"Ahu Sisingamangaraja...! (Akulah Sisingamangaraja)" Inilah seruan sekaligus kata dan suara terakhir Raja Sisingamangaraja XII, gelar Ompu Pulo Batu Sinambela, ketika menghembuskan nafasnya terakhir akibat tembakan senjata di tubuhnya. Raja Batak yang kini menjadi salah satu hero dan pahlawan nasional Indonesia itu, akhirnya gugur setelah begitu lama menghindar dari pencarian tentara koloni Belanda, hanya karena Sisingamangaraja menolak untuk menyerah dan berdamai dengan Belanda.
Itulah yang terjadi pada 17 Juni 1907, persis 110 tahun lalu, di hutan Sikunaning (kawasan Tapanuli Utara yang kini bagian dari daerah Dairi--Buku 'Ahu Sisingamangaraja' hal 282).
Pada warta di buku-buku sejarah, selalu disebutkan bahwa orang atau serdadu yang berhasil menangkap dan menembak mati Raja Sisingamangaraja XII itu adalah Kapten Hans Christoffel, seorang serdadu tangguh asal Swiss kebanggaan Belanda karena keberaniannya sehingga menjadi serdadu bayaran koloni. Selama masa koloni Belanda di Indonesia, khususnya di masa pemerintahan Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur pimpinan JB van Heutsz (yang membawahi seluruh wilayah Sumatera), Hans Christoffel selalu dijuluki si 'Macan Aceh'.
Tapi, fakta ternyata bicara lain. Buku 'Ahu Sisingamangaraja' setebal 488 halaman karya WB Sidjabat edisi 1981, khususnya halaman 19 di Bab Pendahuluan, plus di halaman 275 hingga 285, terungkap jelas bahwa yang menembak mati si Raja Batak itu ternyata adalah warga pribumi sendiri yang diperalat serdadu Belanda (Christoffel) tersebut. Dia adalah Hamisi dari Tobelo-Halmahera (Maluku). Hamisi adalah salah satu anggota 'Brigade Ambon' yang menjadi bagian dari empat brigade pemburu Sisingamangaraja XII ketika itu, bersama 'Brigade Manado' , Brigade Cimahi (Jawa) dan 'Brigade Padang Panjang'.
Hamisi, 'algojo' sewaan Belanda itu memang terkenal paling berani di antara anak buah Christoffel. Dia dikenal sebagai seorang Alfur (penganut agama asli di Tobelo Halmahera Utara, bukan Kristen atau Islam). Namun, pada buku itu, sebagaimana tersirat dalam tulisan atau surat Van Temmen, salah satu anggota Christoffel, Hamisi ketika menemukan Sisingamangaraja XII di hutan itu sebenarnya sempat berseru agar tahan tembakan (tarok rencong) karena melihat Sisingamangaraja XII sedang memeluk putrinya Lopian yang sudah sekarat berlumuran darah akibat tembakan-tembakan yang diarahkan pada Sisngamangaraja XII.
Dalam bahasa Indonesia, surat atau tulisan Van Temmen itu adalah: seorang marsuse Ambon-bukan orang kulit putih (baca: Belanda) bertemu Sisingamangaraja dalam pengejaran di satu jurang. Tanpa menduga siapa yang di depannya, ia memerintahkan untuk meletakkan senjata: 'tarok rencong!' (Catatan: dalam sejarah kolonial, senjata api laras panjang dilengkapi hunusan sangkur semacam pedang yang oleh serdadu Belanda disebut rencong-Red,.)
Namun, karena Hamisi terus diperintah, Hamisi dari Tobelo itu akhirnya meletuskan senjata, dan peluru langsung menembus bagian jantung Raja Si Sisingamangaraja XII hingga gugur di tempat. Si Sisingamangaraja pun segera menghembuskan nafasnya penghabisan, hanya beberapa meter saja sambil mendekap putrinya Lopian, dia berseru: "Ahu Sisingamangaraja", si Raja Batak, hero dan pahlawan nasional Indonesia, yang jadi korban adu domba si 'Macan Aceh', algojo Belanda (Christoffel) asal Swiss yang memperalat anak Maluku (Hamisi) di Bumi Tapanuli.
Pemburuan 'Setengah Mati'
Pasca penolakan mentah-mentah Raja Sisingamangaraja untuk berdamai dan menyerah dan tunduk pada pemerintahan koloni, Gubernur Jenderal JB Van Heutsz setelah berkuasa di Istana Bogor terus memerintahkan pasukan Kapten Hans Christoffel untuk memburu dan membunuh (tembak di tempat) Sisingamangaraja XII sampai di mana atau ke manapun.
Pencarian dan pemburuan si Raja Batak mandra sakti itu ternyata tidaklah mudah. Christoffel dan van Temmen bahkan pernah menulis: "Si Sisingamangaraja kalau berjalan di hutan selalu menginjak tanah yang keras, supaya jejak kakinya tidak kelihatan dan kalau menyeberangi sungai, beliau tidak lantas menyeberang begitu saja, tetapi berjalan dulu ke arah hulu atau hilir pada suatu jarak tertentu sebelum pergi ke tepi sehingga sulit mencari jejaknya."
Ketika di dusun Alahan, pasukan pemburu merazia rumah-rumah dan gubuk-gubuk itu dan terus mencari ke semua desa lainnya, namun tidak menemukan Si Sisingamangaraja. Kecepatan rombongan Sisingamangaraja bergerak menghindar ternyata tidak kalah cepat dengan kecepatan serdadu yang sudah mendapat latihan khusus untuk dapat bergerak dengan cepat.
Christoffel dengan pasukannya kemudian berangkat pada 16 Juni 1907 pukul 6.30 dari Kuta Tengah (kini Dairi) dan sampai ke Lae (sungai) Kundur pada pukul 18.00. Christoffel memutuskan untuk terus menyeberangi sungai itu, sekalipun sudah malam. Mereka terpaksa memakai obor, agar tidak terjatuh ke dalam jurang yang harus mereka lalui di malam hari. Alahan dikepung dan dikuasai sekira pukul 01.00. Serangan fajar itu sangat di luar kebiasaan praktek militer. Namun Christoffel menggencarkannya.
Kisah menyebutkan, aksi itu didorong prilaku pasukan yang sudah 'sarat' minum arak (tuak) agar serba patuh atas perintah sang algojo Christoffel. Hamisi mengakui, minum arak lalu berjoget cakalele sebelum berangkat tugas adalah hal yang terus menerus dan berulang-ulang terjadi dalam pemburuan 'setengah mati' mencari Sisingamangaraja itu.
Saat itulah, di satu kawasan hutan Sikunaning di dusun Alahan, pembuntutan berakhir ketika pasukan Hamisi mendengar suara ranting kayu kering yang patah terpijak seseorang. Barisan algojo itu yakin telah menemukan persembunyian Sisingamangaraja. Christoffel dengan gaya militer langsung membagi tugas pasukannya dalam tiga kelompok dengan model kepungan "ladam kuda", yang masing-masing terdiri 10 orang. Tembak menembak pun tak terelakkan di hutan Alahan pada dinihari itu. Posisi persembunyian pada lokasi hutan berjurang membuat pasukan Sisingamangaraja terjepit, karena tidak ada jalan lain untuk menghindar lanjut.
Pada posisi terjepit dan terdesak itu putra dan putri Sisingamangaraja (Patuan Nagari dan Patuan Anggi) segera mengambil senjatanya dan menembaki pasukan Letnan van Temmen, tetapi tembakan demi tembakan itu meleset karena banyak terkena pohon yang menjadi pelindung pasukan lawan. Seorang rekan Hamisi, Jailolo dari Ternate pernah berkisah sesudah pertempuran berlangsung hampir satu jam Patuan Nagari dan Patuan Anggi pun kena peluru, dan meninggal di tepi jurang itu, karena pohon tempatnya berlindung lebih kecil dari tubuhnya.
Pada detik itulah Hamisi membidikkan senjatanya ke arah Sisingamangaraja. Niatnya untuk menembak sempat tertahan, namun akhirnya meletus juga atas seruan dan perintah Christoffel. Si Raja Batak sang Pahlawan Bangsa itu pun gugur dalam pertempuran bermodus adu domba koloni Belanda yang memperalat anak pribumi negeri ini. Tapi, Sisingamangaraja dalam nafas terakhirnya tidak juga terdengar kata menyerah, tapi tegar berseru menitip pesan heroik abadi "Ahu Sisingamangaraja".
(d)