Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Tak Perlu Cemas Hadapi MEA 2016

- Senin, 11 Januari 2016 17:08 WIB
389 view
Tak Perlu Cemas Hadapi MEA 2016
Medan (SIB)- Kita tidak perlu merasa cemas yang berlebihan  menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di tahun 2016 ini karena ini sudah merupakan kesepakatan negara-negara ASEAN, kata  Rektor UMSU Dr Agussani MAP di ruang kerjanya, Senin (4/1).

Disebutkannya, gagasan MEA yang sudah didesain sejak KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003, tidak mungkin ditunda lagi dan dilaksanakan di 2016 ini,  mengingat MEA 2015 diikat dalam suatu payung hukum, berupa Piagam ASEAN ditandatangani para pemimpin negara ASEAN pada  2007.

Berdasarkan Direktori Perguruan Tinggi Swasta Sumatera Utara 2014 meliputi Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi, Politeknik memiliki 253 Perguruan Tinggi yang tersebar di berbagai daerah di Sumut hal ini merupakan peluang besar untuk bersatu menghadapi MEA, karena sudah memiliki profil lulusan masing-masing,

Perguruan tinggi Sumut siap dalam menghadapi mau tidak mau pasti akan dihadapi, terutama berbagi pengetahuan hardskill dan wawasan orientasi kualitas dalam menghasilkan lulusannya, Pembekalan soft skills seperti kemampuan berkomunikasi, leadership, kemampuan beradaptasi, etos kerja, serta kemampuan tambahan berbahasa asing serta penguasaan teknologi informasi yang baik, perlu dikembangkan di perguruan tinggi sebagai bagian untuk meningkatkan daya saing lulusan dengan melaksanakan program peraturan presiden Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2012 tentang penerapan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.

Sebagaimana disampaikan mantan Mendikbud Muhammad Nuh saat peringatan Hardiknas 2012 bahwa “tahun ini kami canangkan sebagai masa ‘menanam’ generasi emas tersebut. Dari 2012-2035, Indonesia mendapat bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif paling tinggi di antara usia anak-anak dan orang tua”. Bonus demografi ini menggambarkan situasi dimana jumlah penduduk usia produktif 15-60 tahun lebih tinggi daripada usia nonproduktif. Secara teoritik ini bermakna lebih banyak output nasional yang bisa dihasilkan karena angkatan kerja lebih banyak dari yang bukan angkatan kerja.

Generasi emas 2045 yang diharapkan mewujudkan bersamaan dengan masa bonus demografi, bonus itu bisa lewat begitu saja, tanpa bekas, tanpa memberikan kemajuan spektakuler seperti diharapkan, apabila tidak diikuti upaya serius untuk mengoptimalkan angkatan kerja yang jumlahnya lebih banyak dari non-angkatan kerja. Bahkan angkatan kerja yang besar itu bisa menjadi malapetaka manakala mereka tidak memberikan kontribusi pada penambahan output nasional karena tidak bekerja atau tidak memperoleh pekerjaan.

Jadi untuk menghadapi MEA  ini, PTS di Sumut harus saling bahu membahu membantu dan memotivasi Perguruan Tinggi yang ada di Sumut dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia khusus dibidang pendidikan dengan melaksanakan kerjasama tridarma serta melakukan kerjasama dengan perusahaan nasional dan internasional dan membekali mahasiswa dengan berwirausaha mandiri serta dapat membuka lapangan pekerjaan, serta berpikir positif kedatangan MEA dalam perluasan pasar bagi produk dan jasa Indonesia serta terbukanya peluang lapangan kerja bagi tenaga kerja terampil Indonesia, dan salah satu jalan untuk memajukan mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan cara memanggil pulang kembali ahli-ahli keilmuan yang bekerja di negara lain untuk memajukan pendidikan di Indonesia, katanya. (A01/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru