Pluit juga dibunyikan saat mulai kerja sudah tiba pukul 07:15 dan kembali bunyi pada saat memasuki jam istirahat pukul 12:00 WIB, dan kembali masuk kerja pada jam kedua pukul 13:00, kemudian pukul 16:00 pluit dibunyikan pertanda karyawan akan pulang kerja.
Sampai saat ini pluit masih dipakai di lingkungan Pertamina RU II Pangkalan Brandan, Pertamina EP Pangkalansusu, serta Pertamina EP Rantau, Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, ujar Drs MP Sianturi, selaku pemerhati sejarah perminyakan kepada SIB, Minggu (1/3) di Pangkalansusu.

Penemu Sumur Minyak Pertama pada tahun 1883 kata Sianturi, Zijlker, ahli perminyakan dari Negeri Belanda melakukan pengeboran minyak pertama di daerah Pangkalan Brandan. Untuk usaha itu, ia telah mendapat konsesi dari Sultan Langkat, yaitu sebidang tanah tepatnya di Telaga Tiga, namun ketika itu ia gagal menemukan minyak dalam jumlah besar.

Pengeboran kedua dilakukan di Telaga Tunggal yang letaknya masih dalam wilayah konsesi. Setelah setahun lamanya bergulat melakukan pencarian, pada 15 Juni 1885, Zijlker berhasil menemukan sumur minyak dengan produksi besar yang mencapai kedalaman 121 meter.

Sumur minyak tersebut tercatat sebagai sumur minyak pertama di Hindia Belanda yang memiliki taraf produksi komersial. Sumur Telaga Tunggal -1 kemudian segera disusul oleh penemuan sumur-sumur lainnya di Telaga Said, yang letaknya tidak jauh dari pantai Sumatera Utara. Sumur ini sangat produktif dan terus menghasilkan selama lebih dari 15 tahun.

Penemuan minyak di daerah itu, kata dia, merupakan sejarah cikal bakal perminyakan di Indonesia yang saat ini daerah itu masuk Desa Securai Utara, Kecamatan Babalan Langkat. Sebagai pertanda sejarah, di kawasan penemuan pertama sumur minyak tersebut telah dibangun tugu peringatan 100 tahun perminyakan Indonesia oleh Pertamina.

Masa Pendudukan Jepang
Menjelang Perang Dunia ke-II perindustrian minyak di Indonesia pada waktu itu di samping merupakan penghasil minyak terbesar di Timur Jauh juga merupakan penghasil karet. Rata-rata lebih kurang 62 juta barel minyak per tahun dihasilkan dalam tahun 1939 dan 1940.

Kilang minyak di Pangkalan Brandan Sumatera Utara dan sekitar sepuluh daerah konsesi di daerah Langkat dan sebanyak delapan buah di daerah bagian Aceh ketika itu sempat dikuasai pihak penjajah. Menyadari tidak akan mampu menahan serbuan Jepang, Pemerintah Belanda merencanakan taktik bumi hangus terhadap semua instalasi dan fasilitas perminyakan. Rencana bumi hangus ini dilaksanskan tentara Belanda dengan kerjasama pihak perusahaan asing.

Kilang Minyak Pangkalan Brandan yang tadinya berkapasitas sekira 300 ton sehari telah dioperasikan sampai menghasilkan sekitar 10.000 ton bahan bakar minyak sehari.

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia telah menguasai seluruh perminyakan yang sebelumnya dikuasai Belanda, itu telah beralih dan dikuasai tentara dan ahli perminyakan Jepang. Kemudian Jepang takluk oleh sekutu. Dan kesempatan ini dimanfaatkan Belanda kembali dengan melakukan strategi bumi hangus agar Jepang tidak dapat mengambil hasil dari sumur minyak termasuk dari kilang minyak Pangkalan Brandan.

Dari peristiwa itu dapat disimpulkan untuk menyiapkan penangkalan terhadap musuh, maka suling atau seruling dibunyikan agar semua pekerja maupun petugas pengamanan perusahaan telah siap menghadang musuh dan siap tempur melawan tentara penjajah, dan siap mengamankan semua instalasi perminyakan maupun sumur-sumur minyak di ladang dijaga super ketat.

Demikian kisahnya dan mengapa hingga sekarang suling atau seruling itu masih dianggap dibutuhkan. "Iya pertama setiap pegawai Pertamina harus memahami dan mematuhi bunyi suling atau seruling tersebut," kata MP Sianturi.

Pensiunan pegawai Pertamina Pangkalansusu kepada SIB mengungkapkan sekilas sejarah bunyi seruling muncul di 'kota minyak' Pangkalan Brandan, penemuan sumur-minyak pertama, serta masa pendudukan Belanda dan Jepang menguasai kilang minyak Pangkalan Brandan hingga kemudian terjadinya peristiwa Brandan Bumi Hangus. (M25/f)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru