Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 26 April 2026

Medsos Bisa "Membunuh" mu

Bantors Sihombing - Senin, 14 Oktober 2019 13:13 WIB
687 view
Medsos Bisa "Membunuh" mu
Beberapa hari ini, media sosial (medsos) yang seharusnya arena kegembiraan dan bersilaturahmi, berubah menjadi malapetaka bagi orang tertentu. Tulisan yang mereka muat di sana mengakibatkan suaminya yang ketepatan aparat negara mendapat sanksi. Dampaknya tak berhenti di sana, sebab ada rencana membawa masalah ini ke ranah hukum.

Internet telah memiliki publik tersendiri yang disebut netizen. Mereka ini yang akan bereaksi manakala ada postingan yang dianggap tak elok. Netizen meski di dunia maya memiliki psikologi yang sama seperti dunia nyata. Apa yang ditulis di sana bisa dibawa ke dunia nyata dalam bentuk pengaduan.

Banyak orang menyangka bisa sesuka hati menulis atau memposting sesuatu di medsos. Kesalahpahaman ini bukan hanya melanda orang tak berpendidikan. Dari kasus yang ada, banyak yang sarjana, bahkan bergelar doktor, seperti kasus dosen di Medan.

Akun seseorang di medsos memang bersifat personal, namun apa yang dimuat di sana secara terbuka berarti berada di ruang publik. Semua orang atau minimal yang terhubung dengannya akan bisa membaca. Itu sebabnya ada aturan yang menata medsos, agar tidak disalahgunakan.

Menyebarkan kebohongan, fitnah atau hoaks berimplikasi pidana. Lihat UU No. 19/2016 tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) pasal penyebaran kebencian dan berita bohong. Hukumannya tidak ringan dan bisa "membunuh" karir serta masa depan seseorang.

Selain itu, medsos merupakan "rimba raya", yang jika tak diwaspadai bisa menjadi "racun". Kasus Polwan yang terpapar radikalisme di medsos juga harus menjadi pelajaran. Dari diskusi kecil akhirnya dia digarap menjadi "pengantin" bom bunuh diri dengan dalih agama.

Berselancar di medsos harus bijak dan cerdas menyikapi informasi yang ramai berseliweran. Biasakan melakukan verifikasi, sebelum menyebarkannya ke yang lain. Gunakan media mainstream untuk mengujinya, apakah benar atau hoaks.

Begitu juga saat menuliskan atau membagikan sesuatu. Baca ulang dan pikirkan dampaknya matang-matang. Saat marah, jangan memposting apapun. Sebab medsos bisa menjadi pembunuh karirmu, jika ternyata melanggar hukum.

Mari beri edukasi kepada anak, teman dan rekan agar bijaksana menggunakan medsos. Etika dalam kehidupan nyata juga berlaku di dunia maya. Sampaikanlah sikap, aspirasi dan ekspresimu secara santun. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru