Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 01 September 2026
RE Foundation Akan Gelar Diskusi Terfokus

Perlu Dorongan Masif Wujudkan Danau Toba Jadi Taman Bumi Dunia

* Belum Terlihat Langkah Konkrit Pemerintah Mewujudkannya
- Senin, 23 Juni 2014 14:49 WIB
526 view
  Perlu Dorongan Masif Wujudkan Danau Toba Jadi Taman Bumi Dunia
Dr RE Nainggolan MM
Medan (SIB)- Penetapan Danau Toba untuk dimasukkan dalam usulan jaringan Taman Bumi Nasional atau Global Geopark Network (GGN) pada badan dunia UNESCO oleh Presiden SBY saat peresmian Bandara Kuala Namu awal April lalu, dilandasi eksistensi Kaldera Toba sebagai warisan alam yang sangat bernilai.
 Danau Toba pun kini dalam proses pengusulan ke Unesco sebagai bagian dari GGN.
 
Namun demikian apa yang terjadi di lapangan belum sesuai dengan yang diharapkan. Kebanyakan warga belum tahu apa itu Taman Bumi dan mengapa Danau Toba patut dijadikan Taman Bumi Dunia. Hingga kini masih belum terlihat langkah konkrit pemerintah untuk mewujudkannya.

Untuk itu, RE Foundation didukung Harian Umum Kompas dan “Sinar Indonesia Baru”  berupaya mendorong agar Taman Bumi Toba bisa segera masuk dalam perhatian Unesco dengan mengajak para pemangku kepentingan duduk bersama dan merapatkan barisan dalam forum diskusi terfokus bertema Danau Toba.

Diskusi diharapkan bisa memberikan masukan dan memberi dorongan kepada para pemangku kepentingan secara masif agar Geopark Danau Toba terwujud.

Pembina RE Foundation, Dr RE Nainggolan, MM menyebutkan diskusi pertama mengambil tema “Danau Toba, Apa Kabarmu?”, akan mengusung topik mengenai manfaat Global Geopark Network (GGN), Kaldera Toba dan persyaratan GGN, yang direncanakan digelar Kamis ini, 26 Juni 2014 pukul 14.00 hingga 17.00, di Kantor Perwakilan Harian Umum Kompas, Jl Wahid Hasyim No.37, Medan.

“Pembicaranya Ketua Tim Percepatan GGN Kaldera Toba di Sumatera Utara,  Shabrina yang juga Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Sumut, dan Ketua Tim GGN Kaldera Toba Pusat (di Jakarta).

Hinca Panjaitan ditunjuk sebagai moderator, kata RE Nainggolan, Minggu (22/6). Peserta diskusi sangat terbatas, sekitar 30 orang dan hanya yang memiliki undangan yang bisa masuk.

Menurut RE Nainggolan, peserta antara lain dari unsur pemerintah, pemerhati Danau Toba, LSM, mahasiswa, unsur masyarakat, akademisi serta Bappeda Sumut dan Bappeda kabupaten kota sekitar Danau Toba. “Undangan sudah mulai disebar, ini masih awal, dan akan kita buat secara berkala, dengan tujuan utama, menjadikan Danau Toba menjadi GGN,” jelasnya.

Para ahli, terutama dari luar negeri, memperkirakan Geopark Kaldera Toba merupakan  produk letusan gunung api besar yang terjadi 74.000 tahun lalu. Akibat letusan Gunung  Api Toba, terbentuk kaldera yang terisi air hujan yang kemudian dikenal sebagai Danau Toba.

Danau Toba ternyata merupakan sebuah mahakarya kedahsyatan fenomena alam. Banyak yang  bisa dipelajari dari kawasan Danau Toba, dan tidak terbatas hanya mengagumi  keelokannya. Sampai saat ini, sudah banyak geopark ditetapkan UNESCO, namun di Indonesia saat ini, baru Danau Batur, Bali, yang ditetapkan sebagai GGN. Dari berbagai aspek, kita berkeyakinan bahwa kawasan Danau Toba juga memenuhi syarat untuk menjadi GGN UNESCO yang kedua di Indonesia.

Dengan menjadi geopark dunia, Kaldera Toba akan memiliki fungsi konservasi, edukasi dan  pengembangan masyarakat melalui kegiatan pariwisata yang berkelanjutan. Kondisi Danau Toba memang harus ditingkatkan menjadi lebih  baik lagi. Dengan menjadi GGN, akan ada perbaikan karena menjadi milik dunia. Seperti dinyatakan oleh Presiden Yudhoyono sendiri, Geopark Kaldera Toba tak hanya  menjadi ikon pariwisata tetapi juga pendidikan.

“Geopark Kaldera Toba dapat menjadi sumber pembelajaran dan kajian masa lalu. Saya  berharap kawasan wisata ini dapat memunculkan hasil penelitian baru terhadap misteri  masa lalu,” ujar Presiden SBY saat meresmikannya.

Namun, perjuangan mewujudkan Danau Toba sebagai GGN Unesco masih memerlukan beberapa prasyarat, antara lain infrastruktur, kesiapan masyarakat, dukungan pemerintah daerah dan pusat serta semua stakeholder. Perlu upaya yang serius dan berkelanjutan dari semua pihak untuk mendorong proses ini.

“Memang sudah banyak pihak yang menyuarakan dukungan terhadap Danau Toba sebagai GGN Unesco, tapi akan lebih baik lagi jika semua kekuatan yang ada disinergikan dengan membuat diskusi berkala untuk mendorong pemerintah, Unesco dan pihak yang terkait agar segera mewujudkannya. Ini memerlukan dukungan yang kuat dan konsisten dari media massa yang berpengaruh untuk menggalang opini, menyosialisasikan gagasan ini kepada masyarakat dan mendorong pemerintah memberi atensi sepenuh hati serta Unesco secepatnya menetapkan Danau Toba sebagai GGN Unesco,” papar RE Nainggolan. (BS/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru