Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 Juli 2026

Menanamkan Konsep Islam Nusantara kepada Anak

*Oleh Nur Ekvan Santoso
- Jumat, 16 September 2016 16:35 WIB
511 view
Menanamkan Konsep Islam Nusantara kepada Anak
Aneh, unik, langka, tapi nyata adanya. Itulah tragedi percobaan bom bunuh diri oleh teroris amatiran di Gereja Katolik Santo Yosep Medan. Sejak peledakan bom Bali satu tahun 2002  sampai sekarang, baru kali inilah pelaku terorisme bermarga Batak. Ini menunjukkan paham radikalisme dapat tumbuh dan merasuk kepada siapapun tanpa melihat asal-usul manusia.

Minggu, 28 Agustus 2016 sejarah radikalisme baru terlahir di  Sumatera Utara. Jantung ibu kota provinsi  yang selama ini terkenal sebagai miniatur Indonesia tercoreng karena ulah seorang remaja yang tumbuh menginjak dewasa  berinisial IAH. Medan yang terkenal ketoleransian kehidupan umat beragamanya terkoyak aksi radikalisme karbitan. Medan yang aman tenteram dihuni oleh masyarakat beragam agama, aliran, etnis, suku bangsa terusik oleh mujahit ingusan yang salah kaprah menafsirkan perintah jihat dari Tuhannya.  

Dengan belajar otodidak merakit bom dari internet, dia berhasil merangkai bom sederhana. Aksi heroiknya berhasil mencuri perhatian masyarakat seantero belahan dunia. Meskipun, bom rakitannya gagal meledak. Di samping itu, diusianya  yang masih belia inilah tentunya layak kita cermati. Mengapa begitu mudahnya ajaran radikalisme mencuci otaknya? Dari mana paham terorisme ini dapat tertanam dalam sanubarinya? Dan, bagaimana cara mencegahnya agar benih radikalisme tidak tumbuh dalam hati generasi bangsa? 

Menanamkan Konsep Islam Nusantara
Tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan harga mati bagi segenap masyarakat yang lahir dan hidup di ibu pertiwi ini. Perlu diingat kembali, Negara ini terbentuk oleh berbagai unsur masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Beraneka ragam suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama, aliran kepercayaan, budaya dan lainnya. Semuanya melebur menjadi satu, yakni bangsa Indonesia. Beratus tahun mereka hidup penuh kerukunan dan toleransi.

Islam telah menghiasi corak kehidupan  sebagian besar penduduk Indonesia. Proses  Islamisasi  ke Nusantara tidak menggunakan kekerasan dan tidak menghilangkan kearifan budaya lokal. Akhirnya, Islam dapat diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Dengan dasar inilah tentunya Konsep Islam Nusantara sangatlah cocok jika ditanamkan pada pemahaman generasi bangsa ini.

Menurut Prof Dr Azyumardi Azra konsep Islam Nusantara adalah sebagai berikut.
"Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy'ari, fikih mazhab Syafi'i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global." (Islam Nusantara.com).

Konsep di atas tepat sekali dengan corak kehidupan masyarakat Indonesia. Islam yang sudah lama tumbuh di Indonesia terbukti mampu memberikan konsep yang nyata dan jelas dalam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Para pendiri negara sangat demokratis dan toleran sehingga konsep Piagam Jakarta yang berbunyi,  "Menjalankan Syariat Islam bagi para Pemeluknya" dihapus. Mereka sadar bahwa negara ini dibentuk berkat perjuangan seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang agama, aliran, adat istiadat, budaya, bahasa yang berbeda-beda. Dari konsep Piagam Jakarta inilah, akhirnya lahir Pembukaan UUD 1945.

Keuniversalan Islam juga telah termaktub dalam Q.S. Al-Furqon 21:107.
Artinya : "Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmad bagi semesta alam".

Islam adalah agama yang universal. Agama Islam ditujukan untuk semua umat manusia yang hidup di muka bumi ini. Syariat Islam dapat diterapkan ke dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Baik aspek politik, sosial, ekonomi, budaya, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa menghilangkan corak asli kearifan lokal masyarakat itu berasal dan berada.

Konsep Islam Nusantara dan Islam Rahmatan Lilalamin inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak atau generasi bangsa. Islam adalah agama yang mencintai kedamaian. Agama yang mengutamakan kemaslahatan dalam mencapai sebuah tujuan. Jangan sampai mereka beranggapan bahwa Islam suka peperangan, kekerasan, brutal, bom bunuh diri,  seperti yang terlihat di Suria, Irak, Afganistan, Afrika, dan negara timur tengah lainnya.  
Pemblokiran Situs Radikal

Pemuda yang berinisial IAH pelaku percobaan peladakan bom bunuh diri di Medan, merupakan anak yang telah menjadi korban akibat pengaruh radikalisme dari media online. Pengaruh radikalisme ataupun ujaran kebencian di media internet sungguh sangat mengkhawatirkan.

Dari dunia maya inilah  pengaruh radikalisme merasuk ke dalam jiwa generasi bangsa ini. Untuk itu, perlunya kehadiran negara dalam hal ini pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Informatika harus lebih agresif lagi guna menutup akun radikal. Negara jangan kalah dengan terorisme. Negara harus melindungi dan membentengi generasi bangsa dari pengaruh radikal ini.

Selain itu, peran keluarga juga sangat fundamental pentingnya. Orangtua harus selalu waspada dan mengontrol setiap saat keberadaan anak. Dengan siapa anak bermain, bergaul, dan bahkan harus meneliti pemakaian internet dan gadget anaknya agar mereka terhindar dari situs-situs radikal.

Perlu adanya kerja sama seluruh elemen masyarakat guna membentengi generasi bangsa ini dari pengaruh radikalisme. Tokoh agama, praktisi, penegak hukum, guru, orangtua, dan elemen masyarakat lainnya harus bergandeng tangan, bersatu, kompak, dan tegas menolak terhadap terorisme. NKRI harga mati.

Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi kreativitas bagi insan pendidik. (Penulis Guru SMPN 2 Pandan Nauli-Tapteng/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru