Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Perahu Kecilku

Karya Dani Manik, Pematangsiantar
- Minggu, 26 April 2015 16:56 WIB
387 view
Perahu Kecilku
Aku adalah manusia biasa. Biasa, sungguh biasa. Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan hidup di sini dan seperti ini. Tapi aku sadar bahwa aku kini seperti ini dan di sini. Sungguh, aku tak pernah menyesal. Never!. Aku tidak tahu apakah aku sedang bahagia atau sedih. I don’t know. Dan aku pun tidak mau tahu. Aku hanya ingin tahu apakah aku ini sedang hidup atau tidak? Atau mimpi?

Perahu kecilku terus menjelajah. Tiada henti. Tiada arah mungkin. Hanya ada perahu kecil yang pasrah. Pasrah. Yah sungguh pasrah malah. Hanya ada angin malam, pagi, siang, dan malam lagi, yang setia membawaku pergi. Pergi entah kemana. Tak tahu. Sekali lagi, aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Enjoy ajalah.

Kian hari aku asyik dalam arungan hidupku yang kian berwarna. Warna yang takkan pernah bisa kuterka jenisnya. Hanya aku tahu bahwa itu berwarna. Only that. Itu lebih dari cukup.

Perahu kecilku pun kian lama berkelana. Berkelana di tengah laut lepas. Lautan luas, seluas mata memandang. Berkali-kali terjangan ombak mencoba menenggelamkan perahu kecilku. Tapi apa, aku berhasil menghindar. Bukan karena kekuatanku, tapi karena memang nasib, mungkin. Atau karena kuasaNya. Yah, tak tahu persisnya. Aku hanya tahu bahwa aku masih selamat. Rasanya layak tuk bersyukur. Bersyukur atas keselamatan itu. Yah, memang untuk itu, bukan yang lain.

Aku pun kian masuk dalam kesendirianku. Kian lama aku pun semakin menyatu dengan perahu kecilku. Seakan aku sudah menjadi bagian darinya dan sebaliknya. Menyatu. Sehati. Seperasaan. Aku pun senang dalam kesatuan itu. Tak ada sesal. Hanya ada senyum bahagia tersimpul di sudut bibirku.

***
“Sam…”
“Ya, Pa.”
“Papa sudah tua, Sam.”
Pernyataan yang tidak asing lagi di telinga Samuel. Berulang kali bahkan hampir setiap kali berjumpa. Jadi Samuel sudah tahu arah pembicaraannya. Dia tahu benar kegusaran hati ayahnya. Tapi dia tidak tahu harus bagaimana. Rasanya, untuk permintaan yang satu ini, Samuel tidak punya daya untuk mewujudkannya. Bak pemimpi di siang bolong saja.

Usia Samuel memang terbilang sudah matang. Sungguh matang malah. 31 tahun. Tapi untuk yang satu itu, Samuel benar-benar tidak mampu. Tidak mampu sama sekali. Bukan karena impotent, bukan juga gay. Dia laki-laki tulen kok. Tapi tetap saja tidak bisa, karena tujuan hidup lain.

***

Malam itu aku memilih berlabuh di tepi pantai. Aku berpisah memutuskan untuk berpisah dari perahu kecilku yang setia. Berat awalnya tapi aku berhasil juga. Aku pun melangkah tanpa ada perahu kecilku. Aku hanya sendiri. Hanya aku dalam kesendirianku. Aku keluar dari duniaku yang selama ini telah mengurungku. Awalnya aku merasa asing. Tapi lama kelamaan terasa nyaman juga. Sapaan alam hijau yang kulalui pun berhasil meruntuhkan keterasinganku. Sesekali aku menikmati sentuhan bersahabat dari ilalang yang kulalui. Aku bergetar luar biasa. Sungguh aku seakan menemukan kehidupan baruku. Aku benar-benar merasakan getaran-getaran dalam jiwaku. Getaran yang senantiasa mengajakku tuk tersenyum. Entah itu sendiri atau bersama mereka yang memberiku rasa itu.

Ternyata aku bisa. Aku at home dengan dunia di luar duniaku selama ini. Aku pun kian asyik. Aku sungguh menikmati. Hingga aku tidak tahu entah sudah berapa kali jarum jam itu berputar. Entah berapa kali sang mentari itu bangun dari tidurnya. Banyak hal lagi yang tak kuketahui. Aku hanya tahu bahwa aku kini memiliki dunia baru.

Perahu kecilku???? Oh aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa kini aku seakan tak butuh dia lagi. Sadis, mungkin. Egois juga sih. Tapi demikianlah. Tapi kok aku yakin bahwa dia masih ada di pantai itu. Dimana dia berjangkar. Pasti dia akan menungguku di sana. Yah, terlalu PD diriku ini. Tapi aku yakin itu. Kini aku hanya ingin hidup di duniaku yang baru kutemukan ini. Aku ingin hidup seutuhnya di sini dan kini. Besok, aku tidak tahu. Aku juga tidak mau tahu urusan besok. Karena besok memiliki kesusahannya sendiri yang takkan pernah bisa kutebak. Kamu juga tidak akan bisa menebak. Jangankan besok, satu detik ke depanpun sulit untuk ditebak. Hanya ada Dia yang maha tahu segalanya. Yah, itu urusan Dia, bukan urusanku, apalagi urusanmu.

***
“Sam…. Ada yang ingin Papa bicarakan kepadamu.”

“Sudahlah, Pa. Sam capek. Sam belum bisa memenuhi keinginan Papa itu. Maafin Samuel, Pa. Mungkin Samuel bukanlah anak yang baik, Pa. Tapi Samuel akan berusaha untuk memenuhi itu. Beri Samuel waktu ya, Pa.” Samuel mencoba untuk tersenyum meyakinkan. Tapi tak berhasil. Tetap saja terasa hambar.
“Samuel, anakku. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Papa hanya ingin kamu tahu tentang papa, Sam.” Ucapan itu terdengar lemah dan penuh kepasrahan. Ia menyodorkan sebuah amplop besar. Dengan ragu Samuel menerima. Dalam ketakutan luar biasa, Samuel pun membuka. Perlahan dia melihat isinya. Parasnya pucat. Ia menganga tak percaya. Ternyata Samuel takut juga kehilangan. Dia seakan belum sanggup melepas sang ayah.

Meskipun Samuel sering tertekan oleh tuntutan sang ayah, tapi darah yang mengalir di tubuhnya tidak bisa berdusta. Rasa sayang itu juga masih terukir indah di hatinya. Sayang yang takkan pernah pudar oleh ruang dan waktu. Abadi. Selamanya. Seketika itu pula air mata itu mengalir perlahan dari sudut matanya. Pelukan pun menjadi pelampiasan emosinya.

“Maafin Samuel, Pa.”
“Tidak ada yang perlu dimaafin, Sam.”

“Tapi Samuel tidak pernah peduliin papa. Samuel terlalu asyik dengan duniaku sendiri. Seharusnya Samuel ada dalam setiap hembusan nafas papa.
Seharusnya Samuel ada saat papa butuh. Tapi apa? Samuel memang jahat, Pa. Samuel tidak tahu balas budi, Pa.”
“Anakku, Samuel. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ini hidupmu, Sam. Kamu berhak menentukan arah hidupmu. Kamu berhak membawa perahu kecilmu, kemanapun kamu suka. Kamu bebas memilih, Sam.”

“Tapi, Pa….”
“Sudah cukup, Sam. Melihatmu bahagia sudah lebih dari cukup bagiku, Sam. Mungkin aku tidak akan pernah menimang cucu darimu, Sam. Tapi itu tidak akan mengurangi rasa bahagiaku. Pergilah, temui perahu kecilmu itu dan berlayarlah bersama sejauh-jauhnya. Jangan merusak kebahagiaanmu demi papa, Sam. Itu sama saja kamu mengukir kepedihan di hatimu sendiri juga di hati papa, Sam.”

“Nggak, Pa. Samuel iklas, Pa. Aku sudah mulai bisa melupakan perahu kecil itu kok, Pa. Aku hanya ingin menikmati hidup bersama papa. Terutama…”
“Terutama apa, Sam? Maksudmu di detik-detik akhir hembusan nafasku….??? Sudah, Sam. Tidak perlu kaulakukan itu. Itu tidak akan mengubah keadaan papa. Nafas ini milikNya, jadi Dia yang punya kuasa. Papa sudah siap, Sam.”

“Papa…Samuel benar-benar iklas.”

“Sam, kamu itu anakku. Mulutmu bisa saja berhasil merangkai kata indah. Mungkin kamu akan berhasil mengelabui seluruh jagad ini. Tapi bukan berarti kamu bisa membohongi papa, Sam. Hati ini dan hati yang ada dalam dirimu itu akan senantiasa seperasaan. Aku melihat, mendengar, dan merasakan dengan hati ini, Sam. Pergilah, Sam! Temui perahu kecilmu itu. Demi papa juga demi hidupmu, Sam.”

***
Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya tahu bahwa aku kini bahagia. Aku bahagia, karena perahu kecilku masih setia menungguiku. Kini kami pun kian jauh mengarungi hidup, bersama. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kesetiaannya. Aku juga bersyukur karena Tuhan telah memberiku seorang ayah yang baik. Aku memang tidak akan pernah memenuhi keinginannya untuk merasakan bagaiaman indahnya menimbang seorang cucu. Tapi aku yakin Tuhan akan memenuhi keinginan itu di surgaNya. Mungkin sudah banyak cucu yang ditimangnya di sana.

“Pa…kini aku semakin menyatu dengan perahu kecilku ini. Meskipun perahu kecil senantiasa ada di hatiku, tapi bukan berarti Papa tersingkir di hatiku. Selalu ada tempat spesial untuk papa di hatiku. Abadi selamanya.” ***

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru