Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Kepala Sekolah Masa Depan Harus Berjiwa Wirausaha

* Tak Hanya Berasal dari Guru Tapi Bisa Praktisi
- Senin, 10 Oktober 2016 17:23 WIB
247 view
Kepala Sekolah Masa Depan Harus Berjiwa Wirausaha
Jakarta (SIB)- Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta mengatakan ke depan kepala sekolah tak hanya sebagai pengelola sekolah tetapi harus mempunyai jiwa wirausaha.

"Sekarang, kami sedang menyusun regulasi untuk merancang ulang peran kepala sekolah dan komite, yang mana nantinya kepala sekolah dan guru diberikan tugas tambahan," ujar Ananto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Dalam peraturan yang disusun itu, kepala sekolah dan guru tidak hanya sekadar mengajar, tetapi akan diberi beban tambahan juga berperan sebagai pengusaha dalam menggalang dana dari masyarakat.

"Hal itu tentu saja tidak mudah, karena kita akan bertarung di level lain. Tapi fungsinya melakukan internal audit terhadap sumber daya manusia di sekolah, dan juga ikut menggalang dana dari masyarakat," tambah dia.

Ke depan, lanjut dia, jabatan kepala sekolah tidak hanya berasal dari guru, tetapi juga dari praktisi yang berasal dari dunia industri. Dengan peran kepsek sebagai pengusaha, maka partisipasi masyarakat akan lebih mudah.

Begitu juga dengan komite sekolah, yang nantinya tidak hanya bertugas melakukan internal audit terhadap sumber daya manusia di sekolah, tetapi juga menggalang masyarakat untuk ikut mendanai atau berpatisipasi dalam sekolah itu.

Saat ini, pihaknya juga sedang melakukan riset mengenai biaya pendidikan di beberapa daerah. Hal itu bertujuan untuk mengetahui berapa anggaran yang dibutuhkan satu siswa di daerah satu dengan daerah lainnya.

"Dengan demikian, kita bisa menghitung apakah intervensi yang kita lakukan tersebut sudah benar atau belum," lanjut dia.

Dengan demikian juga bisa dilihat seberapa besar komitmen pemerintah daerah terhadap pendidikan. Dia memberi contoh ada daerah yang anggarannya besar seperti DKI Jakarta, tetapi nilai ujian nasional (UN) hanya peringkat tiga, tetapi ada juga daerah yang anggaran pendidikannya rendah seperti Yogyakarta tetapi nilai UN tinggi. (Ant/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru