Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Mahasiswa Politeknik SOCA Tuntut Kejelasan Wisuda dan Ijazah

- Selasa, 22 November 2016 10:28 WIB
1.651 view
Mahasiswa Politeknik SOCA Tuntut Kejelasan Wisuda dan Ijazah
Ist
Ijazah
Jakarta, (SIB): Puluhan mahasiwa Politeknik SOCA, didampingi para orang tua, mengadakan pertemuan dengan pihak kampus dan yayasan Politeknik SOCA yang digelar di Basuki Building, Jakarta, (21/11), guna menuntut kejelasan ijazah dan wisuda mahasiswa yang terkatung-katung.  

Direktur Politeknik SOCA, Dr Topo Suprihadi, mengakui hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan manajerial pengurus lama."Mereka hanya biasa ngajar. Tapi soal administrasi akademi, mereka tidak tahu bagaimana cara mengelola administrasi sesuai aturan DIKTI. Semua data ada, tapi seperti apa prosesnya tidak tersaji dengan baik,"ujar dia.

Menurut Topo, Politeknik SOCA berupaya menyesuaikan dengan aturan DIKTI. Namun ternyata data-data, antara lain, berupa nilai-nilai dan ijazah SMA belum terkumpul dengan lengkap sebagai syarat dilakukannya wisuda."Data-datanya masih harus kita cari," kata dia.

Lebih jauh Topo menjelaskan Politeknik SOCA berawal dari Institut Musik Indonesia (IMI), sebuah lembaga pendidikan musik yang berdedikasi dalam pengembangan kompetensi seni di Indonesia. Pada tahun 2013, IMI berubah menjadi Sekolah Tinggi Musik Basuki Indonesia (STMBI).

Ketika pihak yayasan (owner) memproses dengan mendaftarkan STMBI ke DIKTI, tiba-tiba pihak DIKTI mengatakan, "Ini mahasiswanya dididik lebih kepada keahlian bukan kepada teori, lalu kenapa menggunakan sekolah tinggi? Sebab akan repot juga ketika mencari kerja karena nantinya."

"Maka pihak DIKTI merekomendasikan mengubah dari STMBI menjadi Politeknik SOCA. Pasalnya, institusi perguruan tinggi yang mengajarkan keahlian dan dibekali akademis, hanya politeknik. Maka diubahlah menjadi politeknik sejak 2014," terang Topo.

Topo berjanji akan menyelesaikan tuntutan para mahasiswa dan orang tua mahasiwa dengan memproses data sampai Januari 2017. "Dari 150 mahasiswa, yang akan lulus 32 mahasiwa. Namun, karena keteledoran manajemen, mereka belum didaftarkan ke DIKTI padahal mereka sudah memenuhi kriteria aturan kemahasiswaan. Dari segi akademis kita punya. Cuma belum didata dengan baik," pungkas dia.

Salah seorang mahasiswa SOCA (angkatan 23), Attar Roozen, yang masuk kuliah tahun 2012, berharap wisuda dan ijazahnya dapat segera direalisasikan."Ijazah itu adalah hak, mau tak mau harus dapat dong," kata dia.

Dijelaskan Attar, ketika lulus, dirinya melamar kerja mengalami persoalan. "Pas interview, katanya, belum sah ini (karena belum ada ijazah-Red)," kata dia.

Sementara Haposan Hutagalung, selaku pendamping orang tua, menegaskan agar pihak kampus dan yayasan meminta maaf atas ketelodoran yang terjadi. 
"Peristiwa yang lalu, saya mau katakan itu kebohongan. Kalau itu tidak diakui oleh pihak yayasan kita akan lapor ke polisi. Kita mesti jujur, yang lalu tetap harus ada permohonan maaf dan itu penting. Kalau ngotot saya akan buktikan bahwa itu pidana," tegas dia.(G03/victor)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru