Demo Pencari Suaka Asal Afghanistan di Jakarta Ricuh


323 view
Demo Pencari Suaka Asal Afghanistan di Jakarta Ricuh
(Foto: Detikcom/Tiara Aliya)
BUBARKAN: Polisi bubarkan paksa massa demonstran pencari suaka asal Afghanistan di depan kantor UNHCR Jakarta, Selasa (24/8) siang. 
Jakarta (SIB)
Demo pencari suaka asal Afghanistan di depan kantor UNHCR, Menteng, Jakarta Pusat, diwarnai kericuhan. Satu orang dibawa ke mobil tahanan.

Pantauan di lokasi, Selasa (24/8), pukul 10.15 WIB, petugas terlihat menarik seorang pria berbaju biru yang mencoba membantu temannya yang hendak dibawa petugas.

Namun pria tersebut akhirnya dibawa polisi ke dalam mobil tahanan. Belum ada penjelasan resmi dari polisi terkait alasan pria itu dibawa ke mobil tahanan.

Kejadian ini terjadi di tengah ricuh massa demo. Kericuhan terjadi karena massa tidak mengindahkan perintah petugas untuk membubarkan diri.

Aksi dorong-dorongan antara massa dan petugas mewarnai demo tersebut. Di sisi lain, polisi terus mengimbau massa untuk membubarkan diri.

"Saat ini masih PPKM," ujar salah satu petugas menggunakan pengeras suara.

Saat diminta bubar, aksi dorong-dorongan terjadi. Petugas ber-APD juga sudah berada di lokasi.

Para demonstran belum juga bubar. Mereka tetap bersuara sambil membawa sejumlah poster.

"Kami imbau, kepada seluruh demonstran, kami imbau sekali lagi, kepada seluruh demonstran, agar sekarang juga meninggalkan lokasi, situasi Jakarta masih level 3, dilarang ada kerumunan," ujar petugas.

"Jika tidak, akan kami lakukan upaya hukum. Kami imbau segera meninggalkan tempat," lanjutnya.
Puluhan aparat kepolisian mulai membubarkan secara paksa massa yang masih bertahan di depan kantor UNHCR. Polisi membubarkan massa dengan memukul mundur menggunakan Raimas.

Massa pun berhamburan di sepanjang Jalan Kebon Sirih. Sebagian ada yang bertahan di gang-gang kecil dekat kantor UNHCR.

Namun, kericuhan kembali terjadi ketika demonstran menolak untuk dibubarkan. Massa dan polisi kembali terlibat aksi dorong-dorongan.

"Mundurin aja , mindurin aja," ujar polisi melalui pengeras suara.

Polisi meminta massa segera meninggalkan lokasi dan masuk ke dalam bus yang disediakan. Water canon pun tampak berjalan menuji arah Tugu Tani mengiringi polisi bubarkan massa.

"Massa silakan bubar, ini jalan umum!," teriak polisi kembali.

Massa kemudian mundur hingga ke radius 50 meter dari lokasi aksi. Sejumlah bus disiapkan polisi untuk membawa massa di depan gedung Balai Kota DKI Jakarta.

Amankan
Massa pencari suaka asal Afghanistan kembali terlibat kericuhan dengan polisi. Mereka berusaha menghalangi mobil tahanan milik polisi yang membawa sejumlah massa.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 14.15 WIB, massa awalnya mulai berkerumun di depan kantor Garuda Indonesia yang berseberangan dengan kantor UNHCR, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka berupaya menghalangi mobil tahanan milik Polres Metro Jakarta Pusat yang hendak keluar dari kawasan tersebut.

Massa sempat terlibat cekcok atau adu mulut dengan polisi. Mereka tidak terima rekan-rekannya dibawa menggunakan mobil tahanan.

"No... jangan dibawa!" teriak salah seorang demonstran di lokasi.

Belum diketahui berapa pastinya jumlah orang yang dibawa menggunakan mobil tahanan. Namun akhirnya, polisi tetap melaju sambil membunyikan klakson.

Polisi meminta massa tak menghalang-halangi mobil tahanan.
"Awas, awas!" ucap polisi dari dalam mobil.

Mobil tahanan tetap pergi sambil membawa sejumlah demonstran yang diamankan. Namun, demonstran tetap tak terima hingga sempat berujung ricuh dengan aparat.

"Kenapa dibawa? Salah kami apa?!" ujar demonstran tersebut.
Saat ini, situasi sudah kondusif. Massa pencari suaka Afghanistan kembali berkerumun di depan kantor UNHCR.

Tuntutan Demo
Dalam keterangan tertulis, Hakmat, salah seorang pengungsi dari Afghanistan, mengaku sudah tinggal di Jakarta sejak 2013. Dia mengatakan beberapa keluarga dan kerabatnya sudah kembali ke Afghanistan.

"Selama beberapa minggu terakhir saya benar-benar khawatir tentang keselamatan dan kesejahteraan keluarga saya. Mereka berada dalam bahaya langsung," kata Hakmat.

Hakmat mengaku khawatir terhadap keluarganya, terlebih Taliban saat ini sudah menduduki pemerintahan. Hakmat menuturkan aksi demo yang digelar ini untuk mendesak UNHCR dan negara-negara lain terkait kejelasan nasib mereka.

Hakmat menyebut dirinya dan para pendemo lainnya sadar Indonesia saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19 dan tidak mengizinkan adanya kerumunan dan aksi demonstrasi. Namun, lanjut dia, pilihan ini terpaksa diambil demi kejelasan nasib mereka.

"Kami tidak berdaya dan tidak memiliki solusi lain selain mengangkat suara kami dan memberi tahu dunia tentang masalah dan kekhawatiran yang kita miliki untuk keluarga, orang, dan negara kami," ujarnya.

"Kami mengadakan protes ini untuk menekan UNHCR, pemerintah Australia dan negara-negara lain yang menerima pengungsi dari Indonesia untuk mengerjakan proses permukiman kembali yang sudah terlalu lama. Ribuan pengungsi telah menunggu di sini di Indonesia selama 8-10 tahun untuk dimukimkan kembali," katanya. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com