Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 28 September 2026

Anak-anak di Pulau Penyengat Kembangkan Industri Kreatif dengan Silat

- Minggu, 21 Mei 2017 19:24 WIB
775 view
Anak-anak di Pulau Penyengat  Kembangkan Industri Kreatif dengan Silat
SIB/Dok
Anak-anak Pulau Penyengat: Dua anak-anak di Pulau Penyengat, Tanjungpinang menunjukkan gerak silat yang dimodifikasi dengan tari Melayu ketika menyambut tetamu yang mengunjungi pulau yang melahirkan dua pahlawan nasional: Raja Hafi Fisabilillah dan Raja
Tanjung Pinang (SIB)- Anak-anak di Pulau Penyengat memiliki kepedulian sangat tinggi pada warisan budaya. Di sektor nonbenda, generasi mudanya melakoni kesenian etnik seperti tari. Dalam hal olahraga tradisi, silat dijadikan pendukung industri kreatif. "Kekayaan Tanjungpinang tak hanya budaya tapi kesadaran warganya merawat dan melestarikan warisan leluhur," ujar Wali Kota Tanjungpinang  H Lis Darmansyah SH.

***
Pulau dengan luas kisaran 2 Km itu masuk dalam administrasi Kota Tanjungpinang di Pulau Bintan. Ditempuh dengan masa 10 menit dengan Pompong, kapal kayu ke arah barat. Pulau tersebut menjadi istimewa karena dari wilayah kecil melahirkan dua pahlawan nasional: Raja Hafi Fisabilillah dan Raja Ali Haji.

Pulau penyengat menjadi bagian penting dalam perjalanan peradaban Melayu Johor-Riau. Di pulau itu terdapat banyak bangunan bersejarah yang dulu aktif digunakan oleh pihak Kerajaan Riau Lingga. Untuk menunjuk kerajaan Johor Riau memang bisa menggunakan banyak sebutan, para tetua atau kaum sejarawan menyebut kerajaan Melayu Johor-Riau dengan sebutan kerajaan Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang karena pada suatu ketika dulu, keempat daerah yang disebut tadi memang merupakan suatu kesatuan sistem pemerintahan.

Kini penyebutan Riau -Lingga - Johor - Pahang biasa disebut kerajaan Riau Lingga saja, mengingat Johor dan Pahang berada dalam negara yang berbeda. Riau Lingga menjadi salah satu provinsi-kabupaten di Indonesia sedang Johor Pahang menjadi bagian negeri dari negara Malaysia. Keempat daerah ini pula pada suatu ketika dulu akhirnya berpisah secara administratif akibat campur tangan pihak Inggris-Belanda. Pembagian wilayah oleh Belanda dan Inggris dikenal dengan nama Traktat London atau London Treaty.

***
Keterlibatan anak-anak pada warisan leluhur di Pulau Penyengat karena pemahaman akan nilai sejarah tersebut. Di sekitar permukiman bertabur ragam situs yang tak ternilai. Seperti Komplek Makam Daeng Cetak, komplek makam Tun Abas, komplek makam Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, makam Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang, komplek makam Engku Puteri, makam Raja Ja'Far YDM Riau VI, komplek makam Raja Abdul Rahman YDM Riau VII dan makam Embung Fatimah.

Ada pula Museum Kandil Riau yang memiliki koleksi peninggalan abad ke 18 dan 19 M, antara lain perahu buatan Cina masa dinasti Ming, Meriam dari kerajaan Melayu dan piring makan milik Raja Haji yang terbunuh dalam pertempuran melawan Belanda di tahun 1784. Museum ini juga dihiasi dengan senjata pedang dan lukisan dari penguasa Melayu yang dipajang di dinding. "Ada sumur berair sangat adem dan berasa tawar meski berada di dekat laut. Banyak pengunjung menggunakan air untuk menyembuhkan penyakit atau tujuan lain," cerita Sapril Sembiring, pengelola Emka Tour.

Pulau Penyengat kemudian berubah menjadi pusat kebudayaan dan sastra Melayu dan pusat pengembangan ajaran Islam. Ahli-ahli agama Islam seperti para Imam dari Tanah Suci Mekah diundang mengajar di masjid kesultanan di Penyengat. Karya-karya besar sastrawan Melayu lahir di Penyengat termasuk karya fenomenal Gurindam Duabelas dan Tuhfat al Nafis karya sastrawan Raja Ali Haji.

Karya sastra tersebutlah konon sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia yang digunakan di Nusantara. "Generasi muda pecinta sastra dunia, berguru melalui karya-karya Raja Ali Haji," tutup Sapril Sembiring. (T/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru