Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 12 September 2026

Anggaran Rp 95 T, Menhan Fokus Antisipasi Konflik Laut China Selatan

- Selasa, 22 September 2015 15:28 WIB
337 view
Anggaran Rp 95 T, Menhan Fokus Antisipasi Konflik Laut China Selatan
SIB/Ant/Akbar Nugroho Gumay/a
PEMBAHASAN ANGGARAN KEMENHAN: Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (tengah) berjabat tangan dengan Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya disela istirahat rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/9). Rapat itu membahas anggaran Keme
Jakarta (SIB)- Kementerian Pertahanan kembali rapat dengan komisi I DPR membahas anggaran untuk tahun 2016 yang sebesar Rp 95,91 triliun. Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan anggaran itu akan difokuskan untuk perbaikan landasan di Natuna.

"Pembelian pesawat belum jadi prioritas, bukan tidak jadi, tapi ditunda. Yang penting hadapi situasi yang memanas di Laut China Selatan. Bagi kami nggak masalah dengan AS dan China, tapi sebagai negara besar (Indonesia) belum ada apa-apanya," ucap Ryamizard usai rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/9).

Menhan mengatakan kekuatan alutsista Indonesia sudah lumayan dengan adanya kapal laut dan pesawat. Namun terpenting adalah landasan untuk operasional alat tempur menghadapi sengketa di Laut China Selatan.

"Landasan yang penting, pesawat itu kan menghisap. Kalau krikil kehisap (pesawat) kan pecah mesinnya. Lalu nanti prajurit di pulau, bisa lihat kalau pakai drone yang bagus 50-60 Km bisa dilihat," ujarnya.

"Kalau hercules nggak masalah, batu bisa mental. Harus bisa landasan pesawat tempur dan pemburu. Lampu-lampu kita perbaharui, radar yang baru kita taruh di atas, drone juga. Lalu dihanggar, kapal ada tempat sandar, patroli agak pisah," imbuhnya soal beberapa perbaikan landasan itu.

Menhan menuturkan sudah meninjau kondisi pertahanan di Natuna, dan disimpulkannya belum memadai. Dia menyebut tidak ada masalah dengan Amerika dan China, tapi masalah itu muncul dari negara tetangga yang mengklaim pulau-pulau Indonesia.

"Yang tidak ada urusan (dengan Laut China Selatan) kan Singapura, Indonesia dan Myanmar. Tapi kalau Malaysia dan Brunei ada, Filipina dan Vietnam ada urusannya. Yang netral kan Indonesia dan Thailand, tapi ada yang berpihak ke Amerika dan China. Kalau blok-blok gitu bisa perang," ucap Ryamizard. (detikcom/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru