Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Februari 2026

Akademisi di Sumut Apresiasi Program Listrik Desa Pemerintah: Keadilan Energi bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Donna Hutagalung - Selasa, 11 November 2025 18:38 WIB
541 view
Akademisi di Sumut Apresiasi Program Listrik Desa Pemerintah: Keadilan Energi bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Foto: harianSIB.com/Donna Hutagalung
Diskusi "Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran dari Sudut Pandang Energi, di Medan, Selasa (11/11/2025).

Medan (harianSIB.com)

Sejumlah akademisi lintas disiplin ilmu di Medan, Sumatera Utara (Sumut), memuji program Listrik Desa yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai motor penggeraknya.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai langkah ini merupakan wujud pemerataan energi sebagaimana tertuang dalam program Asta Cita.

"Pemerintah berupaya agar seluruh masyarakat mendapatkan akses listrik secara merata. Ini bentuk keadilan energi. Jangan sampai hanya sebagian masyarakat yang menikmati listrik, sementara warga di pedalaman justru tertinggal," ujarnya dalam diskusi "Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran dari Sudut Pandang Energi" di Medan, Selasa (11/11/2025).

Gunawan menjelaskan, elektrifikasi desa akan menimbulkan efek domino terhadap kegiatan ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM. Menurutnya, listrik dapat mempercepat distribusi barang dan mendorong masyarakat memanfaatkan teknologi digital.

Baca Juga:
Ia mencontohkan, kehadiran listrik mengubah pola konsumsi dan produksi masyarakat desa, misalnya dengan penggunaan lemari es yang menggantikan sistem penyimpanan tradisional.

"Masuknya listrik ke pedesaan akan menghidupkan pelaku UMKM. Barang-barang elektronik seperti televisi, ponsel, hingga kulkas bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Dari penggunaan minyak tanah untuk penerangan, kini mereka bisa berhemat dan memperpanjang daya tahan produk. Ini harus terus digalakkan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Gunawan menyarankan agar pemerintah mengoptimalkan potensi energi lokal dalam mencapai elektrifikasi 100 persen. Daerah yang memiliki aliran air, katanya, bisa dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), sementara wilayah berangin dapat memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA).

Ia juga menilai, perlu ada fleksibilitas dalam pembangunan infrastruktur.

"Tidak semua harus mengandalkan PLN. Pemerintah bisa memberi insentif bagi masyarakat untuk membeli panel surya atau membangun pembangkit kecil dari dinamo turbin air. Asalkan ada edukasi dan pendampingan, masyarakat bisa mandiri. Saya optimistis elektrifikasi 100 persen dapat tercapai," ujarnya.

Sementara itu, pakar energi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Warjio M.A., Ph.D., menekankan pentingnya penerapan energi terbarukan dalam mencapai target tersebut. Menurutnya, program elektrifikasi harus menjadi momentum memperkenalkan sumber energi bersih ke seluruh wilayah Indonesia.

Warjio mencontohkan pembangunan pembangkit mikrohidro di Minahasa, Sulawesi Utara, yang baru diresmikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya lokal yang ideal bagi daerah terpencil.

"Energi terbarukan harus memanfaatkan potensi lokal. Misalnya, di Minahasa cocok dengan mikrohidro, tetapi di daerah lain mungkin tidak. Jadi, kebijakan harus disesuaikan dengan kekayaan lokalitas masing-masing," jelasnya.

Senada, pakar kebijakan publik USU Fredick Broven Ekayanta menilai, upaya pemerintah menuntaskan target elektrifikasi 5.758 desa akan berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ia menyebut, rasio elektrifikasi nasional pada akhir 2024 telah mencapai 99,83 persen dan pemerintah menargetkan seluruh wilayah Indonesia teraliri listrik melalui program Listrik Desa 2025-2029.

"Program ini akan membuka ruang tumbuhnya ekonomi baru, memperbaiki kualitas pendidikan dan kehidupan masyarakat, serta memperkuat pembangunan sumber daya manusia di daerah tertinggal," ujar Fredick.

Ia menambahkan, listrik merupakan faktor penting dalam membangun kota dan pusat aktivitas ekonomi. Dengan adanya listrik, akses terhadap internet juga terbuka luas, sehingga mempercepat pengembangan potensi desa.

"Masuknya internet ke desa sangat positif bagi pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan desa itu sendiri," tutupnya. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Akademisi Nilai Penonaktifan Pejabat oleh Gubernur Sumut Berisiko Langgar Aturan ASN
Sayembara Desain Batik Sumut Sukses Lahirkan Karya Terbaik Motif Batik
Geng Motor dan Begal Makin Meresahkan di Sumut Mungkin karena Kelengahan Pemerintah
DPRD SU Desak Menteri ATR/BPN Tindak Tegas Oknum Internal Terlibat Mafia Tanah
9 Panelis Ditetakan KPU Sumut untuk Debat Ketiga Cagubsu
Peringati HORI ke-78 Kemenkeu Sumut Gelar Kegiatan Bedah Buku "Sri Mulyani Indrawati "di Medan
komentar
beritaTerbaru