Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 Juli 2026

Hidup Tanpa Khawatir

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu MPAK
- Minggu, 25 September 2016 17:05 WIB
429 view
Hidup Tanpa Khawatir
Matius 6:34 "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen stres. Dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswanya, "Seberapa berat Anda kira segelas air ini?" Para mahasiswa pun menjawab beragam, ada yang mengatakan,: 20 gram, ada berpendapat, 500 gram. Sang dosen menjawabnya, "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya.

Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan terasa mulai sakit. Dan jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, bebannya akan semakin berat. Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi."

Seringkali tanpa disengaja kita membawa beban hidup kita terus-menerus. Akibatnya, setiap hari kita cenderung merasa susah, kuatir, bahkan stres karena beban-beban itu rasanya menekan kita. Beban itu pun akan semakin berat karena kita cenderung mengkhawatirkan hari esok. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak menanggung kesusahan hari esok, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Bahkan Tuhan sendiri meminta kita untuk menyerahkan kepada-Nya segala beban yang kita tanggung seberapa besar atau seberapa beratpun itu. Puji Tuhan dan bersykurlah senantiasa karena kita hingga saat ini masih diberkati Tuhan dengan cara memberi kita nafas kehidupan, kesehatan, sukacita, dan kemampuan untuk bekerja. Mengapa kita perlu bersyukur.? Karena, kita telah dimampukan melewati hari-hari kehidupan dalam ini tentu dengan berbagai masalah sendiri sendiri.

Hal yang menggembirakan misalnya, pemerintah berhasil memberangus teroris dengan menghabisi para aktor teroris sekaliber Indonesia dan Asia. Bangsa Indonesia mulai bangkit untuk meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat dan derajat daerah dengan cara, pemerintah mulai memikirkan bagaimana membangun wilayah pedesaan dengan cara mendongkrak sektor ril, dan membangun wilayah pariwisata destinasi Danau Toba, dan memberdayakan budaya lokal sebagai aset nasional di daerah masing-masing. Beban hutang akan semakin berkurang jika dibayar dengan cara mencicilnya, harga minyak secara perlahan-lahan mulai tanpa subsidi.

Akses perdagangan desa dan kota akan semakin membaik jika arus transportasi semakin lancar dengan infra struktur yang memadai, dan lancar. Namun kita juga tidak menutup mata dengan sejumlah persoalan hidup keseharian, seperti : masalah penegakan hukum yang masih diintervensi oleh mereka yang memiliki konflik interes para elitis mulai dari masalah korupsi yang menyeret sejumlah nama pejabat negara.

Kegembiraan kita khususnya di Sumatera Utara akhir-akhir ini, dengan adanya Badan Pengelola Danau Toba (BOPDT) dimaksudkan Pemerintah untuk meningkatkan perekonomian rakyat di sektor pariwisata dan pengelolaan alam Danau Toba, dan kawasan hutan akan memberikan dampak positif terhadap manusia, masyarakat, dan kehidupan.

Seperti illustrasi di atas dapat kita jadikan sebagai cara untuk memandang dan mengatasi setiap masalah yang sedang atau yang bakal terjadi dalam kehidupan kita. Apabila kita memiliki masalah dalam kehidupan ini yang masih terbeban dan belum berhasil kita tanggalkan, maka hendaknya secara perlahan sebaiknya kita lupakan, atau kita maafkan, jangan menyimpannya dalam hati atau suka berfikir negatif, kita harus lebih fokus memandang masa depan yang lebih baik secara konstruktif, dinamis, dan visioner.

Ada baiknya kita mensyukuri juga jika memang hasil yang kita kerjakan masih sedikit seraya meningkatkannya di masa-masa yang akan datang. Mengapa kita dilarang mengkhawatirkan hidup untuk hari esok? Karena hari ini dengan hari esok pastilah berbeda masalahnya, baik segi kuantitas atau kualitas persoalan tersebut.

Artinya, waktu juga turut menentukan sejauhmana setiap masalah yang kita hadapi dapat diatasi atau berubah. Misalnya saja, apabila kita membicarakan suatu masalah pada malam hari yang tidak bisa mendapat solusi maka akibatnya akan berdampak kepada kejiwaan hingga tidak bisa menghantarkan kita untuk tidur nyenyak. Coba, kalau di siang hari masalah itu terjadi maka segera kita harus menemukan jawabnya hingga tuntas. Ini namanya faktor waktu. Atau, ketika kita sedang makan enak namun tiba-tiba saja terjadi huru-hara di sekitar tempat kita sedang bersantap makan maka rasa nikmat, kesenangan, dan kebahagiaan tidak membawa kenikmatan.

Artinya, kita tidak dapat berbahagia di tengah suasana yang kacau, perang, dan isak tangis. Tidak ada orang yang dapat memastikan apa yang terjadi esok hari, atau akan bagaimanakah hidup kita esok hari, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Kita memang berharap akan semakin baik dan selalu berharap dan optimistis akan terjadi perubahan yang signifikan, akan semakin bertambah berkat, jabatan kita meningkat, akan semakin baik kondisi fisik kita. Ini harapan setiap orang.

Tetapi jika masalah saat ini masih membebani kita maka inilah yang mengakibatkan kekhawatiran, maka yang terjadi kita tetap saja sebagai orang sedih, malang, dan berduka.

Oleh karena itu, mari kita tinggalkan, kita lepaskan setiap persoalan beban yang membawa kita terhadap kekhawatiran, setiap beban masalah yang ada di pundak kita lepaskanlah, setiap hal yang mengganggu pikiran kita mari kita tenangkan jiwa dan hati, lalu seraya berdoa unutk meminta pertolongan dari Tuhan kita. Biarlah masalah hari ini kita selesaikan pada hari ini.

Jangan lagi kita bawa ke hari esok. Oleh karena waktu terus berputar dan berubah, marilah kita menanggalkan setiap kekhawatiran. Amin! (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru