Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026
Peneliti Publikasi Internasional Diganjar Rp 100 Juta

Penelitian Rendah Daya Saing Bangsa Menurun

- Senin, 07 Desember 2015 16:13 WIB
418 view
Penelitian Rendah Daya Saing Bangsa Menurun
Jakarta (SIB)- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberikan penghargaan kepada para peneliti yang berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional atau yang terindeks oleh lembaga bereputasi internasional.

"Tujuan dari pemberian penghargaan ini adalah untuk meningkatkan publikasi di Tanah Air, terutama melalui publikasi internasional," kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir, di Jakarta, Jumat.

Publikasi internasional, lanjut dia, sangat berkaitan dengan daya saing bangsa. Peringkat daya saing ekonomi Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 2015­2016 mengalami penurunan, dari yang sebelumnya berada pada urutan 34 menjadi 37 dari 140 negara.

Peringkat itu kalah dari tiga negara yakni Singapura (2), Malaysia (18)  dan Thailand (32). Indonesia unggul jika dibandingkan Filipina (47), Vietnam (56), Laos (83), Kamboja (90), dan Myanmar (131).

Dalam pemeringkatan, WEF menggabungkan data kuantitatif dan survei, yang mana penilaian peringkat daya saing global ini didasarkan pada 113 indikator yang dikelompokkan dalam 12 pilar daya saing, yaitu institusi, infrastruktur, kondisi dan situasi ekonomi  makro, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tingkat atas dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi tenaga kerja, pengembangan pasar finansial, kesiapan teknologi, ukuran pasar, lingkungan bisnis, dan inovasi.

"Penyebab daya saing kita menurun adalah rendahnya penelitian, yang merupakan modal dasar dari inovasi," jelas dia.

Menristekdikti menambahkan pihaknya dan LPDP melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan peringkat daya saing bangsa melalui teknologi dan inovasi.
Kedua pilar tersebut salah satunya didukung oleh produktivitas riset yang dipublikasikan dalam  jurnal ilmiah internasional.

Publikasi hasil­ penelitian merupakan bagian penting dari metoda ilmiah. Lembaga  pemeringkat internasional Scimago Institution Ranking pada 2014 menempatkan Indonesia pada posisi 52 dalam publikasi  ilmiah  internasional,  berada  jauh  di  bawah Malaysia(23), Singapura (33), dan Thailand (40).

"Melalui Program Penghargaan Publikasi Ilmiah  Internasional (PPII) LPDP diharapkan dapat memacu periset Indonesia untuk menulis di jurnal­ internasional yang pada  akhirnya meningkatkan jumlah  publikasi ilmiah internasional."

Direktur Pendanaan Riset LPDP, M Sofwan Effendy, mengatakan program itu merupakan bentuk anugerah berupa uang tunai kepada periset yang berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya di jurnal internasional.

"Penghargaan ini, khususnya ditujukan untuk artikel ilmiah yang bertema strategis terkait dengan pengembangan khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.

Penghargaan itu diberikan paling tinggi sebesar Rp100 juta, yang diberikan kepada  artikel ilmiah yang terbit di jurnal terindeks oleh lembaga  pengindeks  jurnal ilmiah  bertaraf internasional dengan "Impact  Factor" (IF) serendah­-rendahnya  0,1 dan sitasi  serendah­rendahnya satu. Penilaian tersebut juga mempertimbangkan rumpun bidang  ilmu, distribusi geografis, dan kategori perguruan tinggi.

Program itu diselenggarakan dua kali dalam setahun yakni 20  Mei dan 17 Agustus setiap  tahunnya. Sementara itu, untuk  pendaftarannya dapat dilakukan sepanjang tahun secara "online" melalui laman. (Ant/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru