Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Johny Pardede : Susah Angkat Prestasi Indonesia

*Ketum PSSI Jangan Mencari Nama, Siap Berkorban
- Jumat, 17 April 2015 16:05 WIB
316 view
Johny Pardede : Susah Angkat Prestasi Indonesia
Medan (SIB)- Mantan pemilik klub Harimau Tapanuli/Pardetex dan mantan manajer Timnas PSSI U-16, Johny Pardede akhirnya buka suara terkait perkembangan dan prestasi sepakbola Indonesia yang menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir ini.

Johny menilai banyak hal yang harus dibenahi di sepakbola Indonesia terutama masalah kepengurusan dan pembinaan yang banyak terjadi kekeliruan. Tentang buruknya kepengurusan menurut Johny hal ini tidak terjadi di PSSI Pusat saja, tapi juga di daerah. Oknum-oknum yang duduk di kepengurusan kesannya hanya ingin mencari "nama" demi kepentingan pribadi dan melupakan pembinaan.

Makanya jika hal seperti ini terus terjadi, Johny secara gamblang menyatakan dirinya merasa pesimis siapapun bakal Ketua Umum PSSI yang terpilih dalam Kongres PSSI di Surabaya 18 April 2015 mendatang susah untuk mengangkat prestasi sepakbola Indonesia. Pembina bola yang mampu mengantarkan Harimau Tapanuli tiga kali juara nasional Antar Klub 1993/95 dan sejumlah juara turnamen internasional di dalam dan luar negeri ini mengatakan, jika sepakbola Indonesia ke depannya mau maju dan berprestasi memang butuh komitmen serius dari pemerintah maupun pembina. Sebab prestasi timnas bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan instan. "Prestasi Timnas Indonesia sekarang ini mengalami titik rendah. Untuk tingkat Asia Tenggara saja kita tidak mampu  menyaingi Thailand, bahkan selalu menjadi bulan-bulanan lawan", katanya.

Kompetisi yang merupakan kasta tertinggi yakni Indonesia Super Liga (ISL) yang diputar selama ini menurut Johny, bentuknya hanya untuk hiburan saja, sedangkan dipandang dari sudut prestasi sama sekali tidak mengena.

Berangkat dari kondisi itu, pemerintah dan juga para Pembina harus serius membenahi sepakbola. Pembenahan itu dilakukan dengan berkiblat kepada salah satu teori pembinaan sepakbola Direktur Teknik Timnas Uruguay, Oscar Washington Tabarez Scalvo. “Teorinya untuk membangun tim sepakbola yang unggul diperlukan better coaches, better facilities, dan better player,” jelasnya.

Kalau pun mampu menerapkan teori itu, prestasi Timnas Indonesia tidak otomatis meningkat karena dibutuhkan 10 s ampai 14 tahun untuk menjadikannya benar-benar berkualitas dan disegani di kawasan Asia,” katanya.

Untuk menunjang teori tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki fasilitas dan melakukan pembinaan sejak dini terhadap pemain-pemain muda. Hal lain yang tak kalah pentingnya mendatangkan pelatih berkualitas dari luar negeri untuk melakukan seminar terhadap pelatih di daerah-daerah. Sementara kompetisi 10 tahun ke atas harus dilakukan setiap minggu untuk memperbanyak “jam terbang” dan pengalaman bertanding.

Johny yang juga mantan pemain klub HDTI era 80-an dalam kesempatan ini ingin berbagi pengalaman ketika ia dulu pernah bertemu dengan pelatih Will Coerver, mantan pelatih Feyenoord Belanda yang pernah menangani Timnas PSSI. “Sulit bagi Indonesia menciptakan Timnas yang tangguh dan berkualitas karena memang pemainnya tidak bisa bermain bola secara baik dan benar,” katanya.

Pada umumnya pemain Indonesia kata Will tidak memiliki dasar-dasar sepakbola yang baik. Satu contoh kata Johny melakukan passing dan dribble serta kontrol bola saja masih banyak yang tidak mampu. Jadi pantas saja kalau sampai sekarang pemain Indonesia tidak ada yang bisa bermain di Liga Jerman dan Liga Inggris. Jauh beda dengan pemain Jepang dan Korea yang puluhan  pemainnya merumput  di negara ini.

Ketika ditanya mengapa dirinya tidak berkeinginan lagi mengurus sepakbola. Secara tegas ia menjawab dirinya sekarang lebih memfokuskan hati dalam kegiatan  kerohanian. Begitupun ia mengetahui masih banyak pembina-pembina yang mau mengurus sepakbola Indonesia.

Menyinggung masalah Kongres PSSI yang hanya tinggal beberapa hari lagi, Johny menyarankan kepada calon Ketua umum PSSI yang baru agar mau mengabdi dan siap berkorban waktu dan dana. Sebaliknya jangan malah mau cari nama dan bermain politik.

Begitu juga masalah finansial yang sangat pelik disarankannya sebaiknya dana sponsor difokuskan untuk pembinaan usia dini di seluruh Indonesia. “Jika pembinaan dilakukan sejak usia dini saya yakin dalam 10 tahun mendatang sepakbola Indonesia akan maju dan punya bobot”, ungkapnya. (R8/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru