Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Miqat Tempat Membulatkan Tekad Saat Haji

- Jumat, 27 Januari 2017 14:05 WIB
375 view
Ibadah haji merupakan ibadah dari seluruh rangkaian ibadah yang dilakukan oleh umat lslam. Karenanya, ibadah ini hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Itu pun dengan syarat bagi mereka yang mampu.

Mampu di sini, artinya, mampu dari sisi ekonomi. Meski begitu, banyak juga umat Muslim yang tampak tidak mampu secara ekonomi, namun bisa berangkat haji karena beberapa sebab. Salah satunya yakni karena kehendak Allah SWT.

Ritual haji adalah ibadah yang penuh dengan simbol-simbol. Umat Islam yang menunaikan haji, dipuaskan dengan simbol yang sangat menakjubkan seandainya mereka mau memikirkannya sejenak. Mulai dari memancangkan niat sampai mencukur rambut, semua mengandung lambang-lambang yang sarat makna.

Haji mengembalikan manusia pada jatidiri yang sebenarnya sebagai hamba Allah. Ia melepaskan semua topeng dan atrlbut-atribut duniawi. "Itulah sebabnya saya katakan bahwa pergi haji bisa menjadi terapi bagi fisik dan psikis. Karena hanya ibadah haji yang menuntut kesipan fisik,hati, jiwa dan ruhani. Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lalnnya," ujar Direktur Halimun Medical Center (HMC) dr Briliantono M Soenarwo dalam bukunya berjudul 'Sehat Tanpa Obat'.

Dalam ibadah haji, umat benar-benar akan merasakan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar merupakan pewaris, pengikut, sekaligus penyempurna agama Nabi Ibrahim AS. Perjalanan haji sendiri, separuhnya adalah napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Allah Azza wa Jalla berkenan mengabadikan perjuangan Nabi lbrahim AS dan keluarganya itu melalui ritual haji yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

"Haji, adalah soko guru terakhir yang sama pentingnya dengan soko guru lain dalam 'bangunan' Islam," ucap dr Tony, sapaan dr Briliantono M Soenarwo.

Proses haji dimulai dari miqat. Miqat adalah tempat di mana jamaah memakai pakaian ihram disertai niat akan melaksanakan ibadah haji. Sebelum miqat, jamaah melakukan mandi besar. Ini sebagai pertanda bahwa semua kotoran yang melekat di tubuh dan yang tersembunyi di dalam hati harus dibersihkan.

Lalu, para calon haji mengganti pakaian harian mereka dengan dua helai kain putih yang tak berjahit tepinya bagi laki-laki, atau memakai mukenah shalat bagi wanita. Tidak ada yang dibawa kecuali apa yang mereka pakai. Aturan-aturan haji yang ketat mulai berlaku bagi mereka sejak saat itu.

Miqat mengingatkan dari mana asal kejadian manusia. Mereka berasal dari Tuhan yang satu, Allah Azza wa Jalla. Mereka bukanlah siapa-siapa di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, mereka harus tunduk dan patuh sepenuhnya hanya kepada Allah yang telah menciptakan mereka.

"Sebab suka atau tidak suka, ikhlas atau terpaksa, manusia akan kembali kepada Allah," ujarnya. Fakta tersebut berlaku baik mereka yang percaya akan adanya Allah SWT dan patuh kepada-Nya, yang percaya tapi tidak patuh, atau mereka yang menyembah selain Allah SWT, dan menganggap apa yang mereka sembah itu adalah tuhan yang hakiki. Bahkan juga terhadap mereka yang sama sekali tidak percaya akan adanya Allah. Mereka semua akan kembali kepada Allah Yang Maha Tunggal.

Membulatkan niat di miqat adalah kata lain dari tekad membara dan keinginan kuat untuk senantiasa melaksanakan apa yang Allah SWT perintahkan dengan sekuat tenaga, dan menjauhi apa yang Allah SWT larang.

Di miqat ini pula hati seorang hamba hanya terpaut kepada Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung. Semua pautan yang akan memberatkan langkah kakinya dan mengganggu kemesraannya berdekat-dekat dengan Allah SWT harus tinggalkan.

Miqat adalah memancangkan niat, menghadirkan ketulusan dan keikhlasan. "Kalau selama ini mereka terlalu banyak berpura-pura, berbuat kebajikan dibarengi pretensi ingin dipuji atau dikenal orang, kali ini tidak bisa Iagi. Allah tidak bisa dibohongi," ujarnya.

Allah SWT mengetahui mana yang pura-pura, mana yang ikhlas. Miqat adalah tempat membulatkan tekad, sekaligus menanggalkan topeng yang menutupi wajah. Orang yang bertekad hanya akan menyembah Allah SWT adalah orang cerdas secara spiritual. Dia juga orang yang sehat hati, jiwa dan ruhaninya. (Rep/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru