Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 05 Oktober 2026
Tajuk

Puasa Sebagai Kesalehan Sosial

Redaksi - Jumat, 15 Mei 2020 11:14 WIB
489 view
Puasa Sebagai Kesalehan Sosial
lazismujember.org
Ilustrasi
Waktu terasa berjalan sangat cepat. Ramadan 1441 Hijriyah sudah hampir memasuki pekan terakhir. Artinya, Ramadan sebagai bulan suci penuh berkah yang ditunggu umat Islam setahun sekali, tak lama lagi akan meninggalkan kita.

Sangat sayang rasanya jika tak dimanfaatkan dengan baik. Karena saat inilah kesempatan untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya dengan menjalankan ragam ibadah yang tidak ada pada bulan lainnya.

Puasa Ramadan memang ibadah yang sangat istimewa. Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensi. Tak hanya bersifat moral dan spiritual, tetapi juga bersifat sosial. Puasa tak hanya membangun kesalehan pribadi (individual), tetapi sekaligus membentuk kesalehan sosial.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat jelas bila dilihat dari beberapa hal, antara lain orang puasa harus menahan diri dari rasa lapar dan haus. Hal ini merupakan pelatihan agar mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut. Ini bisa jadi sarana untuk bisa berempati kepada orang lain, terutama kepada yang kurang beruntung.

Orang yang tak pernah merasakan lapar tentu sangat sulit bisa berempati kepada orang lain. Mungkin ini pula sebabnya mengapa Rasulullah Muhammad Saw pernah menolak tawaran kekayaan berlimpah (bukit emas) dari Malaikat Jibril, dengan berkata; "Biarlah aku kenyang sehari dan lapar sehari."

Lapar terbagi dua macam, yakni lapar biologis dan psikologis. Lapar biologis mudah disembuhkan dengan makan. Sementara lapar psikologis yang berkutat kepada kekuasaan, kehormatan dan kekayaan, tak gampang disembuhkan.
Namun puasa dapat menyembuhkan kedua lapar itu, sehingga kita dapat terbebas dari "penyakit own interest (kepentingan sendiri)", dan kemudian akan lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial).

Kemudian kedua, orang yang puasa disuruh banyak berbagi. Nabi Muhammad Saw menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Rasulullah Saw sendiri merupakan orang yang paling banyak bederma. Dan dalam bulan Ramadan, beliau lebih kencang lagi bederma, melebihi angin barat. (HR Hakim dari Aisyah).

Ketiga, pada saat menjelang akhir Ramadan, umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah, di luar zakat mal. Tentu saja ini melengkapi dimensi sosial dari ibadah puasa. Karena tanpa zakat, pahala puasa belum sampai kepada Allah Swt.
Di luar semua itu, puasa melatih dan mendidik manusia agar bermental giver (pemberi), bukan taker (pengambil).

Orang puasa sejatinya sedang meneladani Allah Swt sejalan dengan doktrin, "Takhallaqu bi akhlaq Allah." Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Nabi Muhammad Saw juga demikian. Maka, orang yang berpuasa diminta meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu kepada umat manusia dengan cara berbuat baik dan berbagi kegembiraan. Dengan begitu, puasa membuat manusia cerdas, baik secara moral, spiritual, maupun sosial sebagai karakter orang takwa.

Tidak ada kata terlambat, di saat Ramadan inilah umat Islam berkesempatan berbuat sosial dan berempati sesuai perintah Allah Swt melalui Rasulullah Saw. Apalagi dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar terdampak pandemi Covid-19. Sangat banyak masyarakat yang membutuhkan karena sulitnya mencari nafkah, bahkan ada yang dirumahkan maupun di-PHK.

Jangan sia-siakan kesempatan untuk berbagi, karena "sarananya" sudah terbentang. Bisa jadi kondisi saat ini sebagai ujian kepada umat, agar puasa Ramadan bisa menjadikannya sebagai manusia yang semakin saleh dan bertakwa. (***)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru