Pikiran- adalah pelopor dari segala sesuatu,
Pikiran adalah pemimpin, Pikiran adalah pembentuk
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
Maka kebahagiaan akan mengikutinya,
Bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.
-Dhammmapada-
Dalam hidup modern yang serba tergesa-gesa ini, manusia mengalami banyak tuntutan, godaan, dan berbagai kondisi yang membuat batin senantiasa bergolak. Ritme hidup berjalan begitu cepat, sampai kadang-kadang kita sendiri menjadi tidak menyadari apa yang sedang kita lakukan saat ini. Tidak heran kalau sering orang mempertanyakan arti hidupnya, karena ia merasa terjebak dalam perputaran yang makin lama makin cepat dan memusingkan. Kondisi seperti ini akan menggiring individu untuk masuk ke situasi stress apabila tidak mampu ia selesaikan.
Stress sebagai penyakit masyarakat modern hanyalah awal dari berbagai penyakit yang menimpa umat manusia, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dari mulai yang sepele, seperti sakit kulit, maag, sampai ke penyakit gawat seperti sakit jantung maupun kanker dipicu oleh hidup penuh stress yang tidak dapat diatasi. Lantas bagaimana mengatasinya, karena kalau manusia berhenti dari kesibukan itu, ia kehilangan pencaharian yang akan memicu timbulnya stress baru?
Buddha memperkenalkan satu teknik bernama Meditasi untuk menyelesaikan permasalahan hidup ini. Meditasi ini bukan monopoli agama Buddha, karena jauh sebelum Buddha lahir meditasi telah dipraktekkan di berbagai peradaban dunia, tetapi Buddhalah yang pertama menjadikan meditasi sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan. Buddha juga merupakan penemu satu teknik meditasi bernama Vipassana. Vipassana adalah bahasa India yang berarti mengamati segala sesuatu seperti apa sesungguhnya mereka. Teknik meditasi ini telah diajarkan dalam berbagai versi oleh berbagai guru. Masing-masing versi memiliki perbedaan, dan tidak ada satupun versi yang sesuai bagi semua orang. Setiap orang memiliki versi sendiri yang ia anggap paling cocok bagi dirinya untuk dipraktekkan.
Meditasi telah mulai dianggap oleh berbagai kalangan sebagai obat untuk mengatasi masalah kehidupan, sampai ada yang menyebutnya sebagai the art of live, seni hidup. Tapi masih banyak yang tidak percaya akan manfaat dari meditasi ini. Bagaimana mungkin hanya dengan duduk diam menahan pegal dapat menjadi obat mujarab menghadapi masalah hidup dan mendapatkan kebahagiaan, sementara ia sudah mencoba mencari dari gunung sampai ke laut dan belum bertemu jawabannya. Begitulah pandangan skeptic dari beberapa orang yang tidak mempercayai mujarabnya cara yang bernama meditasi ini.
Apa yang terjadi saat bermeditasi?
Dalam meditasi Vipassana, meditator dibimbing langkah demi langkah dan diajak untuk melihat ke dalam dirinya sendiri, gejolak pikirannya, perasaannya, emosinya, tanpa ikut terlarut dalam semua itu. Jika hal ini telah mampu dijalankan dalam kehidupan sehari-harinya, tentu dapat dibayangkan fungsinya. Individu tidak lagi terlarut dalam emosi yang membuat nya melakukan hal-hal yang kemudian ia sesali. Emosi itu bukan ditahan tapi disadari sehingga menjadi netral dengan sendirinya, kalau ditahan tentunya akan berpotensi untuk meledak pada satu waktu. Cara pandang menjadi berubah, dulunya orang jengkel ketika kondisi tidak seperti yang ia harapkan, ketika orang lain tidak berlaku sebagaimana yang ia harapkan, namun dengan kesadaran seperti ini ia dapat menerima semua hal ini dengan penuh kesadaran.
Banyak orang kemudian mendapatkan hidupnya lebih baik dengan mempraktekkan latihan meditasi ini secara rutin. Ada yang mengaku penyakitnya menjadi sembuh, ada juga perkawinan diambang perceraian yang dapat diselamatkan karena latihan ini, tidak sedikit juga yang merasa jadi lebih sakti karena latihan meditasi, namun itu hanyalah efek sampingnya saja. Tujuan utama dari meditasi ini adalah pemurnian pikiran.
Alm Goenka, salah seorang pengajar meditasi Vipassana sangat terkenal dari Myanmar pernah ditolak oleh Gurunya Sayagyi U Ba Khin saat ia datang belajar meditasi untuk menyembuhkan sakit kepalanya yang luar biasa dan tidak tersembuhkan. Gurunya saat itu menolak dan berkata bahwa teknik ini terlalu bagus untuk hanya sekedar menyembuhkan sakit kepala. Akhirnya Goenka setuju untuk belajar. Ia kemudian memetik manfaat dari meditasi Vipassana ini, sakit kepalanya sembuh dan hidupnya menjadi lebih baik. Hal ini mendorongnya untuk memutuskan melepas bisnisnya dan mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan teknik meditasi ini kepada orang-orang yang mau belajar. Saat ini pusat meditasi Vipassana yang mengajarkan teknik Goenka ini telah tersebar di mana-mana di seluruh dunia dengan siswa dari berbagai kalangan yang memetik manfaat dari latihan meditasi ini.
Pikiran, sebagaimana dikatakan Buddha, adalah pelopor. Dengan pikiran tenang seimbang, individu tidak lagi mudah terlarut dalam suasana hati maupun kondisi lingkungan. Damai dalam diri terpelihara, dan hal ini juga membawa damai bagi lingkungannya. Dengan kondisi seperti ini, nibbana atau surga sudah dapat dicicipi tanpa kita harus mati lebih dahulu. Kalau telah begitu banyak orang di dunia sudah memetik manfaat dari melaksanakan meditasi, kenapa kamu masih belum memulainya ? (r)