Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 Juli 2026

Kisah Pilu Korban Scam di Kamboja: Disekap, Disetrum, Disiram Air Panas dan Ditelantarkan

Firdaus Peranginangin - Rabu, 29 Juli 2026 10:54 WIB
147 view
Kisah Pilu Korban Scam di Kamboja: Disekap, Disetrum, Disiram Air Panas dan Ditelantarkan
Foto: harianSIB.com/Firdaus Peranginangin
Shella Puspita Sari saat menceritakan kisah pilunya kepada anggota DPD RI Pdt Penrad Siagian, Rabu (29/7/2026), di Medan.

Medan(harianSIB.com)

Harapan mendapatkan pekerjaan bergaji besar di luar negeri justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Shella Puspita Sari. Perempuan asal Kota Medan itu menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah terjebak dalam perusahaan scam online di Kamboja.

Bukannya memperoleh kehidupan yang lebih baik, ia justru mengalami penyiksaan, penyekapan, penyetruman, disiram air panas, hingga akhirnya ditelantarkan di pinggir jalan seorang diri di negeri orang.

Setelah melewati masa-masa penuh penderitaan, Shella akhirnya berhasil kembali ke Indonesia bersama anaknya. Kepulangannya tidak lepas dari advokasi yang dilakukan DPD RI Pdt. Penrad Siagian.

Penrad mendatangi kediaman keluarga Shella di kawasan Medan Marelan, Kota Medan, Rabu (29/7/2026), dengan membawa bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian, juga mendengarkan langsung kisah pilu yang dialami Shella selama berada di Kamboja.

Baca Juga:
Di hadapan Penrad dan keluarganya, Shella mengisahkan bagaimana dirinya berangkat ke Kamboja karena tergoda tawaran pekerjaan dengan gaji yang sangat besar.

Janji kehidupan yang lebih baik membuatnya berani meninggalkan kampung halaman dengan membawa harapan kebahagiaan dan masa depan yang gilang-gemilang setelah kembali nantinya. Namun kenyataan yang dihadapi jauh berbeda.

Setibanya di Kamboja, ia dipaksa bekerja di perusahaan scam online. Di tempat itu, ia tidak memperoleh gaji seperti yang dijanjikan. Sebaliknya, menjadi korban berbagai bentuk kekerasan dan tekanan.

"Saya korban yang sudah disekap, disetrum dan disiram air panas," tutur Shella dengan suara lirih seraya mengingat penderitaannya ketika berada di negeri "seribu pagoda" tersebut.

Dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, ia bahkan pernah ditelantarkan di pinggir jalan tanpa mengetahui harus meminta pertolongan kepada siapa.

"Saya juga pernah terlunta-lunta di pinggir jalan di Kamboja. Apa yang saya alami ini, kejadian nyata dan itu sangat menyedihkan. Saya berharap teman-teman tidak pergi ke Kamboja," ungkapnya.

Pengalaman ini sebagai "warning" bagi anak muda untuk mendengar langsung cerita tersebut dan pengalaman Shella harus menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Sumut, agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menawarkan gaji fantastis tanpa prosedur yang jelas.

Menurut Penrad Siagian, banyak warga Indonesia menjadi korban jaringan perusahaan scam online yang berkedok perekrutan tenaga kerja.

"Saat ini saya berada di kediaman Shella yang beberapa hari lalu berhasil kita pulangkan dari Kamboja. Ia berangkat karena tergiur pekerjaan dengan gaji besar. Tetapi sesampainya di sana, justru menjadi korban kekerasan, disekap, tidak menerima gaji, bahkan dibebani berbagai utang oleh perusahaan," ujarnya.

Penrad mengimbau masyarakat agar lebih teliti sebelum menerima tawaran bekerja di luar negeri, terutama ke Kamboja.

"Saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Sumut dan anak-anak muda, agar lebih cerdas melihat peluang kerja. Jangan mudah tergoda iming-iming pekerjaan di Kamboja, karena banyak yang justru menjadi korban TPPO dan kekerasan," katanya.

Bagi keluarga Shella, kepulangan perempuan itu merupakan anugerah yang tidak ternilai.

Ayah Shella, Teguh Priyadi, mengaku keluarganya sempat putus asa melihat kondisi putrinya yang terlantar di negeri orang serta berharap tidak ada lagi anak muda Indonesia yang mengalami nasib serupa.

"Kalau mau bekerja, lebih baik bekerja di Indonesia. Walaupun gajinya tidak besar, tetapi kita tetap aman bersama keluarga. Jangan tergiur janji-janji dengan gaji yang sangat besar. Semua itu nonsense," katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pdt Penrad Siagian yang telah memperjuangkan kepulangan putrinya.

"Tanpa dukungan dan bantuan beliau, mungkin kami tidak akan sanggup memulangkan putri kami. Satu yang harus digarisbawahi, janganlah tergiur iming-iming pekerjaan bergaji besar. Kalau di negara orang dan tidak beruntung, penyiksaan yang diterima," ujarnya.

Ucapan syukur juga disampaikan ibu Shella, Herlinawati. Dengan mata berkaca-kaca mengaku tidak mampu membalas segala bantuan yang telah diberikan.

"Terima kasih banyak atas kebaikan Pdt Penrad Siagian kepada keluarga kami. Putri kami akhirnya bisa pulang berkat bantuan bapak. Hanya Allah yang dapat membalas semua kebaikan bapak," ucapnya.

Kini Shella memang telah kembali ke pelukan keluarganya. Namun luka fisik dan trauma akibat penyiksaan yang dialaminya masih membekas.

Dibalik semua itu, kini senyum kebahagiaan mulai tumbuh, karena sudah bisa berkumpul bersama anak-anak dan keluarganya. Biarlah pengalaman pahit tersimpan jadi kenangan, tanpa pernah terlupakan.

Melalui kisah hidupnya, Shella berharap tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang menjadi korban perdagangan orang berkedok tawaran pekerjaan bergaji tinggi.

"Jangan mau diiming-imingi dengan gaji besar untuk berangkat ke Kamboja. Saya memohon kepada teman-teman semua. Apa yang saya alami kenyataan, dan saya tidak ingin ada lagi yang merasakan penderitaan seperti saya," tuturnya.(*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Wali Kota Medan Minta Camat dan Lurah Tingkatkan Kapasitas untuk Beri Pelayanan Publik
Keliling Nusantara, Mobil Listrik PLN BLITS akan Kunjungi Kota Medan
Terduga Pembunuh Tukang Rujak Diringkus Polres Pematangsiantar di Kota Medan
Wakil Wali Kota Medan Berharap BPJS Permudah Masyarakat Dapatkan Fasilitas Kesehatan
Wakil Wali Kota Medan Tinjau Terminal Amplas
Ketua PGI Kota Medan Minta Rohaniawan Gencar Beri Siraman Rohani
komentar
beritaTerbaru