Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 Juli 2026

Mengusir Roh Legion Gerasa

* Oleh: Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 19 Juni 2016 15:44 WIB
1.543 view
Mengusir Roh Legion Gerasa
Tentu saja, kaum pembela kapitalisme akan sangat marah atas tindakan Yesus pada peristiwa eksorsis di Gerasa. Sebagaimana dicatat dalam Injil, bahwa Yesus mengusir setan-setan dari seseorang dan roh yang diusir tersebut merasuki kawanan babi yang sedang mencari makan di tepi jurang danau.

Akibatnya, kawanan babi yang kerasukan setan itu, terjun ke danau. Sebuah kematian tak berarti karena tidak memberi nilai positif pada hitungan ekonomis.

Menurut Injil Markus, bahwa kawanan ternak babi yang terjun ke danau itu diperkirakan sebanyak 2000 ekor. Sebuah nilai yang sangat besar jika muatan kalkulasinya didasarkan pada faktor ekonomi. Sebuah makna komoditas fetisisme.

Dan besarnya angka inilah menjadi titik tengkar para pembela kapitalisme dimaksud dengan tindakan Yesus untuk menyelamatkan satu orang. Sebab bagi kaum libertarian sebagai pembela kehidupan yang ditentukan mekanisme pasar, akan menempatkan nilai ekonomi sebagai ukuran kehidupan yang diberkati.
***
Uang menjadi ukuran nilai kehidupan seseorang guna mewujudkan siapa dirinya tanpa harus memusingkan diri pada arti keserakahan. Jika seseorang tidak mampu bersaing dalam mekanisme pasar, tidak mempunyai nilai jual yang lebih, maka tempat tinggal yang tepat baginya adalah pekuburan. Walau tubuhnya masih bergerak tetapi tidak dimasukkan dalam hitungan nilai ekonomis.

Kapitalisme telah menempatkan cara berpikir manusia untuk memahami kekayaan sebagai variabel pokok kehidupan yang bernilai makna. Menumpuk harta, memelihara ternak babi sampai ribuan ekor, dianggap sebagai dasar moral kehidupan yang berharga.

Kondisi demikian, menjadi sebuah realitas pembenaran atas gagasan Karl Marx tentang fetisisme komoditas dan merupakan landasan teori bagaimana bentuk-bentuk budaya, relasi sosial dapat terjadi sebagai faktor ekonomi. Nilai ekonomilah yang menentukan relasi sosial dalam masyarakat kapitalis.

Itulah sebabnya, bagi para pengagum kapitalisme sebagaimana dicatat Theodor Adorno, Intelektual Mazhab Frankfrut (1991:34), bahwa "rahasia sejati keberhasilan, semata-mata merupakan refleksi atas apa yang dibayar seseorang di pasar atas sebuah produk. Konsumen benar-benar memuja uang".

***
Tetapi bagi Yesus, realitas sosial kapitalisme sebagai gejala roh legion Gerasa, harus diubah menjadi realitas yang manusiawi. Kehadiran Yesus di Gerasa hendak menyadarkan setiap orang akan pergeseran sosial masyarakat tradisional menuju masyarakat kapitalisme.

Kehadiran Yesus ingin mengubah pola pikir masyarakat yang menempatkan nilai hidup pada ukuran ekonomis semata menjadi manusia beradab pada relasi kasih, yang menyelamatkan jiwa walau mengorbankan harta termasuk ribuan ekor babi. Yesus hendak menyadarkan cara berpikir manusia yang menempatkan harta, uang yang menumpuk, kekayaan yang berlimpah tidak dimaknai sebagai variabel utama makna kehidupan yang bernilai.

Itulah makna dari kehadiran Allah bagi dunia dalam diri Yesus Kristus. Mengusir roh legion Gerasa. Afirmasi pemaknaan diri (eksistensi) demikian, diwujudkan Yesus guna melawan kekuatan uang, roh materialisme yang menguasai pikiran masyarakat Gerasa sehingga mereka secara sengaja menelantarkan hidup seseorang yang tinggal di pekuburan akibat dirasuk oleh roh jahat.

Untuk melawan roh kapitalisme itulah Yesus secara sengaja mengusir roh jahat dari tubuh seseorang yang tidak masuk dalam perhatian sosial. Dan roh yang diusir itu merasuki tubuh ribuan ekor ternak babi. Peristiwa eksorsis dimaksud untuk menyadarkan masyarakat agar tidak membuat ukuran sosial masyarakat tidak bergantung pada kekayaan tetapi pada cinta kasih, pengorbanan.
***
Peristiwa eksorsis Gerasa dapat semakin dipahami dengan mengafirmasi gagasan Anthony Giddens sebagaimana dituliskan dalam kata pengantar buku "The Third Way". Pemikiran demikian, memberi kita sebuah makna terdalam dari realitas kehidupan. Menurutnya, dunia sekarang ini haruslah dipikirkan sebagai resultante dari empat gugusan institusi yakni kapitalisme, industrialisme, pengawasan dan kekuatan militer.

Realitas kehidupan selalu bergerak dan berubah. Bahwa kehidupan yang bergerak dari pola tradisional menuju masyarakat modern akan sangat menggoda setiap orang untuk menceburkan diri secara aktif dalam roh kapitalisme sehingga menjadikan manusia egois, tidak mengasihi orang lain, tetapi mendasarkan relasi sosial pada pemujaan uang sebagaimana terjadi dalam masyarakat di Gerasa dalam peristiwa eksorsis oleh Yesus.

Tetapi pada saat yang bersamaan, Giddens juga mengingatkan kita bahwa mekanisme pengawasan (surveillance) juga menjadi entitas penting bagi para pengikut Yesus. Sebab pengawasan, dalam terminology Giddens, mendorong masyarakat untuk tidak menjadikan harta dan kekuasaan sebagai entitas tunggal kehidupan.
Setiap orang yang berada dalam barisan hidup peziarahan Yesus harus memaknai dirinya secara terus menerus dalam dunia berpijaknya. Sehingga setiap orang, tidak jatuh pada kemiskinan yang menyengsarakan dan mengakibatkan dosa tetapi juga harus mampu menjadikan harta, kekayaan sebagai modal dan jaminan kehidupan tanpa mempertuhankan uang.

Spiritualitas pengikut Yesus, akan mampu memutus rantai roh kapitalisme mengusir roh legion Gerasa dan memaknai kekayaan, harta sebagai modal perjuangan. Kekayaan menjadi modal untuk bekerja demi memuliakan kehidupan yang diberikan Allah. Kekayaan sebagai alat untuk melayani demi peningkatan kualitas pendidikan sehingga orang miskin disadarkan dan diberdayakan untuk bangkit dan menjalani kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Amin. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru