Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Sekolah Harus Ciptakan Atmosfer Berkompetisi

* Banyak Sekolah Salah Perlakukan Siswa Berprestasi
- Senin, 20 Maret 2017 21:02 WIB
317 view
Jakarta (SIB) -Masih banyak sekolah yang salah kaprah dalam memperlakukan anak-anak berpotensi dan berprestasi. Sekolah hendaknya kreatif untuk menggali dan mengembangkan anak sesuai bakat dan kemampuannya. Sekolah mesti melakukan improvisasi agar para siswa bisa berkembang sesuai dengan bakat mereka.

"Memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, saat menerima 12 siswa Global Sevilla School yang pada akhir tahun lalu meraih 44 medali dalam kompetisi World Scholars Cup (WSC), di Jakarta, Rabu (15/3). Menurut Mendikbud, masih banyak sekolah yang menerapkan cara-cara klasik dalam membina dan mendidik peserta didik. Sering kali, siswa yang pintar tidak diberi akses untuk berkembang, sebaliknya siswa yang kurang cerdas justru dipaksa untuk setara dengan anak-anak dengan kemampuan di atas rata-rata.

Improvisasi dalam mengelola potensi peserta didik juga diharapkan terjadi di sekolah-sekolah negeri, tidak hanya menjadi monopoli sekolah-sekolah swasta. Tidak hanya mampu menemukan bakat dan potensi siswa, sekolah juga harus mampu memberi ruang kepada siswa untuk berkompetisi di internal maupun luar sekolah. "Tidak hanya tingkat nasional, namun juga internasional 3jika perlu," tandas mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Hadir dalam kesempatan itu, Dewan Penasihat Global Sevilla School, Omi Komaria Madjid, dan Kepala Sekolah Global Sevilla School, Robertus Budi Setiono, dan Direktur Pembinaan SMP Kemendikbud, Supriano.

MENGGALANG DANA
Mendikbud berharap sekolah tidak selalu bersembunyi dalam alasan keterbatasan anggaran dalam menciptakan akses bagi siswa untuk berkompetisi. Saat ini, sekolah dimungkinkan untuk menggalang dana dari luar, termasuk orang tua dan corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan, seperti yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah.

Seperti yang terjadi di Global Sevilla School, para orang tua mendukung penuh kegiatan siswa untuk mengikuti berbagai ajang bergengsi yang digelar di luar sekolah. Dukungan tidak hanya berupa dana, namun juga membantu sekolah untuk menciptakan atmosfer berkompetisi di jiwa siswa. Tentang 44 medali WSC 2016 yang berhasil diraih 12 siswa kelas 9 Global Sevilla School, Robertus menjelaskan hal itu merupakan buah dari perpaduan kurikulum yang diterapkan sekolahnya, yaitu K-13 dengan kurikulum Cambridge.

"Kami berterima kasih kepada para orang tua yang memberikan dukungan penuh kepada anak-anaknya agar dapat mengikuti kompetisi WSC tersebut," tuturnya. Pengamat pendidikan dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji, mengatakan problem utama yang terjadi di sekolah adalah pengelolaan siswa yang seperti mengelola benda mati. "Semua diperlakukan sama, yang pintar, yang kurang pandai, berbakat di seni, berbakat di menulis, semuanya disamaratakan," sebut Indra. Menurut Indra, sekolah yang baik harus memiliki cara-cara kerja seperti dokter.

Setiap dokter akan melakukan diagnosa terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan akan memberi obat dan metode pengobatan. "Harus ditensi dulu, pakai stetoskop, cek darah, cek urine, rontgen, USG, dan sebagainya. Semua tindakan yang dilakukan berbasis data," kata Indra. Dia berharap, dalam UNBK nanti dapat menjadi e-assessment bagi pengenalan potensi siswa. Indra mengaku budaya salah mengelola potensi siswa memang masih banyak terjadi.

Sekolah dengan segudang prestasi selalu diidentikkan dengan sekolah yang mahal dan beranggaran berlimpah. Padahal, menurutnya, modal dasar dalam mengelola, menggali potensi siswa adalah kreativitas dan kemauan. Tanpa kedua hal itu, berapa pun anggaran yang digelontorkan pemerintah tidak akan berdampak signifikan terhadap kemajuan sekolah. (KJ/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru