Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 19 Juni 2026

Sebab dan Akibat

* Oleh: Upasaka Rudiyanto Tanwijaya
- Sabtu, 04 Februari 2017 18:25 WIB
1.763 view
Jika kita ingin memetik buah mangga dari kebun kita, maka kita harus menanam benih mangga terlebih dahulu. Mustahil jika kita ingin buah mangga, tapi malah menanam bibit durian. Begitulah konsep sederhana tentang Hukum Sebab Akibat, sebagaimana yang diajarkan oleh Maha Guru nan Agung dan Bijaksana, Buddha Sakyamuni.

Ajaran Buddha sangat menghargai proses. Tidak ada yang namanya anugerah begitu saja tanpa perjuangan/upaya terlebih lagi spontanitas. Semuanya perlu upaya atau kerja (action) yang membutuhkan tekad, ketulusan, dan ketekunan.

Maha Guru Buddha Sakyamuni nan Agung dan Bijaksana, jauh sebelum Ia tercerahkan, rela lahir berulang kali dalam berkalpa-kalpa kehidupan. Dalam setiap kelahiran, Ia mengumpulkan bekal kebajikan yang tak sedikit sembari terus mengikis noda batin. Pada puncaknya, tercapailah Pencerahan Agung nan Sempurna, sehingga Ia menjadi Guru Manusia dan Para Dewa.

Manusia pasti ingin sukses dan bahagia. Anehnya, kita sering mengharapkan sesuatu yang justru berlawanan dengan apa yang kita buat.

Ada seorang kenalan, yang ngotot ingin sukses, namun dia tak pernah mengembangkan nilai-nilai yang mendorong kesuksesan itu. Bangun pagi terlambat, tidak disiplin saat bekerja, tidak jujur, dan sebagainya. Orang seperti ini tentunya akan sulit sekali mencapai kesuksesan jika tetap mempertahankan sifat yang tak terpuji tersebut.

Ada juga kawan yang sangat ingin dihormati oleh rekan sepergaulannya. Namun dalam berkomunikasi ia kerap berkata-kata kasar, mau menang sendiri, memandang remeh orang lain dan tidak menghargai persahabatan. Orang seperti ini juga akan dijauhi bahkan mungkin tak ada yang mau menganggap dirinya sebagai teman sejati.

Seringkali dalam memperoleh apa yang kita inginkan, kita menghalalkan segala cara karena tidak sabar dengan proses. Orang seperti ini sama seperti membangun rumah di atas tanah yang rapuh. Begitu angin badai datang, rumah akan roboh dan semuanya musnah.

Kembali, tirulah Buddha. Beliau ulet dan penuh kesungguhan hati. Dalam perjalanan hidupNya, Buddha tak melulu mendapat pujian. Ia  juga pernah dikecam, difitnah, dan dianggap hina. Apakah Buddha terpengaruh dengan itu semua? Tidak.

Buddha tetap teguh dan penuh welas asih yang tiada tara. Mengapa? Sebab ini merupakan hasil pelatihan-Nya selama berkalpa-kalpa kehidupan. Ia secara kontinyu menanam benih-benih kebajikan sehingga ia menjadi sumber kebajikan itu sendiri.

Sehingga dimana pun Buddha berada, apa pun yang diucapkan-Nya serta apa yang diperbuat-Nya, energi kebajikan itu terpancar dengan sendirinya, menembus triloka tanpa batas.

Untuk itu, mari kita senantiasa menanam benih kebaikan dalam setiap detik kehidupan ini. Tak perlu ditunggu kapan berbuah, sebab cepat atau lambat semua akan matang pada waktunya. Sadhu. (Penulis adalah Dharma Duta dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Sumatera Utara/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru