Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Cinta Itu Abstrak tapi Menikam

* karya Laurensius Simanjuntak, Parlabian-Sibolga
- Minggu, 29 Maret 2015 21:37 WIB
537 view
Cinta Itu Abstrak tapi Menikam
Seperti hari bahkan pekan-pekan yang lalu. Malam kuhabiskan di teras rumahku. Aktivitas yang paling indah adalah mendongak ke arah awan.

Sebelumnya mengkuliti bumi. Di sana bayang-bayang bintang berpendar. Menari ceria tapi tariannya seperti mengolokku. Perlahan-lahan menyeksamai lekuk liku bulan. Di sana ada bayangan manusia. Konon, bayangan hitam di bawah pohon dalam bulan itu adalah perempuan pertama di dunia, tapi bagiku bayangan tersebut adalah impianku.

Lama memandang hingga leherku terasa keras, aku pun tetap berkeyakinan, apapun bayangan di sana pasti semua adalah karya Tuhan Yang Maha Esa.
Selain aku, adakah yang lain sedang menikmati keajaiban malam ini?  Tanpa sadar aku  memutar kembali kenangan indah yang pernah aku lalui dengan seorang wanita pujaanku. Wanita yang sangat aku sayangi.

Aku pernah hampir membencinya karena yang kusayang pergi meninggalkan aku dalam kesendirian. Pahit sekali rasanya. Apapun yang dilakukan rasanya tak pernah benar. Bahkan untuk tidur saja pun salah.

Waktu itu aku mengenalnya lewat seorang mak comblang. Kegiatan yang biasa-biasa saja, tapi jadi luar biasa karena si cewek bukan seperti perempuan kebanyakan. Ia cantik.

Kecantikan memang relatif. Apalagi bagi orang yang menyukai pihak lain. Tetapi aku mau obyektif. Perempuan itu cantik. Perhatikanlah raut wajahnya. Oval dengan alis tebal. Bibirnya yang mungil tapi merekah indah bila senyum. Belum lagi memerhatikan sorot matanya. Wah, luar biasa.

Pertemuan yang biasa menjadi luar biasa karena perempuan itu seperti duplikat ibuku. Orangnya cuek tapi tak sombong. Lebih tepat dikatakan pendiam. Seperti ibuku.

Perempuan yang melahirkanku itu tidak suka ngerumpi. Bahkan berkumpul dengan tetangga saja, jarang. Ibuku lebih suka mengamati orang-orang di lingkungannya. Menilai sendiri dan berempati.

Didorong perasaan menghormati, menyayangi ibuku aku pun semakin suka dengan cewek yang dikenalkan padaku. Kebetulan, perempuan idolaku itu pun seorang realistis. Menerimaku apa adanya.

Menjunjung tinggi asas kesederhanaan. Cukup punya kendaraan tapi yang berfasilitas tidak membuatnya kepanasan atau kehujanan bila air dari awan tumpah. Cukup duduk-duduk di rumah bila bertemu tapi harus ada camilan. Mulai dari asinan, kacang sihobuk plus spagheti dengan karamel. Ha...ha...ha... entah apa namanya. Di manalah kucarikan makanan yang membuat mata membiru itu? Jika tak ada, cewek itu bersedia diganti.

Kuganti saja dengan gadong. “Gak papa kok. Makan ubi antidiabetes,” desisnya sambil senyum. Memang bener, gadong itu tak manis. Artinya, jika mengonsumsinya tidak akan sakit gula. Tapi gizinya cuma angin. Silap-silap jadi angin busuk.

Hmm... tengoklah apa yang tersimpan di dalam mulutnya. Giginya putih bersih. Tersusun rapi. Kecil-kecil.

Jika sedang mengunyah, bibirnya terkatup. Padahal, sumpah... aku suka menyaksikannya bila makan sambil bercanda. Soalnya, aku juga begitu. Semakin enak makanan, semakin terbuka mulutku biar orang lain melihat yang kukunyah adalah spagheti.

Keberhasamaan kami begitu cepat. Ketika ia mengangguk dan membiarkan tanganku melingkar di pundaknya, dunia seperti milik kami berdua.

Sama seperti bulan-bulan lalu, kami menghabiskan malam dengan berdua. Cerita apa saja kusuka dan disambut gembira.

Perjumpaan yang singkat dan jadian yang cepat. Secepat itu pula si cewek sirna. Yang membuatku sakit, si perempuan gambaran ibuku, dibawa pria lain. Lelaki yang sungguh mampu melindunginya dari panas debu, hujan.

Bandingkan denganku yang bermodal motor rongsok. Tetapi pergi dengan kendaraanku asyik lho. Andai ada lubang terlanggar, tubuhnya dapat memepetku. Jika demikian, di saat itulah aku bahagia karena si cewek langsung menyubit pahaku.

Katanya, aku tidak hati-hati. Sakit sih cubitannya tapi kok menghadirkan rasa lain di dadaku dan menjalah ke bagian bawah tubuhku.

Begitu cepatnya si cewek berpaling. Saat itulah aku jadi mellow. Air mataku pun perlahan turun. Memang cinta itu abstrak tapi kok bisa membuatku sakit. Jantungku teriris, hatiku tertikam.

Sakit itu membuatku capek. Aku memang sudah lelah. Aku bangkit dan beranjak bergegas menuju ke kamarku. Aku meninggalkan bulan yang bertengger di atas langit tanpa permisi.

Semoga si cewek yang pernah singgah di relung hatiku senantiasa di lindungi Tuhan.  Tadi kan sudah kukatakan, semua itu ciptaanNya. Jadi pada Sang Kuasa kumohonkan.

Sampai jam segini aku tak bisa tertidur. Dalam pikiranku, sedang apa si cewek.

Kuperhatikan fotonya di HP. Masihkah senyumnya indah. Aku meninggalkan impianku ketika aku pergi meratapi cintaku di teras rumah.

Di alat canggih itu ada delapan  panggilan tak terjawab. Wah, ini nomor siapa ya? Ah...aku tidak peduli lagi dengan nomor itu. Kuletakkan kembali hp ku di atas meja belajarku, kemudian aku ke tempat tidurku.  Aku ingin tidur, badanku sudah letih karena terlalu lama meratapi kesedihanku
“Halo... halo, siapa kau?” geramku ketika kucoba mengangkat karena terlalu menyiksa telingaku.

“Halo ini aku Rita!”

Apa? Hampir tak yakin aku dengan suara perempuan di seberang sana. Ingin kumaki. Seenaknya saja menelepon tengah malam, setelah pergi dengan orang lain. “Dek aku merindukanmu... mengapa kamu meninggalkan aku?”

Aduh, betapa bodohnya aku. Tetapi memang itulah isi hatiku. Tuhan, aku ini pria jujur. Jika berbohong, berarti dosa. Aku tak mau masuk nerakaMu.
“Kamu belum tidur?”

Aku terdiam. Kalau tidur, pasti tak kuangkat teleponnya.

“Kamu ke mana? Kok ngangkat teleponku?”

“Kamu masih meragukanku, Dek?”

Aku semakin gugup. Tetapi sesungguhnya aku geram sekali. Apakah aku menjadi pria kesekiannya?

Sudahlah, meskipun aku galau dan ngelantur, aku ingin berdamai dengan Rita.

Panjang lebar si cewek cerita. Pedih bagiku tapi aku tetap mendengarkan kisah cintanya. Katanya, jalan-jalan yang enak karena bisa melintas di tengah malam.
Rita pun ngomong soal shoping ke mal paling ramai. Terus nonton konser artis dari luar negeri.

“Dek...”

“Kami makan di restoran Korea lho,” ceritanya

“Dek... kenapa gak bungkus buatku!”

“Rupanya makanan Jepang itu serba segar ya!”

Aku jadi tak semangat lagi. Sudahlah, makanmulah kemewahan itu. Tapi pasti kemewahan cintaku lebih dari segalanya.

“Sudahlah, Dek. Besok pergi lagi dan cerita lagi. Bila perlu divideokan!”

“Bener ya. Tengok aja di Instagram foto-foto kami!”

“Dek...”

“Kami selfie ria pakai DLSR!”

“Dek. Cintamu itu sebenarnya untuk siapa?

“Tapi gak enak sama dia lho, Bang!”

Aku tekesiap. Mudah-mudahan kalian itu sudah putus, batinku.

“Dek, kamu jujur kenapa?”

“Aku cerita apa adanya lho, Bang!”

“Terus?”

“Abang kan jago bikin cerpen. Buatlah cerita kami.Jadikan cerpen di koran!”

Gak papa. Meski perih, kubuatkan juga perjalanan kasihnya menjadi cerpen tapi aku ingin air mataku disekanya.

Dan sambil menghapus air mataku, tanganku dibiarkannya melingkar di pundaknya. (c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru