Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 25 Juni 2026

Hari Berubah Menjadi 25 Jam: Ini Penjelasan Ilmuwan

Robert Banjarnahor - Kamis, 22 Agustus 2024 10:32 WIB
565 view
Hari Berubah Menjadi 25 Jam: Ini Penjelasan Ilmuwan
Foto: pexels.com/Pixabay
ilustrasi Bumi
Jakarta (harianSIB.com" target="_blank">harianSIB.com)
hariansib.com/tag/manusia/" target="_blank">Manusia mungkin akan mengalami hari dengan hariansib.com/tag/durasi-25-jam/" target="_blank">durasi 25 jam, bukan 24 jam seperti sekarang. Ini disebabkan oleh hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan yang secara perlahan menjauh dari hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi, memengaruhi kecepatan rotasi planet kita.

Saat ini, hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk berputar pada porosnya, tetapi miliaran tahun yang lalu, satu rotasi hanya memerlukan 18 jam.

Penelitian dari hariansib.com/tag/university-of-wisconsin-madison/" target="_blank">University of Wisconsin-Madison menunjukkan bahwa seiring hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan semakin menjauh, rotasi hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi melambat, yang pada akhirnya akan memperpanjang durasi satu hari. Fenomena ini memberikan gambaran tentang bagaimana dinamika antara hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi dan hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan dapat mempengaruhi waktu di planet kita dari waktu ke waktu.

Profesor di hariansib.com/tag/university-of-wisconsin-madison/" target="_blank">University of Wisconsin-Madison, hariansib.com/tag/stephen-meyers/" target="_blank">Stephen Meyers, dikutip dari Indian Express, Selasa (21/8/2024), menyebutkan, saat hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan menjauh, hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi berputar melambat seperti figure skater.

"Sekitar 1,5 miliar tahun lalu, jarak hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan cukup dekat dengan interaksi gravitasi hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi yang bisa menghancurkannya ," jelas Meyers dilansir dari CNBC Indonesia.

Meyers bersama dengan profesor riset lamont di Columbia, Alberto Malinverno mengembangkan TimeOptMCMC. Ini merupakan pendekatan statistik membantu menentukan hubungan antara hari dengan jarak hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi dan hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan.

Hasilnya hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan terus menjauh dengan kecepatan 3,82 sentimeter per tahun. Artinya satu hari bisa menjadi 25 jam pada 200 juta tahun lagi. Temuan ini, para ilmuwan menyebutnya sebagai siklus Milankovitch. Yakni saat mereka menentukan di mana sinar Matahari didistribusikan di hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi dan ritme iklimnya.

Sebelumnya penelitian serupa juga pernah diterbitkan. Salah satunya adalah ilmuwan Rusia Jacques Laskar mengenai kekacauan tata surya yang dilakukan 1989.

Namun penelitian dari Wisconsin, disebut Indian Express menekankan lebih jauh soal pergeseran hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan dan dampaknya pada hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi. Para ilmuwan juga tengah meneliti batuan lebih tua untuk bisa memahami soal hubungan antara hariansib.com/tag/bulan/" target="_blank">Bulan dan hariansib.com/tag/bumi/" target="_blank">Bumi. (*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru