"Ia akan memberikan yang baik bagi mereka yang meminta kepada-Nya"
Ompung pernah bercerita: Seorang perempuan mengalami krisis karena usia sudah tua, sementara ia belum juga mendapat pasangan hidup. Ia rajin ke Gereja dan bernovena kiranya Tuhan menunjukkan kepadanya seorang pria yang menjadi teman hidup. Ia juga minta kepada teman-teman agar membawanya dalam doa. Penantian tak kunjung tiba. Perempuan itu merasa doanya ibarat surat yang dikirim tanpa tujuan yang jelas. Ia mulai bosan. Suatu waktu ia minta nasehat kepada pastor bagaimana ia harus berdoa supaya niatnya terkabul. Pastor berkata, "Mohonkanlah Roh Kudus yang akan membimbing kamu." Perempuan itu menjawab, "Lain kali saja mohon Roh Kudus. Untukku sekarang ini yang mendesak dan penting ialah seorang pria!"
Dalam pesan Injil Minggu ini, ada dua hal yang menjadi sorotan penting untuk ditindaklanjuti secara khusus: doa dan sedekah. Doa dan sedekah merupakan jalan khusus membangun relasi intim dengan Tuhan secara lebih intensif. Dalam doa, kita mengangkat hati dan jiwa kepada Tuhan. Lewat sedekah, kita mau menyatakan solidaritas dan kesetiakawanan kita dengan orang miskin dan menderita yang tak lain adalah pantulan dan cerminan wajah Kristus. Dalam merealisasikan dua hal ini, Yesus mengawaskan segala hal yang bernada pameran, sehingga menjadi kesucian atau kedermawanan semu. Intentio batiniah menjadi penentu efficaxnya semua upaya tersebut.
Perihal doa, Yesus mengajarkan doa Bapa Kami, sebagai model doa. Di dalamnya termuat pujian dan permohonan. Dalam bacaan liturgis hari ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan hal pengabulan doa. Barangkali ada orang yang berhenti berdoa, karena merasa doanya tidak mendapat sambutan, atau ragu akan kebaikan Allah. Mungkinkah meminta Tuhan menyesuaikan diri dengan doa manusia?
Dalam Injil, Yesus berbicara mengenai pengabulan doa. Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk menaruh harapan pada Tuhan saja. Allah pasti mendengar dan mengabulkan setiap permohonan. Untuk mempertegas keterbukaan dan kebaikan Allah, Yesus menggunakan illustrasi dari kehidupan harian. Di Palestina banyak ditemukan batu kapur lonjong yang bentuk dan warnanya menyerupai roti. Mungkin, yang dimaksud dengan ular adalah belut, yang tidak boleh dimakan oleh orang Yahudi karena tidak bersirip dan tidak bersisik (Im 11,12).
Seorang bapa manusiawi, dalam segala kelemahan dan kekurangannya, selalu perduli, memperhatikan serta memberikan hal-hal yang diperlukan anak-anaknya, betapa lebih Bapa di surga, yang mahabaik dan sumber segala kebaikan, akan menjawab permohonan kita. Yesus berkata hanya satu yang baik, yakni Bapa yang ada di surga dan kita diundang untuk berpartisipasi dalam kebaikan sang Bapa, sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya.
Secara teologis-teoritis mungkin kita percaya, tetapi secara praktis apakah kita meyakininya? Di mana letak dasar keraguan kita? Manusia kerap bertingkah seperti anak kecil yang merengek-rengek minta permen. Ia minta permen berbungkus merah, tetapi ibunya memberi permen berbungkus hijau. Anak itu menangis terus dan tidak menerima, sebab pikirnya permen berbungkus merah pasti lebih enak. Permohonan dan doa maunya dikabulkan persis seperti yang kita minta.
Mungkinkah seorang bapa jika ia sungguh waras memberikan pisau kepada anaknya untuk membunuh tetangga? Ayah itu tahu bahwa itu bukan solusi yang tepat, malah memperuncing masalah. Seorang yang matang dan dewasa tau menimbang dan memutuskan apa yang perlu dan penting. Seorang guardian juga tahu dengan baik apa keperluan bersama, yakni yang penting dan pas untuk kemajuan dan perkembangan. Allah akan memberikan yang terbaik, tetapi menurut cara-Nya yang penuh kasih dan kebijaksanaan. Dengan pertimbangan itu, tidak semua permintaan dikabulkan. Bapa sendiri akan memberi Roh Kudus, yang berdoa bagi kita di hadapan Allah.
Dalam saat kritis di taman Getsemani, Yesus sungguh merasa sendirian, takut. Ia mohon supaya piala itu berlalu dari diri-Nya. Yesus berdoa sampai tiga kali. Allah seolah-olah menolak doa-Nya. Yesus bahkan merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Tetapi Allah mengabulkan doa Yesus di pagi hari paska dengan membangkitkan-Nya dari alam maut. Di sini doa Yesus telah dikabulkan dengan cara yang jauh lebih ajaib.
Ukuran kebaikan tidak terletak pada kesediaan menjadi penderma dua puluh empat jam sehari. Bila demikian, kita akan menyanjung seseorang baik, karena jiwa pendermanya. Sebaliknya kita mencap seseorang jahat karena pelit. Kebaikan Allah tidak diukur dari besarnya kemanjaan dan kenikmatan serta terkabulnya seluruh litani permintaan. Kebaikan Tuhan tidak menjadikan manusia boleh mematikan daya kreativitas dan daya juang, menjadi orang yang memiliki mentalitas bangsa pengimport. Apa-apa saja diimport tanpa pernah mau melihat bagaimana prosesnya.
Di komunitas kita ini, kita menikmati ketersediaan hampir sempurna. Kita menikmati kemurahan hati Allah lewat banyak orang. Kita bernasib mujur, tanpa memeras keringat dapat merasakan itu semua. Permintaan kita pun nyaris tak pernah ditolak. Tanpa kita cari pun kita sudah mendapat, tanpa mengetok pun pintu sudah terbuka lebar-lebar. Kiranya keserbatersediaan itu membuat kita tetap kreatif, tidak mandul dan menjadi penikmat. Rahmat seperti itu kiranya membangkitkan rasa syukur dan menjadikan kita perpanjangan tangan Tuhan untuk menyalurkan kebaikan-Nya bagi setiap orang. Rahmat itu bukan hanya milik kita. Suatu waktu kita mesti menjadi saluran rahmat dan kebaikan Allah bagi sesama, menjadi man of God and man of prayer. (y)