Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 26 April 2026

Menikmati Kemewahan di Tengah Sawah

- Minggu, 13 Januari 2019 15:38 WIB
464 view
Menikmati Kemewahan di Tengah Sawah
SIB/Dok. Plataran
Area kolam renang yang bersebelahan dengan sawah.
Jakarta, (SIB)-Ketika nama Ubud terlintas di kepala langsung terbayang hamparan sawah lengkap dengan padi dan burung bangau yang berkeliaran. Selepas dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, di dalam mobil otak terus merajut lukisan alam yang mendatangkan kedamaian.

Masuk di Jalan Raya Hanoman, mobil melambat dan mulai merapat ke depan Plataran Ubud Resort & Spa.

Di Bali, Plataran dapat ditemui di dua lokasi lain yakni Canggu (Plataran Canggu Resort & Spa) dan Taman Nasional Bali Barat (Plataran Menjangan Resort & Spa dan Bajul Eco Lodge by Plataran). Untuk yang satu ini, di Ubud, harapannya ada suasana pedesaan lengkap dengan sawahnya.

Saat turun dari mobil, satu pertanyaan muncul. Mana sawahnya?

Otak terus berkecamuk antara lega karena berhasil melewati kemacetan lalu lintas sekaligus risau. Sawah macam apa yang ada di hotel pinggir jalan begini?

Beberapa menit berlalu demi menanti kunci kamar. Seorang staf perempuan berkebaya hijau lembut menunjuk kendaraan mini untuk mengangkut barang bawaan beserta pemiliknya. Bingung tapi akhirnya menurut saja.

Staf laki-laki mengemudikan perlahan. Kami melintasi pagar tembok penuh tanaman merambat. Ada pula sebuah lahan berumput hijau dengan ayam kalkun asyik mengais rerumputan. Suara gemericik air kolam menyusul pada detik berikutnya.

Tatkala pemandangan warna biru berupa kolam renang berhimpit dengan sawah yang hijau. Kontras dan memberikan suatu kejutan buat saya.

Biasanya orang mengenal konsep infinity pool yakni kolam renang yang seakan tanpa batas karena langsung menghadap laut. Kini kolam renang di hadapan saya mungkin bisa disebut mewah pool. Mewah alias mepet sawah.

Buat mereka yang gemar berenang bisa saja merasakan sensasi berbeda berenang di tengah sawah. Mau berjemur pun juga bisa. Antimainstream kalau kata generasi milenial.

Kejutan berikutnya ialah letak kamar yang menghadap kolam renang plus sawah tadi. Balkon kecil dekat pintu kaca cukup memuaskan untuk menikmati pemandangan langit sore yang mendung.

Rupanya, sawah tak hanya sebatas 'hiasan' kolam renang. Restoran The View tak kalah dengan suguhan pemandangan sawah bahkan jika langit bersahabat, maka tampak lukisan gunung.

Wajib memulai pagi dengan sarapan. Di restoran, tamu dapat memilih menu yang diinginkan mulai dari menu ala Barat seperti salad, kentang goreng, bacon, telur orak arik hingga sosis panggang. Tak ketinggalan menu Indonesia berupa rendang, sate, dan bubur ayam.

Bersantap makin mantap kala mata dimanjakan dengan pemandangan sawah. Sayangnya, sawah masih dalam proses pembajakan. Jika ingin pemandangan sawah yang mulai berisi atau menguning, kunjungan akan terasa pas di bulan April-Mei.

Plataran Ubud seolah tak membiarkan tamunya sekadar berkunjung tanpa membawa hal yang berkesan. Tamu diberikan menu-menu kegiatan yang bisa dipilih secara cuma-cuma.

Dalam seminggu, ada beberapa aktivitas berbeda yang bisa dipilih. Misal seperti saya yang berkunjung pada Senin dan ingin terlibat dalam aktivitas di Selasa sehingga pilihannya ada jalan pagi, kostum Bali, dan membuat canang.

Jika ingin berfoto dengan pakaian adat Bali, pilihan jatuh pada Balinese Costume (kostum Bali). Tamu diberi kesempatan mengenakan busana adat selama satu jam. Waktu bisa dimanfaatkan untuk berfoto di lingkungan penginapan hingga ke sawahnya.

Akan tetapi, saya tak melewatkan tawaran spesial dari Plataran Ubud yakni memasak. Tamu diajak memasak di bawah pohoh besar dan menghadap hamparan sawah. Chef I Wayan Sukarata mendampingi saya dan tamu lain memasak empat jenis masakan yakni, lawar be siap (lawar daging ayam), sate lilit ayam, pepes ikan dan dadar gulung nangka.

Menu ini bakal jadi menu santap siang sehingga persiapan awal dilakukan sejak pagi sekitar pukul 08.00 WITA. Ditemani Chef Wayan, kami diajak ke Pasar Ubud untuk membeli sedikit bahan.

"Bahan semua sudah ada di hotel, kita hanya beli kelapa. Di sini tujuannya agar tamu tahu dari mana bahan-bahan masakan berasal," ujarnya sembari 'blusukan' di pasar.

Dia menyodorkan uang Rp5ribu untuk mendapatkan sebutir kelapa kupas. Kami beranjak dari pasar setelah beberapa menit berkeliling.

Sesampainya di penginapan, kami digiring ke area belakang penginapan. Alat masak sudah siap bahkan meja dan kursi untuk kami bersantap.

Perut lapar tak terasa saat kami mendengarkan penjelasan Chef Wayan. Ia pun membiarkan kami yang tak pandai-pandai amat memasak untuk turut terlibat. Rasanya senang saat bisa membungkus parutan kelapa dan potongan nangka menjadi dadar gulung sebagai hidangan penutup.

Rasanya khawatir mau jadi apa masakan ini. Namun ternyata hasilnya tak buruk. Kami menyantap hasil masakan dengan rasa bangga karena bisa menghasilkan hidangan yang bisa disantap. Minimal rasanya tidak kacau karena kami mengikuti resep yang ada.

Agaknya Plataran Ubud menawarkan konsep hotel mewah dengan nunasa persawahan yang kental. Rasanya kontras karena ada kesan tak menyatu dengan kearifan lokal yang sederhana dan bersahaja.

Akan tetapi Dwi Nanda, Marketing Komunikasi Plataran Bali dan Indonesia Timur menuturkan Plataran Ubud tetap mempertahankan kekhasan Plataran yakni lokasi di permata tersembunyi dan arsitektur joglo.

Plataran dikenal selalu mengusung konsep hunian yang agak berjarak dari hiruk pikuk keramaian. Sedangkan untuk arsitektur, penginapan ini memiliki desain layaknya joglo atau hunian khas Jawa.

Ini pun sebagai bentuk asimilasi dengan budaya Indonesia jadi tidak melulu menawarkan konsep modern dan minimalis. (CNNI/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru