Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Inilah Caraku

* Nurafni Oktafia Siringoringo, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 29 Maret 2015 21:36 WIB
554 view
 Inilah Caraku
Semua kawan di sekolah kuanggap sama. Ya, sama-sama levelnya seperti rekan lain. Mau yang pesek, mau yang berambut lepek, mau yang suka ngopek...
Tetapi karena sikapku itu, aku  dituduh cewek paling cuek. Ada yang butuh, aku dikategorikan tak open meskipun aku bisa membantu. Namun bagiku cara tersebut adalah tepat.

Jika ingin bantuan, kalau punya duit, pasti kukasih. Andai ingin sumbang saran, ah... gampanglah. Tetapi kalau ingin nilai maksimal dari nyontek, tidaklah. Emang belajar tidak butuh enerji. Rambut aja bisa botak.

Kemudian, hasil jerih payah itu dibagi-bagikan pada publik. Emang otakku ini milik departemen sosial yang harus dibagi-bagi gratis.

Yang paling benci, ada pula kawanku yang sok perhatian. Jika ujung-ujungnya ingin masukan agar punya nilai baik, mending. Ini, pura-pura perhatian karena ingin menarik perhatianku. Bah, tak akan.

Ini lagi di P. Aku sengaja menginitialkan namanya. Sebab, jika kujelaskan seterang-benderangnya, orang-orang bernama P lainnya bisa tersinggung.

P itu memang punya kemampuan di atas rata-rata. Istimewalah. Apalagi soal materi tapi untuk kualitas pelajaran, masih kurang. P suka-suka menggodaku.

Aku sih senang-senangnya aja. Semakin banyak digoda pria, berarti aku punya nilai di mata lawan jenis. Tetapi, si P sudah sesumbar dan cerita pada orang lain.
 Katanya, sangat amat mudah memacariku.

Aku terkejut. Ini persoalan serius lho. Apa sih makna pacaran.  Berkasih-kasihan kan melibatkan lebih dari satu hati dan perasaan yang menyatu. Tetapi aku dan P sama sekali tidak.

Singkatnya, jangan sembarangan mengklaim hati orang. Meski demikian, aku tetap bersikap manis. Apalagi di depan kawan-kawan. Tidak baik seorang perempuan menjatuhkan kharisma orang lain di depan kawan.

Hanya saja, karena semakin liar ucapannya, aku jadi geram juga. Kuberanikan menemuinya di kantin sekolah. Kala itu ramai kawan-kawannya.

Saat aku melangkah mendekat, mulut rekan satu gangnya pun seperti penghuni hutan. Sorak-sorai bilang cie...cie.

Meskipun begitu, kuberanikan saja mendekat dan menarik tangan P menjauh dari kelompoknya. Gayanya pun kutengok memesra-mesraiku. Jijik aku tapi tak apalah.

Begitu sampai pojok, kuutarakan apa yang kudengar dari banyak pihak. Aku cuma bilang, jangan karena keramahan dan balasan yang kuperbuat, P salah arti dan mengklaim macam-macam.

Meski demikian, di depan sahabatnya, aku tetap berlaku santun, sopan dan segalanya.(c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru