Saudara saudara yang Terkasih!
Pada umumnya semua orang mendambakan hidup senang dan bahagia, tidak terkecuali mereka yang miskin atau kaya, mereka yang berpendidikan atau tidak berpendidikan, mereka yang tua atau pemuda, mereka yang tinggal di kota atau pedesaan sekalipun akan selalu mengusahakan bagaimana agar hidup mereka sejahtera lahir dan bathin.
Namun untuk menggapai suatu kebahagiaan tidak semudah yang kita pikirkan dan ucapkan. Dalam kenyataan hidup ini manusia dilingkari oleh berbagai persoalan hidup, seperti kemiskinan, penyakit, masalah pengangguran, masalah Narkoba (Narkotika, dan obat-obat terlarang), maraknya begal, masalah virus penyakit corona di negeri Wuhan Cina yang juga mengancam negara lain.
Ada orang berpandangan bahwa untuk bisa berbahagia maka harus dapat mengumpulkan ini dan itu dalam kehidupan ini. Sehingga orang bisa berkata setelah menikah memiliki pasangan hidup (suami atau istri) pastilah akan berbahagia, jika sudah punya mobil atau rumah pasti akan berbahagia; memiliki anak adalah sumber bahagia. Mungkin saja, namun pendapat tersebut masih sebatas kebahagiaan lahiriah semata.
Istilah berbahagia dalam kosa kata Yunani memiliki arti yang sama dengan bahasa Ibrani. Berbahagia berasal dari bahasaYunani (makarios) yang memiliki dua arti yakni berbahagia dan diberkati. Hal ini memiliki indikasi yang cukup kuat bahwa berbahagia memiliki keeratan hubungan dengan diberkati. Seseorang, dalam pemahaman Kristen, hanya disebut berbahagia jika ia diberkati oleh Tuhan. Dengan kata lain, pertanyaan pentingnya bukan pada "bagaimana supaya bisa berbahagia" melainkan "bagaimana caranya menjadi pribadi yang diberkati supaya berbahagia?" Inilah isi dari ucapan bahagia yang dikhotbahkanYesus di atas sebuah bukit sebagaimana tertulis dalam kitab Matius 5:1-12.
Perkataan bahagia dalam Matius 5:1-12 ini, terlihat uniknya kriteria tentang kebahagiaan, yang diucapkan Yesus. Biasanya kita menganggap bahwa yang berbahagia adalah orang yang mempunyai banyak kemampuan di hadapan Allah atau orang yang unggul dalam urusan rohani. Tetapi Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah ..." (ayat 3, Yunani: ptohoi to pneumati = miskin dalam roh). Selanjutnya kita mengira bahwa yang berbahagia adalah orang yang tertawa lebar, namun Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang berdukacita ..." (ayat 4). Demikian pula denganayat-ayat selanjutnya. Namun menarik untuk disimak sebuah ucapan bahagia yang dicatat di ayat 8, yaitu "Berbahagialah orang yang suci hatinya ..." (Yunani: katharoitekardia = bersih di hati). Menurut Yesus, orang yang berbahagia adalah orang yang bersih dalam hatinya.
Bersih disini mengandung arti tidak tercemar atau tidak dikotori. Bersih, berarti tulus, murni atau polos. Kita memang selalu ingin tampak bersih. Kita tampil dengan wajah dan pakaian yang bersih. Piring dan sendok harus bersih, apalagi makanannya. Kita ingin kelihatan bersih, sebab itu kita membersihkan yang kelihatan. Yang kelihatan itu adalah bagian luar. Sebab itu kita seringkali tidak mengingat tentang hati yang bersih, sebab hati ada di dalam dan tidak kelihatan. Lalu apa faedah hati yang bersih? Tuhan Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (ayat 8). Faedah hati yang bersih adalah bertemu dengan Allah.
Kebahagiaan adalah bertemu dengan Allah. Kebahagiaan adalah melihat Allah. Syaratnya tidak banyak, cukuplah kalau kita datang dengan hati yang polos, yang tulus dan yang bersih. Bersih dari apa? Bersih dari benda-benda yang bisa mengotori motivasi pertemuan kita dengan Allah. Misalnya uang. Masih murnikah motivasi kita untuk melayani atau beribadah kepada Tuhan jika dibalik itu tersembunyi keinginan agar dengan beribadah dan melayani hanya untuk mendapat uang? Kita mengira bahwa uang adalah akar kebahagiaan sehingga banyak orang yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mencari uang, padahal menurut Alkitab uang adalah akar kejahatan: "Akar segala kejahatan adalah cinta uang" (1 Tim. 6:10).
Dari hari ke hari, tahun ke tahun manusia terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan. Kita ingin merasa bahagia. Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencarinya di pantai. Ada yang mencari di tempat yang sunyi ada pula yang mencari di tempat yang ramai, ada yang mencari gelar. Ada banyak hal yang dilakukan manusia untuk menemukan kebahagiaan itu. Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Kita berpikir, alangkah bahagianya kalau kita punya barang ini dan itu. Tetapi ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Sungguh malangnya hidup mereka yang tidak bahagia meski memiliki materi lebih dari cukup!
Saudara-suadara yang dikasihi Tuhan! Apabila kita ingin bahagia milikilah kriteria kebahagiaan sebagaimana yang ditetapkan Yesus, yaitu jangan takut miskin, jangan larut dalam duka, jangan takut dianiaya karena kebenaran, harus pembawa damai, menjadi manusia yang lemah lembut, lapar dan haus dalam kebenaran, menjadi manusia pemurah, suci hati. Amin! (c)