Roma (SIB)- Hampir semua ilmuwan di dunia menyatakan mustahil untuk bisa memprediksi gempa bumi secara akurat. Tapi di Italia, enam ilmuwan divonis enam tahun penjara karena dianggap gagal meramalkan gempa bumi. Seperti dilansir dari Daily Mail, Senin (10/11), enam ilmuwan termasuk beberapa seismologis terhormat Italia, dipenjara dengan tuduhan pembantaian manusia terkait dengan gempa bumi yang menewaskan 309 orang di kota L`Aquila, pada 2009.
Pengadilan memutuskan mereka bersalah terutama karena dinilai telah menganggap remeh situasi. Ketika itu terjadi serangkaian gempa kecil di L`Aquila, namun keenam ilmuwan menyimpulkan kecil kemungkinan terjadi gempa besar. Tapi beberapa hari kemudian, pada 6 April, kota kecil itu luluh lantak karena gempa berkekuatan 6,3 skala Richter yang menewaskan 309 orang yang tengah tertidur lelap, serta ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal.
Tidak ada peringatan atau permintaan pada warga untuk siap melakukan evakuasi, lantaran keenam ilmuwan itu sudah menyatakan tidak mungkin terjadi gempa. Pada persidangan pertama, 2012, hakim menyebut para ilmuwan memberikan pernyataan yang menyesatkan.
Para ilmuwan dipenjara pada Oktober 2012. Sementara itu, orang ketujuh, pejabat pemerintah bernama Bernardo De Bernardinis yang mengklaim tidak ada bahaya, lolos dari tuntutan utama dan hanya divonis empat tahun penjara.
Para ilmuwan juga diperintahkan membayar lebih dari sembilan juta euro sebagai ganti rugi bagi para korban yang selamat. Keputusan pengadilan memicu kemarahan dari komunitas ilmuwan, yang bersikeras menyatakan sulitnya memprediksi gempa bumi. Beberapa ilmuwan dalam jurnal sains, membandingkan vonis itu dengan penyiksaan terhadap Galileo, astronom yang dipenjara karena menyampaikan teori bahwa Bumi bergerak mengelilingi Matahari.
Walau begitu, warga yang juga kecewa dengan vonis karena dianggap ringan, mengatakan tidak perlu jatuh korban jika para ilmuwan tidak meremehkan situasi.
Sebab, saat itu sudah terjadi serangkaian gempa kecil, sehingga sewajarnya jika otoritas mempersiapkan kemungkinan terburuk. Pada saat persidangan juga diungkap bahwa sedikitnya 29 keluarga sudah bersiap untuk mengungsi, namun membatalkan niatnya karena pernyataan para ilmuwan, bahwa tidak mungkin terjadi gempa besar.
(vivanews/ r)