Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Muhammadiyah: Radikalisme Tidak Tumbuh di Kampus Riset

- Senin, 25 Januari 2016 16:58 WIB
269 view
Muhammadiyah: Radikalisme Tidak Tumbuh di Kampus Riset
Jakarta (SIB)- Paham radikal dan paham keagamaan yang sesat tidak akan tumbuh di kampus dengan basis riset yang kuat, kata Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Zamahsari.

"Dengan budaya riset generasi muda terlatih berpikir rasional dan objektif," katanya di sela workshop Pengembangan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang dihadiri wakil-wakil dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia di Jakarta, Jumat.

Wakil Rektor bidang Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) itu mengatakan, agama terkait erat dengan dimensi emosional karena itu pikiran rasional dan objektif diperlukan saat mendalami agama.

Pendalaman agama juga harus dibarengi dengan dialog dan pikiran terbuka dalam melihat realitas kehidupan yang multikultural dan tidak menutup diri atau memaksakan kehendak, ujarnya.

Hal ini terkait dengan tudingan bahwa gerakan radikal dan aliran sesat kebanyakan dipimpin oleh oknum lulusan kampus keagamaan atau bahkan pesantren, ujarnya.

Ia mengatakan, ada tafsir yang bersifat radikal terhadap teks keagamaan seperti Quran dan hadist, karena itu diperlukan riset dan penjelasan secara akademik sehingga tidak menyimpang dari pemahaman yang benar menurut Islam.

Pendekatan riset yang rasional juga mendidik pemuda untuk tidak melihat kemiskinan dan ketimpangan sosial secara emosional, tetapi dengan mencoba mencari sebab, penjelasan dan solusinya, ujarnya.

Muhammadiyah, lanjut dia, telah bertekad memperkuat riset di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia yang jumlahnya 165 kampus, baik riset di bidang sains maupun sosial.

"Ini juga terkait dengan peringkat lembaga penelitian di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang menurut Dirjen Dikti baru satu yang tercatat dalam klaster mandiri dan dua yang tercatat di klaster Utama, sisanya yang 162 kampus masih di klaster Madya dan Binaan," katanya.

Klaster Mandiri merupakan kategori tertinggi dalam standarisasi penelitian di universitas menurut Dirjen Dikti, diikuti Utama, Madya dan yang terendah klaster Binaan, ujarnya. (Ant/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru